Tahun 2024, Ekspor Komoditas Perkebunan Capai Rp1.000 Triliun

0
46
Pekerja dan Kebun Karet (foto: Kemenperin)

Kementerian pertanian (Kementan) akan meningkatkan tiga kali lipat ekspor  komoditas perkebunan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, perkiraan nilai ekspor komoditas perkebunan pada tahun 2024 mencapai Rp1.000 triliun.

Hal itu terlontar saat Kementan menggelar pertemuan dengan beberapa pememimpin perusahaan dan eksportir di kantor Kementan, Rabu (8/1/2020). Pertemuan tersebut membahas akselerasi gerakan tiga kali ekspor (Geratieks) di sektor perkebunan.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Kasdi Subagyo mengatakan pemerintah sudah menetapkan target jangka panjang, yakni peningkatan capaian hingga Rp1.000 triliun ekspor di tahun 2024. Kemudian angka produksi yang ditargetkan naik sebesar 7% serta PDB sebesar 35%.

“Ini sudah punya target. Jadi 5 tahun ke depan pertumbuhannya harus lebih dari 3 kali lipat. Kita akan menaikan produksinya dan memiliki dampak terhadap penyerapan lapangan kerja serta PDB pertanian,” ujar Kasdi.

Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 155 dari pimpinan perusahaan dan eksportir . Terdapat  25 orang dari Dewan Komoditas  Perkebunan dan Asosiasi Pengusaha/Eksportir, Menteri Pertanian serta para eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian.

Perusahaan dan eksportir yang hadir diantaranya 26 perusahaan sawit, 13 perusahaan kopi, 10 perusahaan kakao, 12 perusahaan kelapa, 18 perusahaan karet, 18 perusahaan rempah, 7 Perusahaan minyak atsiri 2 perusahaan mete dan perusahaan perkebunan yang lainnya.

Terdapat tujuh Komoditas utama perkebunan yang akan dioptimalkan produksinya karena berpotensi ekspor diantaranya karet, cokelat, kopi, kelapa, lada, pala.dan vanili. Sampai 2024, pertumbuhan tujuh komoditas tersebut minimal 300%

“Untuk kopi, kami berani patok kenaikan 400% karena potensi besar, lalu kakao dan kelapa juga demikian,” kata Kasdi

Berdasarkan data BPS tahun 2018 komoditas perkebunan berkontribusi terhadap PDB nasional mencapai Rp 489, 25 triliun, dengan nilai ekspor mencapai 27,9 miliar dolar AS atau sebesar Rp 402,6 triliun.

Selain itu, ekspor perkebunan berkontribusi sebesar 97,4% dari sisi volume terhadap total volume ekspor komoditas pertanian tahun 2018, dan berkontribusi sebesar 96,9% dari sisi nilai terhadap total nilai ekspor komoditas pertanian tahun 2018.

Selain itu, Mentan SYL mengatakan dalam lima tahun ke depan ia berserta jajarannya akan membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing produksi pertanian. “Izinkan saya ikut campur di bawah, teknis dari yang ditanam karena kalau bapak tidak tanam enggak mungkin bisa ekspor,” ujar  SYL.

Menurut SYL, eksportir harus memiliki  tanggung jawab dalam meningkatkan produktivitas suatu komoditas untuk mendorong ke tiga kali lipat ekspor. Dalam hal ini, pemerintah siap menjadi partner para eksportir dalam pendekatan di hulu untuk melakukan pengembangan produk–produk khusus komoditas pertanian kemudian bagaimana membudidayakannya atau menjaganya sampai dengan cara pengolahan.

“Perkebunan kita punya prospek yang luar biasa apalagi kita negara tropis yang memiliki komoditas spesifik. Kalo begitu, itu kita benahi dari  katakanlah dipenanamannya. Tentu saja tidak hanya dengan tangan pemerintah tapi bersama,” tegasnya.

Kemudian, ia juga berpendapat bahwa perbaikan mekanisme, sistem dan komunikasi perlu ditingkatkan untuk mencapai target ekspor tiga kali lipat.  Pemerintah melakukan penguatan jaringan dan fasilitas ekspor, serta aksistensi yang  mengarah terkait capaian target tiga kali ekspor itu. Kemudian para pengusaha dan masyarakat melakukan pengembangan penanaman dari  bibit hasil penelitian litbang pertanian.

“Pemerintah tidak bekerja sendiri, harus dibantu dengan pemikiran stock holder dan eksportir lainya, kita akan coba melakukan networking pada kementerian-kementerian terkait  terutama kementerian luar negeri  untuk mencoba menanggulangi kendala ekspor dan akan melakukan pendekatan,” tambah SYL.

Atiyyah Rahma