Jadi Petani Bisa Kaya dan Sejahtera

0
3005
Duta Petani Milenial, Gestianus Sino

Menjadi pegawai kantoran bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang bergengsi. Pakaian rapi, jam kerja teratur dan penghasilan (gaji) yang diterima memadai.

Tetapi semua itu tidak berlaku bagi Gestianus Sino. Meskipun awalnya dia merupakan tenaga honorer di Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun anak milenial justru tak merasakan kepuasan kerja  kantoran. Dia  banting setir menjadi petani sekaligus pengusaha dalam budidaya hortikultura dengan mengembangkan konsep pertanian organik terpadu.

Pemuda asal Kampung Detukopi, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka ini dalam kesehariannya menjadi Ketua Pusat Pelatihan Pertanian PerdesaanSwadaya (P4S) GS Organik Matani, yang dibina Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan).

Gestianus Sino yang akrab disapa Gesti, adalah petani organik NTT yang mengembangkan konsep pertanian terpadu di atas lahan seluas sekitar 1.000 m2 di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Tahun 2011 dia membeli lahan dengan modal yang dipinjam dari salah satu koperasi. Saat itu, status Gesti sebagai pegawai honor di Dinas Pertanian Propinsi NTT.  

Pria kelahiran 22 April 1983 meninggalkan pekerjaan yang dianggap nyaman bagi kebanyakan orang NTT dan memulai usaha baru dengan bertani. Awalnya, Gesti berpendapat, jika kerja di tempat lain mendapatkan gaji Rp 1 juta-Rp 2 juta setiap bulan. Namun setelah pulang ke rumah penghasilan itu harus dibelikan untuk kebutuhan seperti lombok, sayur, jagung, pepaya, ikan, telur dan lain sebagainya. Untungnya harga-harga di kampung masih relatif murah. Sementara untuk kebutuhan lain dipenuhi dari usaha tani sendiri.

Apa yang dilakukan Gesti ini sejalan dengan tekad Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian yang telah meluncurkan Penumbuhan dan Penguatan Petani Millenial 2019.

Program ini melibatkan satu juta petani milenial yang tergabung dalam 40 ribu kelompok petani di seluruh Indonesia. Generasi milenial terus menjadi target untuk mendongkrak kualitas SDM Pertanian.

Bapak satu anak ini adalah Lulusan Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana, Kupang, lulus tahun 2011. Walaupun sempat menjadi karyawan honorer di dinas, namun akhirnya Gesti memilih jadi petani.

Menurut dia, jadi petani bisa jadi kaya dan sejahtera. Berikut wawancara Agro Indonesia dengan Gestianus Sino, Duta Petani Muda Indonesia.

Apa yang mendorong Anda memilih jadi petani?

Ini adalah panggilan hati. Dulu orang bertani karena keturunan. Sekarang saya sendiri memilih jadi petani. Saya memutuskan untuk meninggalkan status pegawai honor dan mulai menggarap lahan dengan menanam pepaya california.

Apa yang Anda lakukan setelah menanam papaya itu?

Saat pepaya mulai bertumbuh besar, saya melihat air yang dipakai untuk menyiram pohon pepaya terbuang percuma. Kemudian saya berpikir untuk memanfaatkan airitu dengan membuat bedengan sayur di celah-celah pepohonan. Setelah itu saya menanam sayuran.

Tanam sayuran apa untuk dijual?

Terus terang pada awalnya, tanam sayuran bukan untuk bisnis/dijual, tetapi untuk kebutuhan rumah saja. Namun dalam perjalanan, saya  melihat hasil tanamannya mempunyai kualitas yang bagus dan layak dipasarkan untuk kebutuhan konsumen.

Pada saat yang sama banyak orang yang mencari sayur organik. Akhirnya tahun 2014,  saya  menanam tanaman horti dan sayur-sayuran untuk kebutuhan bisnis.

Saya mulai melakukan pengembangan usaha tani dengan membedakan mana sayur yang tidak dijual di pasar dan punya nilai ekonomi tinggi. Akhirnya saya tanam yang punya nilai ekonomi tinggi seperti  brokoli, lobak, dan beat.

Untuk lahan yang masih tersisa saya mengembangkan pertanian terpadu dengan menggabungkan ikan lele, ayam kampung, ternak kambing, dan aquaponik dalam satu lahan. Hasilnya dijual dan kebun tersebut dijadikan sebagai sekolah pertanian.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pertanian organik?

Saya membangun pertanian organik terpadu karena cocok diterapkan di NTT. Dengan pertanian organik, saya bisa menyediakan pangan yang sehat dan mendukung kemandirian petani.

Sekarang ini masyarakat, sudah membutuhkan pangan yang sehat. Ini terkait dengan input. Bahan-bahan kimia berseliweran di sekitar kita. Apakah itu pupuk kimia, herbisida dan sebagainya.

Hal tersebut membuat daya tahan dan kualitas hidup kita menurun. Makanya saya konsisten dengan pertanian organik dan saya  salah satu dari sedikit pegiat pertanian yang mendapat sertifikat organik.

Berapa omset penjualan anda?

(Mendengar pertanyaan ini, Gesti semula hanya tersenyum) Tidak banyak. Omset penjualan saya sekitar Rp232 juta/tahun

Selain itu saya sudah  memiliki sejumlah karyawan. Membuka kantor konsultan pertanian. Saya juga dipercaya untuk menjadi suplier  sayuran dan buah organik untuk swalayan, hotel dan perumahan-perumahan yang ada di Kota Kupang. Saya juga ada pelanggan-pelanggan di kantor dinas dan punya grup penjualan online.

Dari usaha pertanian tersebut, Anda dinobatkan sebagai Duta Petani Muda Indonesia, tahun berapa?

Iya, benar sekali. Gelar Duta Petani Muda Indonesia itu disematkan pada Desember 2018. Tahun 2020 saya dikukuhkan menjadi Petani Milenial Provinsi NTT oleh Kementerian Pertanian.

Sebagai petani milenial, saya, merasa prihatin jika melihat lahan pertanian tidak dimaksimalkan. Apalagi tidak dimanfaatan, lahan pertanian itu sebenarnya sumber kehidupan

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani,  maka lahan itu lama kelamaan habis karena beralih fungsi. Tidak benar doktrin negatif yang menyebutkan bertani sulit kaya.

Menurut Anda bertani bisa kaya?

Sangat bisa!! Sukses kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh dan tekun Sayang kalau sarjana pertanian tapi tidak bertani. Penghasilan saya sebagai petani bisa melebihi gaji PNS.

Selain itu, saya merasakan profesi petani sangat nyaman karena memiliki fleksibilitas waktu, namun tetap berpenghasilan cukup. Kepada pemuda khususnya di NTT, saya sarankan  agar berhenti menggantungkan nasib pada test CPNS.

Jika, untuk jadi PNS saja sulit. Lebih baik berwiraswasta—bertani—misalnya. Saya merasakan usaha tani  bisa mensejahterakan keluarga dan orang lain. Ayo, anak muda, kita bertani.  Ami/Jamalzen