Survei IPB-Cyrus Tunjukkan Mayoritas Pekerja Dukung RUU Ciptaker

0
133

Sebagian besar pekerja dan pencari kerja di Indonesia cenderung tidak menolak RUU Cipta Kerja. Hal ini terlihat  dari  hasil Survei Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Cyrus Network yang menunjukkan tingginya angka persetujuan para pekerja dan pencari kerja terhadap maksud dan tujuan dari RUU Cipta Kerja

“Sebanyak 86% pekerja dan pencari kerja  menyatakan setuju bahwa RUU Cipta Kerja dimaksudkan untuk menciptakan pekerjaan seluas-luasnya. Khusus pada pencari kerja, angka ini melonjak sampai 89%,” kata Prof. Khairil Anwar Notodiputro, Guru Besar Statistika IPB, saat memaparkan hasil survei itu di Jakarta, Jumat (17/04/2020) .

Dia juga menyatakan, hasil survei menunjukkan para pekerja dan pencari kerja juga setuju bahwa RUU ini ditujukan untuk memperbaiki regulasi yang menghambat investasi (82,2% setuju), mempermudah perizinan berusaha (90,2% setuju), serta mempermudah pendirian usaha untuk Usaha Mikro dan Kecil/UMK (86,4% setuju).

Survei bertajuk Persepsi Pekerja dan Pencari Kerja terhadar RUU Omnibus Law Cipta Kerja itu  diselenggarakan oleh Departemen Statistika Institut Pertanian Bogor bekerjasama Cyrus Network bertempat di 10 Kota di Indonesia (Medan, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar) pada 2-7 Maret 2020.

Responden berjumlah 400 orang, terdari dari 200 orang pekerja dan 200 orang pencari kerja.  Survei ini menggunakan teknik purposive sampling yang merupakan bagian dari non probibility sampling.

“Untuk menjamin hasil, metode survei disusun sedemikian rupa sehingga sampel yang terambil merupakan representasi dari populasi,” ujar Khairil.

Menurutnya, hasil survei menunjukkan pekerja dan pencari kerja juga memberikan persetujuan yang sangat tinggi pada beberapa regulasi baru yang diatur oleh RUU Cipta Kerja.

Sebanyak  95,4% setuju bahwa dalam regulasi baru nantinya; disamping pemberian pesangon, perusahaan wajib memberikan penghargaan lain sesuai dengan masa kerja pekerja.

Para pekerja dan pencari kerja juga memiliki pendapat yang positif terhadap RUU Cipta Kerja. Sebanyak 81,2% responden percaya bahwa RUU ini nantinya dapat mendorong produktivitas pekerja. RUU ini juga dianggap pro terhadap pertumbuhan ekonomi (64%), Pro terhadap penciptaan lapangan kerja (72%), pro terhadap Investasi (83,5%), serta pro usaha menengah kecil (58,9%).

Memiliki Tantangan

Kendati mendapat persetujuan yang tinggi dan pendapat yang positif, Khairil menatakan RUU Cipta Kerja masih memiliki tantangan terkait isu negatif dan rumor yang berkembang.

Meski yang tidak percaya lebih banyak (55,1%), namun masih ada 41,1%  responden yang masih percaya bahwa RUU Cipta Kerja bisa membuat pekerja bisa dikontak seumur hidup.

Sebanyak 36,5% responden juga masih percaya RUU ini bisa membuat pengusaha bisa memberhentikan karyawan kapanpun (62% responden tidak percaya).

Sementara itu Head of the Department of Economics, Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai RUU Cipta bisa menjadi salah satu terobosan bagi pemerintah dalam menerapkan reformasi regulasi.
“Reformasi regulasi sangat dibutuhkan dan sekarang momennya karena jika tidak dilakukan, ketika ekonomi global pulih, kita akan tertinggal dari negara lainnya,” ujarnya.

Walaupun begitu, Yose Rizal meminta pemerintah untuk tidak main langsung terobos saja dalam menerbitkan RUU Cipta Kerja. “Harus ada komunikasi yang intens dengan pihak-pihak terkait,” sarannya. Buyung N