Pandemi COVID-19, Budidaya Hortikultura Meningkat

0
92
Budidaya hortikultura menjanjikan

Budidaya buah-buahan meningkat saat pandemi Covid-19. Buah kaya akan vitamin C, serat, antioksidan dan sederet kandungan lain yang menguatkan sistem kekebalan tubuh.

Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Liferdi Lukman mengatakan imbas pandemi COVID-19, permintaan masyarakat akan produk pertanian seperti hortikultura meningkat, bahkan, menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020.

 “Di saat pandemi, seluruh sektor mengalami minus. Pertumbuhan ekonomi kita -5,32%, namun sektor pertanian mampu tumbuh 16,24%,” ucapnya Senin, (10/8/2020).

Menurut dia, budidaya tanaman buah dalam pot (tambulapot) memiliki beberapa benefit secara bisnis. “Alasannya, keuntungan lebih besar, tingkat keberhasilan tinggi, dapat berbuah di luar musim, mudah dipindah, dan dapat dikembangkan di berbagai lahan,” katanya.

Liferdi mengajak masyarakat untuk membudidayakan buah-buahan di pekarangan rumahnya. Tren konsumsi kian meningkat seiring tingginya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan. Saat ini baru 50% masyarakat yang memenuhi kecukupan anjuran.

 “Pada dasarnya semua buah-buahan layak tabulampot. Meskipun demikian saya sarankan kita harus prospektif. Tanamlah buah-buahan yang unggul, eksotik, komersial dan produktivitasnya tinggi,” ucapnya.

Tanaman buah berprospek tinggi secara ekonomi tersebut antara lain golden melon, kelengkeng kateki, jambu air citra, srikaya rovi, durian bawor, jambu kristal dan alpukat cipedak.

Mantan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat (BPTP Jabar) ini lantas membuat simulasi keuntungan yang diraup dengan budi daya kelengkeng kateki secara tabulampot.

Dia menjelaskan jika sebuah desa terdiri dari 3 ribu kepala keluarga (KK) dan setiap KK menanam 20 pohon kelengkeng, maka tertanam 60 ribu pohon. Apabila produktivitas optimal tanaman 20 kilogram (kg) per pohon per tahun, maka diperkirakan dapat memproduksi 1.200 ton per tahun.

 “Sehingga jika setiap KK memproduksi 20 kilogram per tahun dengan harga Rp30.000 perkilogram, maka desa itu mendapatkan Rp36 miliar setiap tahunnya dari budi daya kelengkeng kateki,” urainya. Jamalzen