Pembangunan Irigasi Perpompaan Dorong IP-300

0
154

Kelompok Tani (Poktan) Rukun Makaryo Patuk, Gunungkidul, merupakan salah satu poktan yang dipercaya melaksanakan kegiatan pembangunan irigasi perpompaan untuk mendukung tanaman pangan.

Ketua Poktan Rukun Makaryo Jamari (64) mengatakan, irigasi pompa merupakan program yang sudah lama diimpikan para petani. Namun, baru terealisasi pada 2020.

“Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih kepada pemerintah atas bantuan pembangunan irigasi perpompaan. Dengan irigasi perpompaan, kami merasa lebih mudah menyuplai kebutuhan air,” kata Jamari.

Poktan Rukun Makaryo sendiri memiliki potensi lahan seluas 45 hektare (ha), yang dimanfaatkan untuk menanam padi, serta palawija atau kacang tanah. Sedangkan irigasi yang dimiliki bisa mencapai 20-30 ha padi.

“Jika biasanya petani mengkhawatirkan iklim dan hanya menanam 2 kali dalam setahun, setelah ada irigasi perpompaan, petani merasa aman, bahkan akan menanam padi 3 kali dalam setahun,” katanya.

Atas tambahan fasilitas irigasi perpompaan tersebut, Wakil Bupati Gunungkidul Imawan Wahyudi mengajak poktan bersyukur. Dengan irigasi perpompaan, petani lebih mudah mendapat air sehingga pertanaman lebih subur dan hasilnya lebih baik.

“Semua itu merupakan upaya untuk mengurangi kemiskinan,” kata Imawan, dalam Peresmian Irigasi Perpompaan Poktan Rukun Makaryo, Senin (6/7/2020).

Bagi Poktan Makaryo dan para petani di Gunungkidul, air memang merupakan faktor yang sangat penting. Maka dari itu, mereka beruntung lahannya berdekatan dengan Sungai Oya.

Sejauh ini, Sungai Oya tak pernah surut. Sungai yang membentang di wilayah Semin, Ngawen, Nglipar, Ponjong, Karangmojo, Gedangsari, dan Patuk tersebut pun mampu memenuhi kebutuhan air petani menggunakan perpompaan kecil perorangan.

Strategi Naikkan Produktivitas

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian ( PSP), menyambut baik peresmian irigasi pompa di Gunungkidul, Yogyakarta.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, irigasi bisa menjadi strategi untuk meningkatkan produktivitas, serta upaya mengantisipasi kemarau panjang.

“Apalagi, Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi Indonesia sebagai salah satu negara yang akan mengalami kemarau panjang,” kata Syahrul, Selasa (14/7/2020).

Senada dengan Syahrul, Direktur Jenderal (Dirjen) PSP Kementan Sarwo Edhy juga mengutarakan hal serupa. Menurutnya, pembangunan irigasi sejalan dengan program Ditjen PSP. “Ditjen PSP selalu berupaya meningkatkan luas pertanaman padi melalui pemanfaatan infrastruktur air,” katanya.

Saat ini, Gunungkidul telah memasuki masa panen musim kedua, dengan pertanaman padi seluas 8.522 ha. Pada Juni, 1.672 ha telah dipanen, sedangkan sisanya akan dipanen pada Juli.

Realisasi 19%

Kementan tahun 2020 menargetkan pembangunan 1.000 unit irigasi perpompaan. Sampai awal April 2020 realisasinya sudah mencapai 271 unit atau 19%.

Sarwo Edhy mengatakan, tujuan pembangunan irigasi perpompaan adalah untuk meningkatkan intensitas pertanaman, meningkatkan produktivitas pertanian, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Pembangunan irigasi perpompaan itu memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai suplesi air irigasi. “Pengembangan irigasi perpompaan juga mendukung subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan,” katanya kepada Agro Indonesia, Jumat (17/7/2020).

Dia menyebutkan, irigiasi perpompaan bisa membantu produktivitas dalam hijauan makanan ternak (HMT), serta untuk sanitasi dan minum ternak dari aspek penyediaan air.

Adapun dalam pembangunan irigasi perpompaan akan menerapkan sistem swakelola berpola padat karya, sehingga melibatkan anggota kelompok tani.

Mereka ini akan menerima bantuan agar lebih aktif bekerja. Tahapan pembangunan akan dilakukan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan serta pemeliharaan dengan melibatkan partisipasi penuh petani.

Sarwo Edhy menambahkan, program pembangunan itu diprioritaskan pada lokasi kawasan pertanian yang sering mengalami kendala atau kekurangan air irigasi terutama saat musim kemarau.

Sarwo mencontohkan pembangunan fisik irigasi perpompaan yang sudah teralisasi, yaitu di Desa Sangiang melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sauyunan, dan Desa Bojongloa dengan kelompok tani (poktan) Berkah Saluyu. Kedua desa ini berada di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dia mengatakan, di dua desa itu sedang dibangun pengairan seluas 40 ha untuk mendukung perkembangan tanaman pangan. “Hingga 1 April sudah ada realisasi keuangan sebesar 19,01% atau 271 unit untuk pembangunan irigasi perpompaan yang dilakukan secara padat karya,” ujarnya,

Adapun bentuk bantuan pendanaan yang diberikan kepada kelompok tani berupa pembelian pompa air, pekerjaan bak penampung, pembuatan rumah pompa, pembelian pipa serta pekerjaan saluran distribusi.

“Irigasi perpompaan ini bisa memenuhi kebutuhan suplai air pada musim kemarau di lahan petani yang jauh dari sumber air. Jadi air bisa ditarik ke lahan pertanian yang jauh dari sumber air,”  katanya. Sawo Edhy berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga petani memperoleh hasil yang maksimal juga. PSP