Peluang Cuka Kayu Dalam Mencegah Penyebaran COVID-19

0
141
Penjelasan pembuatan larutan disinfektan berbahan baku cuka kayu oleh Penyuluh Kehutanan dan tenaga Bakti Rimbawan BDLHK Samarinda

Oleh:

Setiasih Irawanti (Puskashut Yayasan Sarana Wana Jaya, Peneliti Utama Bidang Ekonomi Kehutanan dan Kebijakan Kehutanan) dan Widya Rahmi Hendita

Indonesia merupakan produsen dan negara pengekspor arang terbesar di dunia dimana 39% pasokan arang berasal dari Indonesia. Diperkirakan terdapat limbah pemanenan kayu sekitar 31,73 m3 per tahun, limbah industri kehutanan 27,32 juta m3 per tahun, dan limbah perkebunan yang dapat diolah menjadi arang (Pustekolah, 2013). Dalam proses produksi arang dihasilkan asap yang umumnya belum dimanfaatkan sehingga terbuang begitu saja atau bahkan menimbulkan masalah polusi lingkungan. Namun dengan menggunakan alat sederhana, asap tersebut dapat diubah menjadi cairan bermanfaat yang disebut asap cair atau cuka kayu (liquid smoke atau wood vinegar).

Pada prinsipnya teknologi pembuatan cuka kayu cukup sederhana, yaitu menggunakan teknologi pirolisis atau pembakaran sehingga dihasilkan arang dan asap, serta teknologi kondensasi atau pengembunan asap sehingga dihasilkan cuka kayu atau asap cair. Alat pembakarannya pun sangat mudah diperoleh karena dapat menggunakan drum bekas yang dikombinasikan dengan teknik kondensasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah teknik untuk mempertahankan agar proses pembakaran tetap berlangsung hingga kayu atau tempurung terbakar habis.

Cuka kayu merupakan cairan hasil kondensasi atau pengembunan uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa, dan senyawa karbon lainnya. Bahan baku yang banyak digunakan antara lain berbagai macam jenis kayu, bongkol kelapa sawit, tempurung kelapa, sekam, ampas atau serbuk gergaji kayu dan lain sebagainya. Selama pembakaran, komponen dari kayu akan mengalami pirolisa sehingga menghasilkan berbagai macam senyawa antara lain fenol, karbonil, asam, furan, alkohol, lakton, hidrokarbon, polisiklik aromatik dan lain sebagainya.

Sifat dari cuka kayu dipengaruhi oleh komponen utama bahan bakunya yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin yang proporsinya bervariasi tergantung pada jenis bahan yang dipirolisis. Sebagai contoh, kandungan utama asap cair tempurung kelapa adalah asam asetat (51,99%), fenol (19,90%), metil asetat (5,37%), furfural (4,56%), hidroksi aseton (2,90%), guaiakol (2,62%) dan siringol (1,85%) dimana asap cair tempurung kelapa memiliki pH sebesar 3,21 (Teras Lampung, 2014). Cuka kayu juga mengandung senyawa yang merugikan yaitu Tar dan senyawa benzopiren yang bersifat toksik dan karsinogenik. Pengaruh ini disebabkan adanya sejumlah senyawa kimia di dalam cuka kayu yang dapat bereaksi dengan komponen bahan makanan.

Upaya untuk memisahkan komponen berbahaya di dalam cuka kayu dapat dilakukan dengan cara redistilasi, yaitu proses pemisahan kembali suatu larutan berdasarkan titik didihnya. Redistilasi dilakukan untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang tidak diinginkan dan berbahaya sehingga diperoleh cuka kayu yang jernih, bebas tar, poliaromatik hidrokarbon (PAH) dan benzopiren pendispersi.

Kualitas Cuka Kayu

Produk cuka kayu terdiri dari tiga kelas kualitas yaitu cuka kayu kualitas 3 merupakan cairan berwarna hitam, kualitas 2 berwarna kekuningan dan kualitas 1 berwarna bening. Cuka kayu kualitas 3 merupakan hasil produksi pertama yang masih mengandung cairan kental hitam Tar sehingga berwarna hitam pekat, aroma asapnya cukup kuat, agak lengket, dan kegunaannya hanya untuk menghilangkan bau dari kotoran ternak, pengawetan kayu, dan penyubur tanah. Cairan ini tidak boleh terkena batang dan daun tanaman karena dapat menyebabkan terbakar. Untuk menghilangkan bau kotoran ternak dan untuk mengawetkan kayu, cuka kayu kualitas 3 dicampur air dengan perbandingan 1 bagian air dan 1 bagian cuka kayu.

