Gotong Royong Kelola Sampah

0
90
Penggiat Pengelolaan Sampah, Ramalis Sobandi

Pengelolaan sampah menjadi persoalan serius di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menghitung jumlah timbulan sampah di Indonesia dalam setahun sekitar 67,8 juta ton, dan akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Persoalan pengelolaan sampah akan makin pelik jika sampah tersebut adalah sampah plastik dan bahan yang tidak bisa terurai secara alami.

Lewat Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017, pemerintah menargetkan mampu mengelola 100% sampah pada 2025. Angka itu meliputi pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan atau pengelolaan sampah sebesar 70%.

Agar target tersebut berhasil, ada dua komponen penting yang mesti ditegakan dalam mengatasi persoalan sampah. Pertama, mengurangi sampah sejak dari sumbernya seperti rumah tangga, kantor, dan sekolah; serta menangani sampah yang sudah ada dengan cara dikelola seperti daur ulang.

Keberhasilannya, sangat ditunjang oleh kesadaran masyarakat. Yang jadi soal, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah masih rendah. Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mengeluarkan indeks ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup, di mana salah satu indikatornya soal sampah plastik, ternyata 72%  masyarakat tidak peduli.

Melihat situasi tersebut, penggiat pengelolaan sampah Ramalis Sobandi tak henti-henti mengajak semua orang untuk mengurangi timbulan sampah dan mengelolanya. Menurut dia, persoalan sampah plastik bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan seluruh masyarakat Indonesia. Setiap orang mampu dan harus berkontribusi dalam menekan tingginya sampah plastik.

Ramalis optimistis setiap masyarakat mampu berkontribusi dengan hal-hal yang mungkin dianggap kecil, tetapi memiliki dampak besar jika dilakukan secara massal dan konsisten.

“Pilah sampahnya, didaur ulang, kalau bisa ya dipakai, kerja sama dan gotong royong, hanya itu yang dapat menangani masalah sampah. Jangan tunggu menteri, presiden, gubernur, wali kota. Kita harus kerja bareng-bareng,”  kata peneliti persoalan perkotaan jebolan Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, itu.

Untuk tahu ide-ide menariknya dalam mengelola sampah perkotaan, berikut petikan wawancara Agro Indonesia dengan Ramalis beberapa waktu lalu:

Sampah jadi salah satu persoalan besar di Indonesia saat ini. Menurut Anda, bagaimana solusinya?

Masyarakat harus ikut mendukung upaya pengurangan dan pengelolaan sampah. Mulai dari diri sendiri. Kalau saya usul, dan selalu saya lakukan, berjanji pada diri sendiri saat bangun pagi. Tidak pakai botol kemasan, tidak pakai sedotan. Untuk mama-mama muda yang baru punya anak, jangan pakai popok sekali pakai.

Kemudian kalau terpaksa membeli sesuatu dengan bahan yang tidak bisa terurai, pilih yang bukan plastik. Kalau bisa bukan styrofoam, karena itu yang paling parah (dampaknya).

Untuk sampah organik bagaimana?

Bisa dibuat eco enzyme. Ini bahan pembersih yang ramah lingkungan untuk menggantikan sabun detergent. Caranya, kita kan suka makan buah, mangga, apel, pepaya, nah kulitnya jangan dibuang. Kumulkan, kemudian tempatkan di botol kaca. Kasih gula, kasih heist atau fermipan, itu ragi untuk roti. Sedikit saja.  Nantinya bisa untuk cucui piring atau cuci-cuci lain, sehingga penggunaan detergent makin berkurang. Kalau sudah bisa, sebarkan informasinya lewat media sosial, biar makin banyak yang bisa melakukannya.

Setiap ketemu orang, sampaikan untuk kurangi dan kelola sampah. Pilah, daur ulang, pakai. Kita harus kerja sama dan bergotong royong. Hanya gotomg royong yang bisa membuat kita menyelesaikan persoalan sampah. Jangan tunggu menteri, jangan tunggu presiden, atau walikota. Ini kerja bareng.

Sampah organik bekas makanan kan bisa terurai kalau dibuang. Mengapa mesti dikurangi dan dikelola sendiri juga?

Nah ini… Kita mesti tahu kalau Indonesia itu adalah salah satu negara yanag senang banget membuang makanan.  Sekitar 40% makanan kita dibuang jadi sampah, dibuang ke TPA. Ini masalah. Pertama, produksi pangan sia-sia. Produksi pangan yang berlebihan dan disia-siakan akan menumbang gas rumah kaca (GRK) yang berdampak pada perubahan iklim.

Saya dulu diingatkan ayah. Ketika memilih calon suami, lihat caranya makan. Jika tidak dihabiskan, jauhi. Berarti orang itu rakus. Matanya lebih laar dari perutnya. Kalau sedikit, tapi nambah, juga harus dijauhi, karena tidak mampu mengukur diri. Jadi ada filosofinya.

Nah sekarang, ambil makanan secukupnya. Habiskan. Jangan nyampah. Kalau ada kegiatan, panitia jangan menyediakan makan menggunakan box. Karena orang yang makannya sedikit, pasti bersisa, akhirnya terbuang.

Kita harus mengurangi sampah dari sumbernya. Bagaimana praktiknya di tingkat rumah tanga?

Yang pertama, pisahkan organik dan non organik. Sekitar 40% sampah rumah tangga adalah organik. Nah kalau bisa ini jangan sampai keluar pagar. Jadikan kompos, eco enzyme, pakan ternak atau bahan biodigester.

Sampah daun, rumput, jangan dibuang. Jadikan kompos. Sampah dapur, kotoran ayam, kotoran kambing, bisa jadi kompos. Yang ngga bisa itu kotoran anjing dan kucing, karena omnivora.

Pengomposan memang butuh waktu. Dulu bisa sampai 6 bulan. Tapi sekarang ada cara untuk mempercepat sehingga dalam 2-3 minggu sudah jadi kompos. Caranya, gunakan ragi, mikroorganisme. Komposting yang sebelumnya berbulan-bulan, bisa kita selesaikan dalam 3 pekan. Bisa jadi media tanam.

Yang paling celaka memang sampah kresek, sachet kopi, permen, dan kemasan lain. Kita bisa guna ulang. Kalau ketemu botol bekas, jangn ditendang. Bawa pulang. Kumpulkan. Kita isi dengan sampah kemasan hingga padat. Bisa jadi eco brick, untuk gapura, pembatas jalan, bahkan bangunan. Jangan di bakar. Karena jika dibakar bahaya. Kita tidak tahu gas yang dihasilkan beracun atau tidak.

Sugiharto