Menjaga Hewan Kesayangan dari COVID-19

0
196
Anjing dan kucing (foto: pixabay)
drh Ida Lestari

Oleh: Drh Ida Lestari (MVU-Ditkeswan Kementerian Pertanian)

Untuk pencegahan dan perlindungan dari wabah penyakit Virus Corona (COVID-19), Sekjen Kementerian Pertanian (Kementan), 17 Maret 2020, mengeluarkan Surat Edaran Kementan No 1044-2020 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan di Lingkungan Kementerian Pertanian yang membuat hampir semua pegawai Kementan melakukan kerja secara Working from Home (WFH) selain juga ada pembagian kerja pegawai melalui piket. Kondisi pandemik corona (COVID-19) yang juga melanda Indonesia membuat WFH diperpanjang sampai batas waktu yang belum dapat dipastikan. Piket kerja minggu lalu membuat kesempatan saya menengok kondisi perkantoran yang terkesan senyap. Namun saya dikagetkan dengan adanya suara lengkingan keras yang menyambut kehadiran saya. Suara itu berasal dari meongan seekor kucing yang mungkin sudah terbiasa mendapatkan jatah makan dari pegawai yang biasa memberi mereka makan.

Lengkingan suara kucing tadi mengingatkan saya dengan berita pada awal April 2020 dimana pertama kali ditemukan seekor harimau betina bernama Nadia yang berusia 4 tahun di kebon binatang Bronx, New York, Amerika Serikat, dinyatakan positif mengidap COVID-19. Harimau tersebut memperlihatkan gejala batuk kering (tidak berdahak) serta memperlihatkan nafsu makan yang menurun dan diduga tertular dari keeper (penjaga kebun binatang) di sana. Seperti kita ketahui harimau adalah hewan mamalia yang termasuk ordo carnivore dalam family Felidae seperti halnya kucing. Walau demikian kucing-kucing di areal kebun binatang Bronx tersebut dalam keadaan aktif dan sehat di bawah pengawasan para dokter hewan disana.

Meongan kucing di kantor kami tadi mengisyaratkan adanya rasa lapar dan kucing tersebut merasa adanya kehadiran manusia sehingga dia mengeluarkan suara keras yang menyatakan kehadirannya dan mengharapkan mendapatkan makanan dari orang yang ada di gedung tersebut.

Kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemerintah guna mencegah meluasnya penyakit COVID-19 membuat gerak lalu lintas manusia juga terbatas. Beberapa minggu yang lalu terdapat informasi adanya suatu pet-shop di Jakarta yang biasa menjual hewan kesayangan (anjing-kucing-ular-kura-kura) ditutup dan hewan kesayangan didalamnya ditinggal begitu saja. Untungnya berita tersebut direspons oleh para penyayang hewan (pet lovers) dengan mendatangani dan mengadopsi anjing dan kucing yang terpaksa terlantar dari pet shop tersebut.

Bagaimana dengan komunitas hewan kesayangan (khususnya kucing) yang berada dalam suatu lingkungan yang terbiasa diberi makan oleh orang dari luar yang biasa mendatangi tempat tertentu. Misalnya di sekolah, di kantor pemerintah atau swasta, atau pabrik yang sampai saat ini masih dalam suasana PSBB dan hampir tidak berkesempatan bagi orang untuk datang sehingga otomatis juga tidak juga mempunyai kesempatan memberi makan kucing-kucing domestik di sana. Mungkin diantara kucing-kucing terlantar ini yang bisa bertahan hidup lebih baik yaitu yang berada dalam lingkungan kompleks perumahan maupun pasar yang masih memungkinkan ada orang disekitarnya.

Terkait dengan informasi harimau diatas, banyak masyarakat bingung bagaimana bisa hewan terkena virus COVID-19 sehingga ada kemungkinan beberapa orang yang sengaja menelantarkan kucing-kucing tersebut karena khawatir menularkan COVID-19 kepada manusia.

