Tanggap Pandemi COVID-19 dengan Eco Action

0
106
aktivitas menyelam di salah satu lokasi di TN Kepulauan Seribu

Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Seribu melakukan Eco Action untuk merespons pandemi COVID-19. Langkah ini untuk dilakukan untuk mempertahankan sinyal perbaikan lingkungan selama kawasan konservasi itu di tutup dari kunjungan wisata sekaligus tetap bisa mendorong perekonomian masyarakat.

Penutupan TN Kepulauan Seribu untuk mencegah perluasan pandemi COVID-19 ternyata memberi sinyal pemulihan ekosistem. Meski demikian, penutupan itu juga berdampak pada lesunya perekonomian masyarakat yang selama ini mendapat banyak manfaat dari aktivitas kunjungan wisata.

Kepala Balai TN Kepulauan Seribu Badi’ah menuturkan TN Kepulauan Seribu ditutup dari kunjungan wisata sejak 14 Maret 2020. Ini sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta dan juga Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penutupan dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Tak adanya kunjungan wisatawan ternyata memicu sinyal positif bagi perbaikan lingkungan di TN Kepulauan Seribu. Itu terlihat dari meningkatkan pendaratan penyu untuk bertelur.

Menurut Badi’ah, perjumpaan pendaratan penyu bertelur meningkat hingga 30%. Jumlah telur yang diselamatkan pada bulan lalu meningkat dari sebelumnya rata-rata sebanyak 5.000 butir menjadi 7.000 butir.

“Sejak ditutup, ditemukan penyu bertelur di lokasi yang sebelumnya ramai wisatawan, seperti di depan home stay dan kolam labuh Pulau Pramuka,” kata Badi’ah saat virtual workshop yang diselenggarakan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PJLHK KLHK), Selasa (12/5/2020).

Virtual workshop tersebut dibuka oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno dan dipandu oleh Direktur PJLHK KLHK Nandang Prihadi.

Badi’ah juga mengungkapkan, setelah kawasan TN ditutup dari kunjungan wisata, pulau semak daun yang biasanya ramai wisatawan berkemah, kini juga didatangi penyu yang ingin bertelur.

“Kesunyian pengunjung malah memulihkan penyu untuk mendaratkan telur di pulau yang sebeunya sangat ramai. Dari 30% peningkatan dari temuan sarang penyu terjadi di pulau yang selama ini ramai pengunjung,” kata Badi’ah.

Dia juga mengugkapkan selain penyu sisik, jenis penyu lain kini juga ditemukan bertelur di kawasan tersebut adalah penyu hijau.

Sinyal pemulihan ekosistem lain adalah dari turunnya volume sampah di kawasan TN Kepulauan Seribu. Penurunan timbulan sampah bahkan hingga 50%. “Sebelumya sampah yang dihasilkan bisa mencapai 777 ton. Sekarang turun hingga 350 ton,” kata Badi’ah.

Dia juga mengungkapkan, sepinya kunjungan wisatawan membuat lalu lalang kapal berkurang. Dampaknya laut menjadi lebih bersih dan jernih. Meski demikian, kondisi perairan ini belum bisa disimpulkan karena perairan TN Kepulauan Seribu ikut dipengaruhi oleh musim.

Dampak ekonomi

Meski ada banyak sinyal perbaikan lingkungan, namun pandemi juga memukul perekonomian masyarakat yang bergantung pada aktivitas wisata di TN Kepulauan Seribu. Hasil survei persepsi yang dilakukan oleh TN Kepulauan Seribu menemukan, masyarakat yang bergantung pada lima kegiatan pariwisata sangat merasakan dampak dari pandemi COVID-19.

Kelima kegiatan itu adalah pemandu wisata, jasa konsumsi, akomodasi, transportasi, dan operator wisata. “Untuk kegiatan jasa akomodasi dan operator wisata, hasil survei mengungkapkan bahwa 100% masyarakat yang berusaha di bidang itu sangat terdampak,” kata Badi’ah.

Tak hanya di sektor pariwisata. Masyarakat yang bekerja di sektor perikanan juga merasakan dampak dari penutupan TN Kepulauan Seribu. Ada empat kelompok besar masyarakat yang bekerja di sektor perikanan. Yaitu perikanan tangkap, jual beli ikan, pengolahan ikan, dan budidaya ikan dan karang hias. Semuanya, tanpa terkecuali merasakan dampak. Pada kelompok usaha perikanan tangkap, masyarakat merasakan sangat terdampak hingga 94,1%. “Ketiadaan pengunjung membuat permintaan turun, harga ikan ikut turun” kata Bad’ah.

