Pengusaha Muda Pertanian Tingkatkan Ekonomi Nasional

0
779

Sasaran Mentan Syahrul Yasin Limpo, yang menargetkan hadirnya jutaan pengusaha milenial di sektor pertanian, dinilai bakal berdampak positif terhadap perekonomian nasional.

“Untuk itu harus didukung demi kepentingan ekonomi bangsa Indonesia. Syaratnya, Pak Syahrul juga harus bersedia menggandeng pihak yang berkompeten dalam bidang kewirausahaan,” ujar Ketua BPO HKTI, Osman Sapta Odang, Jumat (28/2/2020).

Menurut Osman Sapta, tumbuhnya mayoritas pengusaha muda yang berminat di sektor pertanian akan mampu memperkecil angka pengangguran di Tanah Air. Itu sebabnya, kata Osman Sapta, hal tersebut menjadi dukungan baik kepada pemerintah guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui pertanian yang dikenal sebagai andalan profesi utama masyarakat.

“Indonesia jadi punya generasi muda yang mandiri. Apalagi, jarang-jarang bidang pertanian itu disukai generasi muda. Sumber daya manusia Indonesia bisa jadi pencipta,” kata pengusaha sekaligus pemilik bisnis OSO Group ini.

Syahrul Yasin Limpo diketahui telah kerap menyampaikan komitmennya untuk melahirkan 2,5 juta pengusaha milenial sektor pertanian selama lima tahun ke depan pemerintahan Presiden Jokowi.

Agar dapat merealisasikan hal itu, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, akan mendorong pemanfaatan teknologi, sehingga menarik minat generasi milenial. Selain itu juga memperbanyak pelatihan ekonomi pertanian menyasar generasi milenial.

Sukses Jadi Agripreneur

Deeng Sanyoto, Head of Partnership and Social Impact Tanihub Group — Start Up Teknologi Pertanian — mengingatkan  situasi  agribinis pertanian di Tanah Air yang menuju fase kritis menjadi tanggung jawab bersama.

Dia menyebutkan, sebagai negara agraris, Indonesia dengan sekitar 260 juta jiwa penduduknya membutuhkan pasokan produk pertanian yang memadai sepanjang tahun.

Atas hal ini, Michael Jovan, sebut Deeng — mahasiswa Business Information System BINUS Internasional — bersama kawan-kawannya tergerak membangun TaniHub di tahun 2016 yang menyoroti hasil panen petani tomat yang hanya dihargai Rp600/kg. Padahal, harga di pasaran mencapai 10 kali lipat, yang notabene justru dinikmati tengkulak dan pedagang.

Deeng menegaskan, sentuhan inovasi teknologi harus hadir guna memutus mata rantai distribusi produk pertanian yang tidak efisien. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi kuat dari pemangku kepentingan, regulator dan dunia usaha serta akademisi.

“Kami percaya dalam membangun pertanian itu semua orang harus terlibat. Karenanya, salah satu tagline yang kami buat adalah ‘agriculture for everyone’. Termasuk para milineal. Ketika bangga membeli produk petani negeri sendiri, maka Anda pun menjadi bagian dari petani,” ujar Deeng dalam Talkshow with Millennial & Agriprenerur — Peluang Bisnis Generasi Milenial Pada Sektor Pertanian, di Serpong,Tangerang Selatan, Selasa (25/2/2020).

Bukan hanya membantu masyarakat memperoleh produk pertanian, TaniHub juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. Hingga kini, TaniHub sudah menjalin kemitraan dengan 30.000 petani yang tergabung dalam hampir 1.000 kelompok tani.

Selain sebagai platform e-commerce yang menjual hasil tani, sambung Deeng, TaniHub juga memiliki unit bisnis lainnya, yakni TaniFund sebagai fintech pendanaan bagi mitra petani. Menurutnya, pinjaman yang disalurkan sudah mencapai sekitar Rp80 miliar.

