Pakar Kehutanan: Norma Baru Lebih Relevan Ketimbang ‘New Normal’

0
190
Transtoto Handadhari

Menyikapi mulai berkembangnya rencana langkah-langkah  kebijakan New Normal setelah kebijakan isolasi sosial seiring serangan COVID-19,  pakar kehutanan Dr. Transtoto Handadhari justru meluncurkan konsep yang dianggap lebih relevan, permanen dan aman. Konsep itu adalah New Norm atau Norma Baru tatanan dan budaya kehidupan.

Rimbawan senior yang juga Ketua Umum Yayasan Peduii Hutan Indonesia (YPHI) itu menuturkan, konsep New Normal yang bergulir sekarang terus menjadi perdebatan publik. Bahkan sudah mulai memasuki ranah politik. Tujuannya memang baik yaitu  untuk membuka isolasi ekonomi dan pasar, perkantoran dan kegiatan aktivitas publik. Alasan lain masyarakat perlu makan.

Namun, dalam situasi virus korona yang belum terkendali, kebijakan global tersebut lebih berpihak pada kaum kapitalis, pengusaha besar dan pemodal dan mengabaikan keselamatan dan kesehatan masyarakat luas.

Transtoto yang mantan Mantan Dirut Perum Perhutani itu lebih mendorong dibangunnya Norma Baru terkait pola pikir serta tatanan kehidupan baru yang mengutamakan kesehatan, kebersihan, ramah lingkungan, hidup rendah karbon, banyak menanam, bercocok tanam organik di rumah-rumah, melestarikan hutan dan biodiversitas, serta hidup sosial yang hemat, saling membantu dan gotong royong.

“Salah satu kelebihannya Norma Baru tersebut akan lebih permanen, menjaga agar langit tetap biru. Karenanya bisa disebut Norma (Budaya) Langit Biru,” katanya, Sabtu (13/6/2020).

Namun Transtoto yang merupakan Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Hutan Indonesia (GMPHI) itu menganggap kedua konsep itu tidak perlu dipertentangkan.

“Kedua konsep tersebut sebenarnya bisa saling mengisi. Masalah waktu dan kebutuhannya yang harus saling menyesuaikan. Kesabaran perlu dipertimbangkan saat ini,” kata dia.

Sugiharto