Untuk mendapatkan cuka kayu kualitas lebih baik dapat dilakukan menggunakan teknik pemurnian asap cair dengan cara pengendapan dan penyulingan atau redistilasi. Cuka kayu kualitas 3 dimurnikan untuk membuang kandungan Tar sehingga menjadi cuka kayu kualitas 2 yang berwarna kuning coklat terang, rasa dan aroma asamnya agak kuat, serta cocok bila digunakan sebagai biopestisida. Untuk memberantas hama pada daun tanaman, cuka kayu kualitas 2 berfungsi sebagai insektisida yang disemprotkan pada tanaman. Untuk meningkatkan kesuburan tanah dilakukan dengan cara mencampur cuka kayu kualitas 2 ke dalam air dengan kadar 2%. Selain itu cuka kayu kualitas 2 juga bisa digunakan sebagai obat luar/kulit seperti luka dan gatal-gatal.

Cuka kayu murni kualitas 1 warnanya bening, rasanya sedikit asam, dan aman bila digunakan sebagai zat tambahan untuk produk makanan yaitu pengawet atau penambah cita rasa makanan. Sebagai contoh, dalam proses pembuatan ikan asin maka masyarakat pesisir mencampurkan cuka kayu kualitas 1 ke dalam air pencuci ikan dengan kadar 2% agar ikan asin tidak dihinggapi lalat atau kuman (Tribun Pontianak, 2020). Sebagai pengawet makanan, cuka kayukualitas 1 dapat juga dicampurkan ke dalam bahan pembuatan bakso atau mie.

Manfaat Cuka Kayu

Cuka kayu merupakan cairan hasil kondensasi asap selama proses karbonisasi atau pembuatan arang yang diketahui mengandung asam asetat, metanol, dan senyawa fenol yang dapat dijadikan sebagai biopestisida (Komarayati, Gusmailina, & Pari, 2011; Oramahi & Diba, 2013), dan asam organik yang bersifat antimikroba (Komarayati et al., 2011; Wu et al., 201 5). Cuka kayu mempunyai berbagai sifat fungsional, seperti (1) untuk memberi aroma, rasa dan warna karena mengandung senyawa fenol dan karbonil, (2) sebagai bahan pengawet alami karena mengandung senyawa fenol dan asam yang berperan sebagai antibakteri dan antioksidan, (3) sebagai bahan koagulan lateks pengganti asam format, serta (4) membantu pembentukan warna coklat pada produk sit. Manfaatnya sangat banyak, sebagai pengawet makanan, pembasmi hama dan penyakit tanaman, pupuk cair organik, penyubur tanaman, desinfektan dan inhibitor mikroorganisme serta pencegah jamur dan bakteri.

Aplikasi cuka kayu pada berbagai komoditas pertanian secara empiris menunjukan peningkatan pertumbuhan, kesehatan tanaman, produktivitas panen, serta keawetan hasil panen. Dalam bidang kehutanan, aplikasinya terbukti mampu meningkatkan persen tumbuh benih dan mencegah serangan hama penyakit pada semai beberapa jenis tanaman keras. Aplikasi cuka kayu untuk produk perkebunan, yaitu sebagai penggumpal getah karet, menggantikan penggumpal kimia atau asam semut yang menimbulkan bau busuk dan mengganggu kesehatan. Para petani karet di Bandar Mataram Lampung Tengah sudah menggunakan cuka kayu untuk menghilangkan aroma busuk getah karet atau lateks. Dalam bidang industri, cuka kayu juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan dan bahan campuran pada berbagai produk rumah tangga.

Badan Litbang dan Inovasi KLHK telah mengembangkan beberapa produk yang menggunakan bahan baku cuka kayu diantaranya pembersih lantai, pengharum ruangan, pupuk cair, anti rayap, biopestisida, anti nyamuk dan sabun. Seiring semangat back to nature, cairan organik cuka kayu memiliki prospek penggunaan yang cerah dalam berbagai bidang. Selain produksinya mengurangi polusi, perannya untuk menggantikan bahan-bahan kimia akan tidak terbantahkan di kemudian hari.

Senyawa fenol yang terkandung dalam cuka kayu mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat digunakan sebagai pengawet maupun disinfektan. Hasil penelitian IPB dan Badan Litbang Pertanian menyimpulkan bahwa asap cair tempurung kelapa dapat berfungsi sebagai disinfektan yang menghambat serangan penyakit antaraknosa pada penanganan pasca panen papaya, sehingga dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan buah. Tiga KTH yakni KTH Penepeh Lestari, KTH Sempaga, dan KTH Gunung Batuah di Kalimantan Selatan telah membuat disinfektan menggunakan bahan baku cuka kayu. Di era pandemi Covid-19, hasil pengujian asap cair dari kayu dan bambu dengan konsentrasi 1% sebagai disinfektan terhadap mikroorganisme yang terdapat pada telapak tangan terbukti efektif, memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme jika dibandingkan dengan etanol (alkohol) 70% yang selama ini sering dijadikan bahan dasar disinfektan (Gustan Pari, 2020). Ujicoba penggunaannya telah dilakukan dengan menyemprotkan disinfektan tersebut di seluruh ruangan kerja lingkup Kampus BLI, Bogor sebagai respons atas surat edaran Menteri LHK Siti Nurbaya tentang pencegahan penyebaran Covid-19.

