Beras Merah Putih RI-1 Dari Ngawi

Petani Berprestasi, Kaseri

0
91
Kaseri

Kunjungan Presiden RI pada Februari 2019 di Ngawi, Jawa Timur membawa kesan tersendiri bagi Kaseri,  seorang petani dari Desa Geneng, Kabupaten Ngawi. Betapa tidak, meski hanya seorang petani ia berkesempatan untuk bersalaman langsung dengan orang nomor satu di republik ini.

Apa yang melatarbelakangi sehingga Kaseri terpilih mewakili masyarakat ketika Presiden berkunjung ke Ngawi itu. Ternyata petani ini punya cerita unik tentang jerih payahnya membudidayakan padi merah putih.

Beras merah putih sendiri, konon ditemukan sarjana filsafat jebolan UGM Adji Koesoerno. Pegiat pertanian asal Yogyakarta yang pertama menemukan beras merah putih. Lelaki yang konon berdarah biru atau cicit dari Sultan Hamengkubuwono VII, dan bersama Hertanto mendapat butiran  beras di Kawasan Candi Prambanan, Klaten tahun 2006. Saat ditemukan pertama, wujudnya sudah beras, bukan bentuk padi, dan kemudian menamai bibit padi varietas Merah Putih RI-1.

Namun keberlangsungan atau budidaya padi merah putih RI-1 jarang terdengar. Mungkin karena dari sisi produktivitas kalah dengan beras putih biasa, sehingga petani tidak tertarik membudidayakan beras merah putih. 

Berbeda dengan Kaseri, petani asal Ngawi ini berani melestarikan beras aneh ini. Bukan itu saja, Kaseri juga mengembangkan tanaman satu musim ini tanpa pupuk buatan alias kimia.

Berikut wawancara dengan petani yang sempat mengikuti kursus bersama petani lain di sejumlah tempat itu pekan lalu:

Bagaimana ceritanya sampai Anda bisa bersalaman dengan Presiden?

Ketika Presiden menyempatkan diri untuk mengunjungi stand pameran yang menampilkan produk-produk UMKM dan salah satunya produk yang dipamerkan adalah beras merah putih. Beras itu dipanen dari sawah  saya.

Kapan Anda mengembangkan beras merah putih itu?

Sejak tahun 2016 setelah kami mendapat pelatihan yang diikuti para kelompok tani. Jadi sudah hampir empat tahun saya membudidayakan tanaman ini. Nggak tahu kelompok lain masih mengembangkan atau tidak, sepertinya tidak ada yang mengembangkan tanaman ini.

Jadi beras jenis ini bukan rekayasa genetik?

Bukan pak. Beras jenis ini bukan hasil persilangan genetik antara beras merah dengan beras putih. Tetapi merupakan varietas sendiri yang memiliki keunikan dengan warna merah putih yang terbagi rata pada setiap bulirnya.

Darimana awalnya mendapat benihnya?

Awalnya saya mendapatkan benih beras merah putih ini pada tahun 2016 saat bergabung dengan Asosiasi Bank Benih Indonesia (AB2TI). Pada awal pengembangannya berbekal benih 2 malai, lalu kami berhasil memproduksi sekitar 1 ton gabah dalam kurun waktu 1 tahun pada lahan sawah seluas 1.500 m2. Jadi itu mulainya kami mengembangkan di sawah sendiri. Secara bertahap dan konsisten kami terus menanam dan melakukan seleksi benih pada setiap masa panen untuk menjaga pemurnian benih hingga sekarang dirinya mampu memproduksi beras merah putih RI-1 sebanyak 6 ton gabah per hektare.

Kalau produksi untuk beras putih per hentare di sekitar Anda berapa?

Untuk beras putih rata-rata 8-9 ton gabah per hektarenya. Mereka memakai pupuk kimia. Kalau kami tidak menggunakan pupuk pestisida. Kami pakai pupuk kandang.

Berarti Anda rugi mengembangkan beras merah putih dong?

Terus terang kami mengejarnya bukan kuantitas, tapi lebih memilih kualitas, dan estetika. Beras merah putih RI-1 selain memiliki tampilan fisik yang sangat unik dan menarik, juga memiliki kandungan yang kaya nutrisi diantaranya zat besi dan zat seng yang sangat baik untuk pertumbuhan. Informasi dari situs Agro Industri, kandungan zat besi dari beras merah putih adalah sebesar 4,61 mg/100 gram, sedangkan beras putih hanya 0,13 mg, beras merah bahkan tidak terdeteksi. Untuk kandungan zat seng beras merah putih 8,30 mg/100 gram, beras putih hanya 0,6 mg/100 gram, dan beras merah tidak terdeteksi. Sementara untuk kandungan karbohidrat beras merah putih memiliki kadar paling rendah yaitu 71,34%, beras putih 80%, dan beras merah sebesar 75%. Saya juga baca-baca bahwa manusia membutuhkan banyak zat, diantaranya zat besi, zat seng dan karbohidrat.