Beberapa pihak memberikan bantuan terhadap mereka yang terdampak. Meski demikian, sifatnya masih jangka pendek. Balai TN Kepulauan Seribu ikut merespons situasi ini. Menurut Badi’ah, untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak Balai TN Kepulauan Seribu melakukan eco action, merujuk pada upaya-upaya untuk meringankan dampak pandemi COVID-19 yang berdampak langsung pada perbaikan lingkungan khususnya yang menjadi daya tarik wisata.

“Kami melakukan refocusing anggaran untuk mendukung eco action,” kata Badi’ah.

Ada dua lokasi yang sudah dan sedang dilakukan pemulihan ekosistem yaitu di Pulau Pemagaran dan Pulau Panjang, serta Gosong Sulaiman. Satu lokasi pemulihan ekosistem karang dapat melibatkan 15-20 masyarakat tergantung unit dan luas pemulihan.

Pemulihan dilakukan dengan penanaman karang dengan media beton dan jaring laba-laba. Tiap model masing-masing sebanyak 125 unit sehingga totalnya 250 unit. Jumlah bibit karang yang ditanam pada media beton sebanyak 18 buah/media. Jumlah bibit karang yang ditanam pada media jaring laba-laba sebanyak 17 buah/media. Setiap anggota masyarakat bisa terlibat sesuai dengan kapasitasnya.

Selain bersumber dari anggaran Balai TN Kepulauan Seribu, Badi’ah menyatakan menjalin kerja sama dengan perusahaan untuk menambah titik lokasi pemulihan terumbuh karang.

“Eco action ini diharapkan membantu mengganti pendapatan masyarakat yang hilang akibat penutupan taman nasional sekaligus memperbaiki ekosistem lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian terumbu karang,” kata Badi’ah.

Dia mengaku, upaya ini perlu ditingkatkan skalanya sehingga bisa melibatkan anggota masyarakat lebih banyak. Badi’ah mengajak semua pihak untuk terlibat dalam aktivitas ini.

Pembatasan Kapasitas

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno memuci inisiatif yang dilakukan oleh Balai TN Kepulauan Seribu. Menurut dia, pengelola kawasan konservasi di tingkat tapak selayaknya responsif dengan situasi di lapangan. “Ada inisiatif-inisiatif serupa yang di lakukan teman-teman balai di lapangan,” katanya.

Wiratno menuturkan, fenomena membaiknya lingkungan karena penutupan taman nasional kembali mengingatkan seluruh pemangku kepentingan soal pentingnya menetapkan carrying capacity untuk kegiatan wisata pada sebuah kawasan konservasi.

Sementara Direktur PJLHK KLHK Nandang Prihadi menyatakan yang terjadi di TN Kepulauan Seribu memberi pelajaran tentang apa yang haus dilakukan saat kawasan TN bisa dibuka kembali. “Perlu ada prosedur tetap (protap) yang mengatur agar virus corona tetap bisa dikendalikan dan mempertahankan sinyal perbaikan lingkungan yang saat ini terjadi,” katanya.

Pakar wisata berkelanjutan Dr Suhartini Sekartjakrarini apa yang terjadi di TN Kepulauan Seribu mengingatkan kembali pentingnya membagi ruang pada sebuah kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Dia mengingatkan penyelengaraan wisata di sebuah kawasan konservari seharusnya adalah ekowisata dan menghindari wisata massal.

“Pemanfaatan ruang wisata pelu ditinjau kembali dengan membagi ruang wisata. Mana yang intensif, mana yang kurang intensif, bahkan mana yang harus ditutup berdasarkan data yang ada saat ini,” katanya.

Merujuk pada apa yang terjadi Kepulauan Seribu, Suhartini juga menyatakan perlu meninjau ulang protap pelaksanaan wisata. Jika kemarin protapnya ternyata menggangu keseimbangan  ekologi, maka harus dikoreksi.

Dia menyarankan agar kegiatan wisata di kawasan konservasi tidak hanya fokus pada atraksi wisata, tapi memperluas pada kegiatan-kegiatan yang minim dampak. “Tidak fokus pada selfie dan menyelam di terumbu karang. Perlu digali lagi kegiatan apa yang bisa dipertimbangkan.

Sugiharto