Cetak Sawah Baru di Kepri Tingkatkan Kesejahteraan Petani

0
65

Program cetak sawah yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam beberapa tahun lalu, kini mulai memberikan kontribusi terhadap produksi pangan nasional.

Sebagai contoh di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), tepatnya di Desa Panggak Darat, Kecamatan Lingga. Ada sekitar 100 ha lahan sawah yang merupakan hasil dari program cetak sawah tahun anggaran (TA) 2018.

Lahan tersebut kini sudah 5 kali tanam. Begitu juga lahan cetak sawah di daerah lain, seperti di Papua Barat, Bengkulu, dan lainnya. Memang, tidak semua lahan sawah yang sudah dicetak dimanfaatkan. Ada juga sebagian kecil yang kembali menjadi lahan terlantar atau tidur.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, cetak sawah dimaksudkan untuk menambah luas baku lahan sawah yang sudah ada sebelumnya. “Cetak sawah ini nantinya tidak hanya membuat sawah baru, tapi juga untuk mengubah pola pikir masyarakat,” katanya.

Menurut Syahrul, kegiatan cetak sawah, terutama di Kabupaten Lingga, merupakan terobosan dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan di daerah perbatasan.

Lokasi cetak sawah di Kabupaten Lingga merupakan lahan rawa yang tidak optimal. Namun,  karena potensi luas lahan dan Lingga sebagai wilayah perbatasan Indonesia-Singapura, maka melalui proses SID (Survei, Investigasi Desain) lokasi ini ditetapkan dalam program cetak sawah.

Setelah sawah dicetak, masyarakat setempat dapat memanfaatkannya untuk lahan pertanian. “Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani di daerah tersebut, yang semula mata pencahariannya hanya sebagai nelayan,” tuturnya.

Kondisi vegetasi yang dominan rawa memiliki kendala yang cukup berarti dalam memobilisasi alat berat saat akan dilakukan konstruksi. Namun, berkat kerja sama dengan TNI, pekerjaan selesai tepat waktu.

Pembangunan cetak sawah TA-2018 di Kabupaten Lingga ini memberikan manfaat yang sangat besar dalam menambah luas baku lahan serta produksi tanaman pangan. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Lingga, Siswadi mengapresiasi dan menghargai masyarakat atas pemanfaatan lahan tersebut sehingga memberi dampak terhadap ketahanan pangan.

Pada Maret-April 2020, sekitar 20 ha lahan cetak sawah di Desa Lanjut, Kecamatan Singkep Pesisir; Panggak Darat, Sungai Besar, Kecamatan Lingga; dan Bukit Langkap, Kecamatan Lingga Timur, melakukan panen serentak.

“Selain itu masih ada potensi lahan yang akan panen pada bulan Mei 2020 ini dengan luas sekitar 15,4 ha. Produktivitas ada yang mencapai 5-6 ton/ha,” katanya. Dia menambahkan, dengan lahan eks cetak sawah, diharapkan kesejahteraan petani di Lingga meningkat.

Kabid Pertanian Lingga, Hernowo Andriantono menambahkan, panen padi yang dilakukan Sabtu 2 Mei 2020 di Desa Panggak Darat, oleh  Kelompok Tani Tunas Jaya produktivitasnya cukup tinggi.

“Hasil ubinan tergantung dengan vatietas yang ditanam,” kata Hernowo. Dia menyebutkan, padi varietas Sertani hasil ubinan mencapa 6 ton/ha dan varietas Inpago 1 dan Inpago 8 produktivitasnya 4,3 ton/ha gabah kering panen (GKP).

Hernowo Andiantono mengatakan, Kabupaten Lingga merupakan salah satu tulang punggung pangan di Provinsi Kepri. Kajian dan pendampingan teknologi demi suksesnya kemandirian pangan juga didukung penuh BPTP Balitbangtan Kepri.

Dia menyebutkan, pada musim tanam-2 seperti sekarang ini, BPTP Kepri melalui kegiatan Lumbung Pangan Kawasan Perbatasan melakukan pendampingan mengintroduksikan teknologi budidaya padi di lahan sawah bukaan baru.

Padi yang digunakan adalah Varietas Unggul Baru (VUB) seperti  Inpari 42 dan 43, GSR Agritan, Inpara 6, Inpara 8, dan Inpago 8. “Pendamping oleh balai ini juga diiringi dengan teknologi tata kelola manajemen air untuk menurunkan kandungan Fe (besi),” tegasnya.

Meskipun banyak lahan sawah di Kabupaten Lingga yang merupakan sawah bukaan baru dengan kondisi tanah miskin hara, pH relatif masam, Al, dan Fe tinggi dengan bayang-bayang kendala pada fisik, kimia dan biologi tanahnya.

“Namun, hasil panen relatif naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan produktivitas rata-rata sekitar 3,00-4,50 ton/ha,” ungkapnya.

Enam Tepat

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, dalam program cetak sawah ini, Kementan menerapkan strategi 6 tepat.

Enam tepat itu adalah Tepat lokasi, Tepat Volume/jumlah, Tepat Kualitas, Tepat Waktu, Tepat Administrasi, dan Tepat Tujuan/sasaran. Tepat lokasi, yaitu SID valid dan akurat, lokasi clear and clean, lokasi bukan kawasan hutan dan HGU.

Selain itu, kata Sarwo Edhy, lokasi tidak tumpang tindih dengan program atau kegiatan lain, sumber air terjamin, ada petani penggarap dan lahan sesuai untuk tanaman padi.

Sementara yang dikatakan Tepat Volume/jumlah adalah luas lahan tercetak sesuai target/sasaran yang ditetapkan. Luas lahan yang tercetak telah diverifikasi oleh Timwas/PPHP (c.q. tracking).

Sedangkan yang dimaksudkan Tepat Kualitas adalah permukaan lahan telah bersih dari vegetasi dan tunggul (land clearing), permukaan lahan telah rata (land leveling), sudah ada pematang/galengan, sudah ada saluran tersier dan jalan usahatani.

Tepat Kualitas juga meliputi sudah olah tanah sehingga lahan menjadi siap tanam, sawah yang sudah sempurna dan siap tanam diikutkan sebagai peserta asuransi pertanian.

Tepat Waktu, lanjut Sarwo Edhy, pekerjaan selesai sebelum kontrak jatuh tempo. Lahan segera ditanami setelah status lahan siap tanam. Dengan semikian, semestinya tidak ada lahan cetak sawah baru yang tidak dimanfaatan msyarakat.

Tida hanya itu saja, program cetak sawah juga mengharuskan Tepat Administrasi, sehingga program cetak sawah tidak meninggalkan masalah dikemudian hari. Tepat Administrasi yang dimaksudkan tepat dalam menyusun rencana anggaran biaya (RAB), taat pada aturan/perundang undangan dan prosedur pelaksanaan perluasan sawah, dokumen pendukung lengkap, valid, berurutan. “Sementara, tepat tujuan/sasaran yaitu sawah yang telah dicetak memproduksi padi secara berkelanjutan, sawah yang dicetak tidak diperkenankan dialihfungsikan, luas tambah tanam di wilayah tersebut meningkat,” katanya. PSP