Pengawet Kayu dari Biji Sirsak Dikembangkan

0
45
Peneliti Muda P3HH Wa Ode Muliastuty Arsyad

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK) sedang mengembangkan bahan pengawet kayu organik. Riset ini untuk menjawab tuntutan pasar ekspor yang menginginkan produk-produk kayu ramah lingkungan.

Peneliti Muda P3HH Wa Ode Muliastuty Arsyad menuturkan Indonesia memiliki banyak jenis kayu komersial. Namun dari sekitar 4.000 jenis kayu di Indonesia, hanya sekitar 15% yang dimasukan dalam kelas I dan II, kelas yang mengkategorikan kayu dengan tingkat keawetan tinggi. Sementara sisanya justru banyak masuk dalam kelas III, IV, dan V.

Sudah begitu, kayu dengan kelas I dan II kini semakin berkurang. Kalaupun ada, harganya mahal. Sedangkan kayu dari hutan tanaman yang bisa diproduksi dalam jumlah besar sangat rentan terhadap organisme perusak. “Makanya harus diawetkan,” kata WA Ode saat saat peluncurkan saat peluncuran Forpro, sebuah strategi penjenamaan (branding) untuk memasarkan produk iptek hasil hutan di Jakarta, Senin (24/2/2020).

Ada sejumlah organisme perusak kayu. Dari jenis jamur, ada jamur pewarna, jamur pelapuk, dan jamur pelunak. Sementara dari jenis serangga, beberapa diantaranya adalah rayap tanah, rayap kayu kering, serangga bubuk kayu kering, dan kumbang ambrosia. Di perairan, organisme pengerek kayu juga ada dari jenis crustacea dan molusca.

Organisme perusak kayu itu memicu kerugian yang sangat besar. Riset yang pernah diungkap peneliti P3HH menemukan kerugian finansial untuk mengganti kayu bangunan yang rusak karena pelapukan oleh jamur saja, dapat mencapai Rp17 triliun per tahun.

Wa Ode menjelaskan, untuk mengawetkan kayu ada sejumlah cara yang umum dilakukan. Mulai dari pelaburan, rendaman dingin, rendaman panas, maupun menggunakan vakum tekan. Dari praktik yang telah dilakukan, teknik pengawetan kayu berhasil menjaga kayu dari kerusakan. “Yang paling efektif adalah metode vakum tekan,” katanya.

Dia mencontohkan, kayu agathis untuk pal batas di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Barisalo Makasar yang diawetkan dengan teknik rendaman panas, masih utuh sejak dipasang pada tahun 1995 hingga tahun 2014. “Ada juga rumah yang dibangun dengan kayu sengon di Bogor yang masih utuh sejak dibangun tahun 1965. Kayu sengon diawetkan dengan metode vakum tekan,” kata Wa Ode.

Saat ini bahan pengawet kayu umumnya menggunakan cairan kimia, boron. Namun, pasar global saat ini menuntut produk yang lebih ramah lingkungan dengan penggunaan bahan sintetis yang minimal.

Untuk itu, kata Wa Ode, P3HH sedang melakukan penelitian bahan-bahana pengawet kayu dari bahan organik. “Tantangan ekspor saat ini adalah green product yang berasal dari alam,” katanya.

Beberapa jenis pengawet yang sedang dikembangkan adalah asap cair dari limbah biomassa. Ada tiga jenis limbah biomassa yang sedang diteliti yaitu dari bambu, sengon, dan sawit. Dari hasil ujicoba, bahan pengawet organik tersebut mampu meingkatkan kelas awet kayu karet dari kelas V ke kelas II. “Kami coba berbagai metode. Ternyata dengan menggunakan vakum tekan, penggunaan asap cair bisa meningkatkan keawetan kayu karet dari kelas V ke kelas II,” katanya.

Wa Ode melanjutkan, penggunaan asap cair dan metode vakum tekan sangat efektif sehingga tingkat mortalitas rayap bisa mencapai 100%. “Jadi ini memang sangat menjanjikan untuk dikembangkan,” katanya.

Selain asap cair, P3HH juga sedang meneliti pengawet dari ekstrak batang, kulit, akar, dan biji tanaman. Ekstrak batang dan akar yang diteliti adalah tanaman tuba, sementara ekstrak dari kulit diambil dari sawit, dan ekstrak biji dari tanaman annonaceae (sirsak). “Saat ini masih dalam tahap pengembangan, mudah-mudahan aplikasinya bisa optimal,” katanya.

Selain bahan pengawet, P3HH kini juga sedang mengembangkan pengawetan kayu dengan teknologi masa depan, yaitu teknologi nano (nano preservative). Memanfaatkan teknologi ini maka bahan pengawet bisa lebih masuk ke dalam kayu sehingga meningkatkan keawetannya.

“Semain kuat penetrasi ke dalam kayu, semakin bagus,” kata Wa Ode.

Sugiharto