Sebenarnya sudah sejak jaman dahulu corona virus ada pada hewan ternak (sapi, babi dan ayam) serta hewan peliharaan (anjing dan kucing). Namun bukan termasuk Novel Corona Virus atau dikenal COVID-19 yang menyerang pada manusia. Corona virus pada hewan adalah Alpha- dan Beta Coronavirus patogenik pada mamalia. Sedangkan Gamma- dan Deltacoronavirus biasanya pada ungags. Coronavirus itu sendiri merupakan agen penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan, saluran pencernaan, hati dan penyakit nerologik baik pada manusia maupun pada dan hewan.

Untuk hewan kucing misalnya 1). Penyakit FECV (Feline Enteric Coronavirus): Alpha corona virus dengan gejala klinis diare atau tanpa gejala. 2). FIP (Feline infectious Peritonitis): Alpha corona virus; dengan gejala klinis berupa infeksi peritoneum, radang paru dan kelainan syaraf pusat.

Untuk hewan anjing penyakit karena corona dikenal dengan nama: 1) CE-Cov (Canine Enteric Corona virus): Alpha corona virus; virus sama juga pada musang dan kucing dengan gejala klinis diare; dengan masa inkubasi selama 3 hari serta 2) CR-Cov (Canine Respiratory Corona Virus): Beta corona virus; yang secara genetik mirip dengan bovine corona virus (B-Cov) pada sapi dengan gejala klinis infeksi saluran pernafasan sampai radang paru

Pada awalnya orang menduga COVID-19 berasal dari satwa liar (kelelawar) namun kemudian fenomena kucing sebagai hewan yang bisa tertular virus COVID-19, memunculkan kekhawatiran tersendiri. Walau sejauh ini belum ada laporan hewan peliharaan positif namun ada laporan 1) Bulan Februari 2020 di Hongkong pada seekor anjing Pomerian usia 17 tahun dengan tanpa gejala klinis dinyatakan positif lemah tapi akhirnya dinyatakan negatif dan pada pertengahan Maret 2020 anjing tersebut mati dengan tidak diketahui penyebabnya. 2) Tanggal 18 Maret 2020 pada seekor Anjing German Shepherd umur 2 tahun juga dengan tanpa gejala klinis yang dimiliki oleh orang yang menderita COVID-19, namun kemudian anjing tersebut dinyatakan negatif tes COVID-19. Dan kemudian 3) Tanggal 18 Maret 2020 pada seekor kucing domestik di Negara Belgia dengan gejala klinis gangguan pernafasan dan gangguan saluran pencernaan dimana pemiliknya adalah penderita COVID-19 namun kucing tersebut sembuh setelah 9 hari kemudian.

Kesimpulan sementara adalah kucing dan manusia memiliki “tombol pintu” (door knop) yang serupa pada permukaan sel pernapasan yang memungkinkan virus SARS-Cov2 masuk, dan para ilmuwan menyatakan SARS-Cov2 menempel pada reseptor yang disebut ACE-2 (Angiotensin-converting enzyme 2, Enzim pengubah angiotensin 2) yang ada diluar sel pernafasan. Diduga kuat bahwa Protein ACE-2 pada hewan kucing menyerupai dengan ACE-2 manusia, yang kemungkinan besar adalah reseptor seluler yang digunakan oleh Sars-CoV-2 untuk pintu masuk ke sel.

Sampai saat ini tidak ada laporan/informasi/bukti bahwa hewan liar/hewan kesayangan dapat menularkan Corona virus kepada pemiliknya/manusia dan jalur penularan manusia ke hewan peliharaan bukanlah rute penyebaran yang signifikan. Beberapa peneliti menyatakan kucing adalah korban sampingan dari epidemik yang terjadi pada manusia dan tidak memerankan peranan penting dalam penyebaran virus.