Seperti di artikel Agro Industri, data Balai Penelitian Tanaman Padi, kekurangan zat besi dalam tubuh dapat menyebabkan anemia, sementara kekurangan zat seng menghambat pertumbuhan pada bayi, mengganggu imunitas, dan menghambat penyerapan zat besi.

Baik. Berapa lama sejak naman hingga panen untuk beras merah putih yang Anda kembangkan dibanding dengan beras putih biasa?

Jelas kalau soal produktivitas kami kalah dengan petani lain yang tetap tradisional mengembangkan beras putih biasa. Tapi soal kualitas, beras merah putih masih jauh lebih unggul dari setiap bulir yang dihasilkan. Untuk masa tanampun kami juga kalah. Masa tanam padi jenis ini relatif lebih lama sekitar 130 hari (empat bulan lebih) mulai penyebaran benih sampai panen. Kalau beras biasa tidak sampai 100 hari sudah panen.

Apa yang Anda hadapi selama membudidayakan beras Merah putih ini?

Pertama, soal masih rendahnya produksi yang dihasilkan. Harapan saya ada peneliti yang bersedia mengembangkan jenis padi ini minimal produktivitasnya sama dengan gabah beras putih 8-9 ton/hektare. Produksi gabah merah putih baru sekitar 5-6 ton/hektare. Kedua, soal  belum membuminya  publik akan adanya dan manfaat jenis beras ini. Ketiga belum terbentuknya pasar yang menjadikan jenis varietas ini sehingag belum diminati oleh masyarakat secara umum. Keempat, dari sisi produksi, petani belum tertarik untuk mengembangkan jenis padi dengan kayanya kandungan nutrisi di dalamnya.

Mengapa Anda memilih varietas padi yang langka ini  padahal hasil panennya rendah?

Begini ceritanya. Berawal dari Hama. Kami memutuskan untuk bertani secara organik dan mulai meninggalkan ketergantungan terhadap pupuk kimia. Saat itu sawah dan tanaman kami diserang hama wereng yang menghancurkan pada tahun 2011. Kami gagal panen. Sejak kejadian tersebut saya berfikir apakah hama ini diakibatkan oleh musim yang buruk atau faktor lain. Di situ saya menemukan pilihan, sawahnya sudah miskin akan unsur hara yang terjadi akibat pemberian pupuk dan pertisida terus menerus. Maka kami beralih melakukan perlakuan secara organik dengan mengganti pupuk kimia dengan pupuk hayati yang dihasilkan oleh tumbuhan dan hewan.

Bukannya lebih mahal biayanya?

Justru terbalik. Memang awalnya sangat kesulitan karena untuk bertani secara organik, mengharuskan petani lebih sibuk, Jika sebelumnya hanya cukup membeli pupuk dan pestisida buatan yang banyak dijual di toko pertanian, dengan bertani organik mengharuskan mencari, membuat dan meramu sendiri pupuk dan pestisida alami yang akan digunakan.

Setidaknya membutuhkan 2 tahun untuk mengembalikan unsur hara yang telah hilang dari sawah. Jika diukur hasil gabahnya, dalam 2 tahun, jelas hasil gabahnya sedikit turun, dibandingkan dengan penanganan secara kimia. Kami terus ingin mengembalikan kondisi tanah sawah. Tekad saya, akan bertani seperti pada jaman kakek nenek saya dahulu yang tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia.

Sampai sekarang  Anda tidak menggunakan pupuk kimia?

Tidak lagi. Sejak tahun 2014 sudah terbukti sawah kami tanpa pupuk kimia. Hasilnya sudah seperti sawah tetangga yang pakai pupuk kimia. Untuk itu kami juga mengembangkan varietas beras merah, beras hitam, beras mentiksusu, beras sintanur, beras cemani dan beras merah putih.

Berapa pasaran beras yang Anda budidayakan ini dan apa harapan Anda?

Harga beras merah putih dibandrol Rp30.000/kg, lebih mahal katimbang beras putih. Tapi beras kami non pestisida yang dijamin baik untuk tubuh manusia khususnya pertumbuhan bagi bayi dan anak-anak. Harapan kami ada peran pemerintah membantu memasarkan produk kami.

Berapa sih luas sawah Anda dan kabarnya Anda pernah didapuk jadi petani prestasi?

Kalau sawah kami punya lahan seluas 4 hektare. Tahun 2015 kami hasilkan didaulat sebagai petani berprestasi dan diundang ke Istana Negara oleh Presiden RI dan pada Februari 2019, Presiden bertemu dengan Beras Merah Putih RI-1.

Pewanwancara: Gangsar DS