Rahmanto: Hadapi Kekeringan, Manfaatkan Sumber Air yang Ada

0
62

Menghadapi kekeringan yang diprediksi terjadi mulai Juli 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) mengimbau Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memanfaatkan sumber air yang ada.

Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Rahmanto, mengatakan, sumber air di lahan pertanian sudah dibangun pemerintah, seperti embung, dam parit dan irigasi perpipaan/perpompaan. “Sumber air ini dibangun memang untuk mengantisipasi kekeringan,” katanya kepada Agro Indonesia, Rabu (6/5/2020).

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi ENSO (El Nino Southern Osilication) sampai Oktober 2020 adalah “netral”. Puncak musim kemarau diperkirakan pada bulan Juli, Agustus, September.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menggelar rapat terbatas membahas antisipasi kekeringan di bulan mendatang dan dampaknya terhadap ketersedian bahan pokok, Selasa, (5/5/2020).

Jokowi meminta urusan yang berkaitan dengan musim kemarau harus dikaji dengan sangat baik. “Karena berdasarkan prediksi dari BMKG, 30% wilayah-wilayah yang masuk zona musim ke depan akan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya,” kata Jokowi saat membuka Ratas melalui teleconfrence.

Jokowi mengatakan, dirinya telah beberapa kali menyinggung mengenai peringatan dari FAO mengenai krisis pangan dunia. Dia pun menegaskan antisipasi dan mitigasi harus betul-betul disiapkan, agar pekerjaan dan stabilitas harga bahan pangan tidak terganggu.

Hal pertama yang dia minta adalah ketersediaan air di daerah sentra produksi pertanian. Jokowi menegaskan, jaminan ketersediaan air ini merupakan kunci produksi pertanian.

“Oleh sebab itu, ini harus disiapkan dari sekarang, mulai dari penyimpanan air hujan, kemudian memenuhi Danau, Waduk, Embung, kolam retensi dan penyimpanan air buatan lainnya. Ini penting,” kata Jokowi.

Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan Rahmanto mengatakan, pihaknya telah melaksanakan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni embung, dam parit, dan long storage sebanyak 2.785 unit.

Dia menyebutkan, untuk irigasi perpompaan, Ditjen PSP mencatat hingga 5 November 2018 telah membangun 2.978 unit. Dengan estimasi luas layanan per unit 20 hektare (ha), maka luas oncoran atau yang dapat diairi saat musim kemarau mencapai 59,78 ribu ha.

Tahun 2014, Kementan sukses membangun sebanyak 9.504 unit embung di 30 provinsi. Sementara tahun 2015, embung yang dibangun 318 unit di 16 provinsi.

Pengembangan embung, dam parit, long storage dalam empat tahun terakhir (2015-2018) mencapai 2.956 unit — untuk realisasi per 5 November 2018.

Dengan estimasi luas layanan 25 ha/unit, maka mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73,90 ribu ha. “Bila dapat memberikan dampak kenaikan IP 0,5, maka potensi penambahan produksi pertanaman mencapai 384,28 ribu ton,” katanya.

Menurut dia, sarana dan prasarana tersebut dilakukan untuk  mengantisipasi musim kemarau. “Tahun ini kami akan membangun 400 unit embung dan 1100 unit Irigasi Perpompaan/Perpipaan,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Rahmanto, pihaknya akan memprioritaskan dan mengawal pemanfaatan sumber-sumber air sebagai suplesi pada lahan sawah yang terdampak kekeringan. “Kami segera mengindentifikasi sumber air alternatif yang masih tersedia dan dapat dimanfaatkan melalui perpompaan dan irigasi air tanah dangkal,” tegasnya.

Sudah Efektif

Tidak hanya itu saja, Kementan mengingatkan dinas agar alat dan mesin pertanian (Alsintan) dimanfaatkan untuk mengatasi mitigasi kekeringan.

“Kita minta, manfaatkan semua pompa air yang tersedia di daerah dan kerahkan Brigade Alsintan untuk membantu petani dalam mengamankan standing crop dan memitigasi kekeringan,” tegasnya.

Dia menyebutkan total bantuan pompa air dari tahun 2015-2019 sebanyak 107.633 unit. Tahun 2020, dialokasikan dana untuk 10.000 unit. Khusus daerah yang sumber airnya masih tersedia dan mencukupi, disarankan untuk segera manfaatkan Alsintan dan kerahkan Brigade Alsintan untuk melakukan percepatan tanam padi, jagung dan kedelai.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menilai, strategi pompanisasi dan pipanisasi yang diterapkan Ditjen PSP sebagai langkah mitigasi kekeringan sudah efektif. Dengan begitu, petani tetap bisa bercocok tanam meskipun terancam kekeringan.

“Pompanisasi dan pipanisasi menurut saya adalah program yang sangat efektif karena bisa menanam dengan hasil tiga kali lipat. Sistem ini juga sangat efisien menghemat anggaran negara,” katanya

Rahmanto mengatakan, pihaknya (Ditjen PSP, Red.) siap membantu menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi daerah-daerah terdampak kekeringan dengan menyediakan paket bantuan kepada petani.

“Pertama adalah pompanisasi dan pipanisasi. Bantuan tersebut digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang ada, baik dari sungai maupun mata air,” ujarnya.

Dia juga menyebut, petani serta Dinas Pertanian setempat harus bersinergi mengantisipasi kekeringan ini. Salah satu upayanya adalah pengawalan gilir giring irigasi, penanganan illegal pumping, dan sosialisasi dalam mematuhi jadwal tanam.

Dia  mencontohkan, sejumlah daerah yang telah mengikuti program pipanisasi untuk menarik air dari sungai pada musim kemarau lalu di antaranya Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal. Intinya, jika daerah-daerah yang terancam kekeringan memiliki sumber air, maka akan dibantu dengan pompa dan pipa.

“Ini bisa menyelamatkan lahan sawah yang terancam gagal panen. Bila ada daerah lain juga membutuhkan, silakan ajukan permintaannya,” ungkapnya.

Kementan juga bisa menyediakan pembangunan embung atau long storage. Dia menerangkan, program ini untuk kelompok tani guna menampung air di musim hujan (bank air) kemudian dialirkan ke sawah bila dibutuhkan. Hal lain yang bisa dilakukan, kata Rahmanto, membangun sumur dangkal (sumur bor) di lahan-lahan yang mengalami kekeringan. “Kami akan lakukan koordinasi dan memonitor ketersediaan air waduk dan bendungan. Melakukan penertiban pompa-pompa air ilegal di sepanjang saluran irigasi utama,” jelasnya. PSP