Cuka kayu juga sudah dicoba untuk pengawetan ikan asap dan kualitas ikan asap yang dihasilkan sangat baik. Untuk pengawetan ikan asap, cukup menggunakan campuran 10% cuka kayu ke dalam air yang di gunakan untuk merendam ikan, setelah air untuk merendam habis maka dilakukan proses pengeringan ikan. Untuk pengawet makanan seperti bakso atau mie sebagai pengganti borak atau formalin cukup menggunakan cuka kayu dengan kadar maksimal 3% yang ditambahkan ke dalam air karenanya cuka kayu dapat menggantikan fungsi pestisida kimia yang berbahaya bagi kesehatan serta lingkungan.

Harian Forum.com (2020) menyampaikan bahwa pengalaman warga Subang Jawa Barat mengaku sembuh dari serangan virus corona penyebab Covid-19 karena telah mengonsumsi cuka kayu kualitas 1 sebanyak satu sendok makan setiap hari. Dijelaskan bahwa cuka kayu kualitas 1 ditambah rempah rempah dapat digunakan sebagai penangkal Covid-19. Aturan penggunaannya, untuk orang yang sehat meminum campuran cuka kayu kualitas 1 dan rempah rempah sebanyak 20 mililiter per hari, sedangkan bagi yang sakit atau positif terpapar Covid-19 50 mililiter per hari.

Cuka Kayu Sebagai Disinfektan

Dilansir dari laman Encyclopedia Britannica, pengertian disinfektan adalah agen antimikroba yang dirancang untuk menonaktifkan atau menghancurkan mikroorganisme pada permukaan lembab. Disinfektan yang ideal akan cepat menghancurkan bakteri, jamur, virus, dan protozoa tanpa merusak benda yang terkena cairan tersebut. Meski mampu membunuh mikroorganisme, namun tidak semua bisa mati hanya dengan disinfektan. Beberapa mikroorganisme ekstrem tetap harus menggunakan bahan-bahan kimia yang lebih keras juga, seperti biocides. Disinfektan bekerja dengan menghancurkan dinding sel mikroba atau mengganggu metabolisme, sedangkan biocides adalah bahan kimia atau mikroorganisme untuk menghancurkan, menghalangi bakteri, jamur, dan lainnya agar tidak berbahaya.

Disinfektan digunakan pada permukaan benda mati untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur kecuali spora bakteri yang menempel, tetapi tidak digunakan pada kulit maupun selaput lendir karena berisiko mengiritasi kulit dan berpotensi memicu kanker. Tidak selalu berbahan kimia, menurut Ahli PMKL Kemenkes RI, kita dapat membuat disinfektan alami yang aman bagi kesehatan. Senada dengan anjuran WHO, disinfektan alami tidak mengandung bahan kimia sehingga penggunaannya pun aman jika diaplikasikan langsung ke tubuh.

Disinfektan alami dapat dibuat sendiri dari bahan yang ada di sekitar. Cuka kayu mengandung fenol yang merupakan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2 persen dalam air. Fenol memiliki sifat toksik, stabil, tahan lama, berbau tidak sedap, dan dapat menyebabkan iritasi. Mekanisme kerjanya dengan menghancurkan dinding sel dan pengendapan protein sel dari mikroorganisme sehingga terjadi koagulasi dan kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut. Aturan pengunaan disinfektan (1) penggunaan disinfektan tergantung pada tingkat keperluannya, yaitu sebagai bantuan pendampingan, dan (2) bila ingin menggunakan, bersihkan dahulu media/objek dari debu yang ada di rumah, sebelum disinfektan disemprot. Setelah itu semprotkan dan bersihkan media/objek tersebut menggunakan lap mikrofiber.

Penutup

Pandemi Covid-19 membuka pemikiran masyarakat tentang peluang untuk membangun kekebalan tubuh atau mencegah penularan virus penyebab Covid-19 dengan cara memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitarnya. Dalam proses produksi arang dihasilkan asap yang mana dengan menggunakan alat sederhana dapat diubah menjadi cairan bermanfaat yang disebut asap cair atau cuka kayu (liquid smoke atau wood vinegar).

Cuka kayu atau asap cair mengandung asam asetat, metanol, dan senyawa fenol yang berfungsi sebagai biopestisida dan antimikroba. Di era pandemi Covid-19, hasil pengujian asap cair dari kayu dan bambu dengan konsentrasi 1% sebagai disinfektan terhadap mokroorganisme yang menempel pada telapak tangan terbukti efektif, memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme jika dibandingkan dengan etanol (alkohol) 70% yang selama ini sering dijadikan bahan dasar disinfektan.