Walau kasus penyakit COVID-19 dapat menular dari manusia penderita ke hewan dan walau belum ada bukti bahwa hewan terkena dapat menularkan balik kembali ke manusia, namun kewaspadaan tetap harus dijaga. Ketika hewan kesayangan kita sakit, sebaiknya mengontak/membuat janji terlebih dahulu dengan rumah sakit hewan atau klinik hewan atau dokter hewan mandiri terkait gejala klinis dari hewan penderita. Pengobatan dapat dilakukan dengan tele-medicine. Sementara rumah sakit hewan/klinik/dokter hewan mandiri juga sebaiknya lebih mengutamakan pasien yang urgent pada saat PSBB ini. Sebaiknya pemilik/praktisi tetap menggunakan masker atau kerap mencuci tangan saat sebelum dan setelah menyentuh hewan kesayangan kita

Hingga saat ini infeksi COVID-19 yang menyebar luas pada populasi manusia memiliki risiko potensi menularkan ke hewan peliharaan dari individu yang terdiagnosa oleh positif COVID-19. Namun belum ada bukti yang menyatakan bahwa hewan yang terinfeksi dari manusia berperan dalam penularan penyakit yang lebih luas. Penularan yang terjadi ialah antara manusia ke manusia.

Kewaspadaan tentu diperlukan bagi banyak pihak dan dokter hewan diharapkan juga turut berperan dalam pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat. Bagi pemilik hewan sebaiknya tetap merawat dan menjaga kesehatan hewan kesayangannya seperti memandikan secara rutin serta mendapatkan imunisasi rutin.

Mungkin kita perlu juga mengedukasi kita sendiri, sebagai manusia, kita tidak bleh marah bila dikatakan sebagai mahluk yang berperilaku tidak pernah puas dalam hal konsumsi entah untuk pembenaran sebagai obat atau keperluan lainnya. Sampai saat ini masih ada orang yang mengkonsumsi protein hewani bukan dari ternak dan ikan tetapi dari kelelawar, ular, anjing bahkan kucing. Malah ada di salah satu daerah kita menjualnya dalam bentuk daging beku di supermarket. Kelelawar ukuran besar terus diburu padahal kelelawar adalah gudang (reservoir) berbagai macam virus. Walau kelelawar itu sendiri tidak terkena penyakitnya namun saat manusia mengkonsumsinya lalu timbul masalah penyakit kenapa kelelawar yang dijadikan kambing hitam? Baiklah kita hidup damai dan alami dengan lingkungan yang sehat.

Dalam suasana PSBB, masyarakat kita sudah mencoba lakukan disiplin dengan menerapkan kebijakan Pemerintah dengan yaitu social distancing. Kerja sama berbagai Institusi/lintas sektor tanpa saling menyalahkan serta melaksanakan kegiatan terkait dengan rasa tanggung jawab membutuhkan peran khusus dokter hewan guna mencegah, mengendalikan dan memberantas penyakit. Kegiatan ini dapat kita lakukan berupa Webinar karena dapat menampung penyampaian ide dan pemikiran komunikasi risiko dalam penanganan penyakit akan lebih banyak karena dengan Webinar dapat menampung peserta juga lebih banyak merupakan salah satu alternatif dalam edukasi masyarakat, khususnya mencegah Penyakit Infeksi Baru dan zoonosis. Lewat webinar kita semua dapat saling belajar mengantisipasi mitigasi penyakit yang mungkin dapat terjadi kelak mengingat masih banyak hal yang harus kita pelajari dari pola zoonosis sekarang ini dimana penyakit baru kedepannya dapat berpotensi mungkin terjadi, atau bisa kita tangkal dengan kesiagaan kita semua.

Mengingat investasi bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) terus meningkat terutama terkait hewan kesayangan, khususnya dokter hewan praktisi, klinik dan rumah sakit hewan serta petshop, maka diharapkan berita terkaitnya Covid-19 pada harimau, anjing dan kucing tidak mengurangi animo masyarakat dalam memelihara hewan kesayangan. Untuk menuju kesana perlu adaya perlindungan lingkungan dan hewan untuk meningkatkan kesehatan manusia dan hewan.

Hewan kesayangan merupakan teman setia yang menemani kita dan memberi hiburan tersendiri. Marilah dalam memelihara hewan kesayangan kita juga memperhatikan kesejahteraan hewan (Kesrawan) dimana mereka harus bebas dari 5 hal (5 freedom) yaitu 1) Bebas dari rasa lapar dan haus); 2). Bebas dari rasa tidak nyaman; 3) Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit 4) Bebas berekspresi secara alamiah dan 5) Bebas dari rasa takut dan tertekan.