APHI Dukung Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Karhutla

0
80
Persiapan misi TMC di Provinsi Riau (foto: BPPT)

Siaga kolaboratif dan langkah preventif menjadi upaya yang harus dilakukan para pemangku kepentingan dalam menghadapi musim kering tahun ini.  Langkah antisipatif yang dipimpin Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) itu sangat ampuh dalam pencegahan Karhutla. 

Berdasarkan pantauan satelit NOAA, dari Januari hingga awal Mei 2020 terdapat 25 hotspot, atau terjadi penurunan 94% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 lalu dimana terdapat 420 hotspot.

Sedangkan jika menggunakan data satelit Terra Aqua, hotspot periode Januari hingga April 2020 sebanyak 746 titik api atau terjadi penurunan hotspot 440 titik (37,1%) dari data hotspot tahun 2019 lalu sebanyak 1.186 titik dengan confidence level ≥ 80%.

Khusus untuk Provinsi Riau, jumlah hotspot tanggal 1 Januari-20 Mei 2020, tercatat 271 titik dengan confident 80-100 %. Jumlah ini menurun bila dibandingkan pada periode sama tahun lalu yang mencapai 503 titik.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Indroyono Soesilo, menyampaikan apresiasi atas  upaya bersama untuk  mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya di lahan gambut melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan KLHK  bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan instansi lainnya serta  mitra kerja, temasuk anggota APHI. Upaya tersebut, katanya, berkontribusi  positif  menekan laju karhutla dan mengurangi titik api (hotspot) sampai dengan bulan Mei 2020 ini.

“Terima kasih kepada KLHK dan BPPT serta instansi terkait lainnya, atas langkah dan upaya untuk mengurangi hot spot melalui rekayasa hujan dengan aplikasi TMC.  APHI dan anggotanya mendukung penuh upaya tersebut, khususnya untuk mempertahankan kebasahan lahan gambut,” imbuh Indroyono, Sabtu (30/5/2020).

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto menjelaskan, aplikasi TMC paling tepat dilakukan pada saat periode peralihan musim hujan ke musim kemarau karena pada periode tersebut bibit awan masih banyak. Dalam konteks ini, keberhasilan hujan buatan ini tentunya juga tidak terlepas dari ketergantungan terhadap ketersediaan awan yang diberikan oleh alam.

“Artinya jika awannya banyak, kita juga akan dapat menginkubasi lebih banyak dan otomatis akan menghasilkan hujan yang lebih banyak juga, begitupun sebaliknya. Disinilah pentingnya rekomendasi BMKG” ujar Seto.

Sebagai bagian dari kerja sama dengan KLHK untuk mendukung upaya pembuatan hujan buatan di pulau Sumatera, BPPT telah menyiapkan 28 ton garam NaCl sebagai bahan semai  selama 19 hari mulai 13-31 Mei 2020 di provinsi Riau dan mulai tanggal 2 Juni  akan dilanjutkan  selama 15 hari di Sumsel.

Menurut Seto, operasi penerapan TMC untuk Provinsi Riau ini merupakan kelanjutan dari  operasi yang dilaksanakan 11 Maret sampai 2 April 2020.”Sampai dengan tanggal 25 Mei, total  penerbangan untuk misi TMC  mencapai  22 jam, dengan penggunaan bahan semai sebanyak 8,8 ton. Aplikasi  TMC ini menghasilkan 33,8 juta m3 air hujan, dan hasilnya dalam beberapa hari  terakhir tidak terpantau ada hotspot di wilayah Riau,” kata Seto.  

Lebih lanjut Seto menjelaskan bahwa TMC ini amat berguna untuk aplikasi kehidupan sehari-hari yang bergantung pada faktor alam/cuaca. “TMC bisa diaplikasikan untuk mitigasi bencana banjir seperti yang dilakukan di wilayah Jabodetabek, selain itu juga terbukti dapat mencegah dan mengatasi karhutla, pengisian waduk untuk sarana irigasi dan pembangkit listrik, membasahi lahan gambut, serta mengatasi masalah kekeringan.  Terkait karhutla, aplikasi TMC semakin efektif jika didukung  upaya–upaya pencegahan dan pemadaman secara kolaboratif oleh para pihak di tingkat tapak,” kata Seto.

Sugiharto