Pandemi COVID-19, Ekosistem TN Kepulauan Seribu Beri Sinyal Pemulihan

0
185
Petugas dari Balai TN Kepulauan Seribu, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Pulau Pramuka berhasil menyelamatkan telur Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) sebanyak 156 butir, Selasa [10/3/2020]. Petugas kemudian memindahkan telur-telur itu ke Sanctuary Penyu di Pulau Pramuka untuk ditetaskan secara semi alami.

Pandemi  COVID-19 menyimpan cerita positif bagi pemulihan ekosistem. Seperti yang terjadi di Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Penutupan kawasan tersebut dari kunjungan wisata ternyata  meningkatkan pendaratan penyu untuk bertelur.

Kepala Balai Taman Nasional  Kepulauan Seribu Badiah mengungkapkan, perjumpaan pendaratan penyu bertelur meningkat hingga 30%. Jumlah telur yang diselamatkan pada bulan lalu meningkat dari sebelumnya rata-rata sebanyak 5.000 butir menjadi 7.000 butir.

“Sejak ditutup, ditemukan penyu bertelur di lokasi yang sebelumnya ramai wisatawan, seperti di depan home stay dan kolam labuh Pulau Pramuka,” kata Badiah saat virtual workshop yang diselenggarakan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PJLHK KLHK), Selasa (12/5/2020).

Virtual workshop tersebut dibuka oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno dan dipandu oleh Direktur PJLHK KLHK Nandang Prihadi.

Badiah juga mengungkapkan, setelah kawasan TN ditutup dari kunjungan wisata, pulau semak daun yang biasanya ramai wisatawan berkemah, kini juga didatangi penyu yang ingin bertelur.

“Kesunyian pengunjung malah memulihkan penyu untuk mendaratkan telur di pulau yang sebeunya sangat ramai. Dari 30% peningkatan dari temuan sarang penyu terjadi di pulau yang selama ini ramai pengunjung,” kata Badiah.

Dia juga mengugkapkan selain penyu sisik, jenis penyu lain kini juga ditemukan bertelur di kawasan tersebut adalah penyu hijau.

Sinyal pemulihan ekosistem lain adalah dari turunnya volume sampah di kawasan TN Kepulauan Seribu. Penurunan timbulan sampah bahkan hingga 50%. “Sebelumya sampah yang dihasilkan bisa mencapai 777 ton. Sekarang turun hingga 350 ton,” kata Badiah.

Dia juga mengungkapkan, sepinya kunjungan wisatawan membuat lalu lalang kapal berkurang. Dampaknya laut menjadi lebih bersih dan jernih. Meski demikian, kondisi perairan ini belum bisa disimpulkan karena perairan TN Kepulauan Seribu ikut dipengaruhi oleh musim.

Sugiharto