Kesulitan Keuangan Akibat Pandemi Covid-19 Kebun Binatang Korbankan Satwa untuk Pakan? Begini Kata KLHK

0
55
Gajah di kebun binatang (ilustrasi)

Pandemi Covid-19 mengharuskan penutupan lembaga konservasi (LK) seperti kebun binatang. Akibatnya arus kas lembaga konservasi terganggu yang berdampak pada kesulitan penyediaan pakan bagi satwa yang dipelihara. Kesulitan penyediaan pakan juga dikarenakan pandemi COVID-19 menghambat jalur distribusi.

Sempat mengemuka jika lembaga konservasi bakal mengorbankan satwa untuk dijadikan pakan bagi satwa lain jika situasi saat ini terus berlanjut. Namun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai pemegang otoritas pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati menegaskan, tidak ada LK yang mengorbankan satwa koleksinya untuk dijadikan pakan satwa lain.

Menurut Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno, Jumat (15/5/2020), pada dasarnya satwa yang ada di LK merupakan satwa milik Negara. Dengan demikian, apabila akan dilakukan pemindahan ataupun pengurangan satwa untuk kebutuhan pakan satwa lain harus seizin KLHK dan mengikuti proses ketentuan regulasi yang berlaku.

“Yang kami tekankan ke pengelola LK untuk memodifikasi pakan untuk satwa baik frekuensinya maupun jenisnya tapi jangan sampai mengurangi nutrisi kebutuhan satwa, kesejahteraan satwa di LK tetap yang utama,” kataya.

Untuk membantu LK, KLHK telah mengalokasikan pakan dan obat obatan bagi LK yang membutuhkan. Tidak hanya itu KLHK juga memberikan dukungan agar transportasi pakan untuk LK bisa dikecualikan dari PSBB dan ada relaksasi pajak bagi LK.

Ketua Umum Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Rahmat Shah menyatakan, penutupan kebun binatang jelas berdampak bagi pengelola LK. Apalagi selama ini LK mengandalkan biaya pengelolaan satwa dan karyawan dari tiket masuk pengunjung.

Meski demikian, katanya, selama penutupan, keeper satwa masih tetap bekerja seperti biasa merawat satwa. Begitu pula dokter hewan tetap melakukan pemeriksaan kesehatan satwa untuk menjamin kesejahteraannya.

“Di tengah keterbatasan anggaran dan bahan baku pakan, saat ini telah diterapkan Metoda Allometric Scalling dalam pemberian pakan dengan menghitung kebutuhan nutrisi setiap individu satwa. Beberapa pakan diganti jenisnya dengan nutrisi yang tetap sama,” tambah Rahmat.

Dia menyatakan, betapapun beratnya beban setiap LK senantiasa berkomitmen dan memiliki tanggung jawab yang besar. Apalagi LK anggota PKBSI banyak menerima titipan satwa dilindungi. Seperti jenis burung kakatua, buaya, kura-kura serta berbagai jenis satwa lainnya.

Untuk itu, Rahmat Shah masih sangat mengharapkan perhatian dan dukungan dari KLHK untuk membantu LK, sebagaimana yang telah dilakukan pada saat ini.

Sugiharto