Adapun lini bisnis teranyar bernama TaniSupply yang terfokus kepada pengelolaan rantai pasok. “Kita bergerak mulai dari hulu, mulai mengirimkan agronomis untuk mendampingi  petani untuk menanam. Kita memberikan modal. Sudah seharusnya petani memikirkan kualitas  hasil pertanian agar sesuai spesifikasi, ukuran dan kebutuhan konsumen,” terangnya.

Menurutnya, inefisiensi lini agribisnis terjadi karena lossses paska panen yang mencapai 24%. Karenanya, TaniHub membangun warehouse dari grading hingga quality assurance. Untuk itu, TaniHub pun memiliki sarana berupa alat yang mampu mengukur kadar kemanisan buah sehingga mampu memenuhi selera konsumen.

Bukan hanya memfasilitasi petani dengan konsumen ritel, TaniHub juga mencarikan pengembangan pasar segmen hotel, restoran dan katering (horeka).” Dari hotel seperti Ibis, McDonald sampai warteg pun membeli produk petani dengan memanfaatkan e-commerce,” katanya.

Binus Incubator Coach, Gatot Hendra Prakoso mengakui, umumnya pebisnis pemula bingung mencari ide untuk jenis usaha mereka. Bahkan, yang terjadi lebih banyak fokus pada diri sendiri dan melihat hanya di sekitar lingkungan mereka.

“Banyak pebisnis pemula yang memperebutkan ‘kue’ tidak terlalu besar. Tapi ‘kue’ yang besar tidak dilirik, seperti bidang pertanian. Padahal, sebagai negara agararis, pertanian potensinya besar,” tuturnya.

Gatot juga melihat, masalah lain generasi milenial adalah komunikasi. Padahal, untuk menjadi pengusaha yang sukses, komunikasi menjadi ruang penting dalam mencari peluang bisnis. “Penyakit anak muda sekarang, lebih banyak ngomong pakai jempol (ponsel) dibandingkan pakai verbal. Jempol ternyata lebih aktif,” ujarnya.

Karena itu, Gatot menyarankan agar generasi muda yang ingin terjun ke dunia usaha jangan hanya melihat sekitarnya, tapi mulai menengok keluar. Jadi, kuncinya, banyak mendengarkan apa yang terjadi di dunia luar.

“Dunia anak muda sekarang ini susah mendengarkan. Kita ingin agar anak muda lebih banyak mendengar. Observasi harus banyak dilakukan untuk mengetahui kebutuhan orang. Di sekitar kita perlu apa, termasuk produk pertanian,” tuturnya.

Kunci lainnya, menurut Gatot, adalah empati. Generasi muda harus melihat dengan mata orang lain, mendengarkan orang lain dan merasakan dengan perasaan orang lain. Pebisnis yang hebat harus mampu membuat asumsi, kurangi keinginan untuk menghakimi dan cara pandang yang bias.

Gatot mengakui, hal itu memang susah. Sebab, kebiasaan entrepreneur pemula hanya jatuh cinta pada ide sendiri. Padahal, keberhasilan start up atau usaha rintisan seperti Tanihub, Gojek dan Kitabisa.com merupakan hasil empati.  “Jadi, saya ingatkan kurangi individual dan lebih melihat keluar,” ujarnya.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan, sektor agribisnis pertanian tetap menjanjikan bagi generasi milineal. “Kalau dibilang pertanian itu bukan pekerjaan menjanjikan bagi milenial, justru terbalik. Sektor pertanian kita cukup baik. Kita lihat dari neraca perdagangan yang positif dengan kontribusi besar dari sektor pertanian,” ujar Boga.

Kementan sendiri tengah mengembangkan pusat data berbasis teknologi yang bernama Agriculture War Room (AWR). Fasilitas ini mampu menyajikan single data mengenai lahan dan produksi serta melakukan kontrol terhadap pembangunan pertanian. “Pertanian sekarang bukanlah sektor yang dianggap rendah tetapi sektor yang menjanjikan,” katanya. HMS