Berbasis Perkebunan Tebu: Arah Baru Pengembangan Agrowisata di Indonesia

0
106
Perkebunan tebu (foto: pixabay)

Oleh:  Fadli, A.Md, S.E, M.Si (Praktisi Agribisnis) dan Denis Kurniawan Santoso, S.H (Praktisi Legal)

Salah satu indikator keberhasilan dari pengembangan agrowisata adalah meningkatnya tren minat pengunjung dan memiliki dampak sosial terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Melalui pengembangan agrowisata tebu yang berbasiskan edukasi di suatu daerah akan berdampak positif terhadap peningkatan pengetahuan pengunjung dan juga meningkatkan peningkatan pendapatan masyarakat terutama petani tebu. Agrowisata perkebunan tebu di suatu daerah menjadi terobosan baru dalam pengembangan agrowisata yang berkelanjutan. Konsep agrowisata perkebunan tebu ini sangat menarik karena petani tebu akan terlibat sebagai stakeholder agrowisata ini.

Konsep Dasar Pengembangan Agrowisata

 Agrowisata merupakan rangkaian wisata yang memanfaatkan potensi pertanian sebagai obyek wisata, baik berupa potensi pemandangan alam kawasan pertanian maupun kekhasan dan keanekaragaman aktivitas produksi dan teknologi pertanian serta budaya masyarakat petaninya. Ranah dari agrowisata adalah perhutanan dan sumber daya pertanian, dimana perpaduan antara keindahan alam, kehidupan masyarakat perdesaan dan potensi pertanian apabila dikelola dengan baik dapat meningkatkan daya tarik wisatawan. Pengembangan agrowisata di suatu daerah akan memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan pemerintah. Hal ini bisa terwujud ketika agrowisata dikombinasikan fungsinya sebagai fungsi pariwisata, fungsi budidaya pertanian dan pemukiman perdesaan, serta fungsi konservasi (Sastrayuda, 2010). Menurut Tirtawinata dan Fachruddin (1996) agrowisata dapat memberikan manfaat: a) meningkatkan konservasi lingkungan, b) meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam, c) memberikan nilai rekreasi, d) meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan e) mendapatkan keuntungan ekonomi.

Menurut Spillane (1994), untuk dapat mengembangkan suatu kawasan menjadi kawasan pariwisata (termasuk juga agrowisata) terdapat 5 unsur yang harus dipenuhi, yaitu atraksi, fasilitas, infrasturktur, transportasi, dan keramahan pelayanan. Menurut Laverack dan Thangphet (2009), keterlibatan masyarakat dan pemberdayaannya juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan rakyat yang selama ini dinilai relatif lemah, serta sekaligus akan membantu pemerintah dalam memerangi terjadinya urban sprawl yang selama ini belum ada cara ampuh untuk memeranginya.

Berdasarkan karakteristiknya yang mendasarkan seluruh operasi pada pertanian dan lahan, maka pengembangan agrowisata selalu menuntut pengembangan seluruh subsistem pertanian secara terintegrasi. Seluruh subsistem agrowisata terikat dalam kesatuan kawasan, sehingga untuk mengembangkan agrowisata, pengembangan kawasan mutlak diperlukan. Pengembangan kawasan agrowisata dapat dilaksanakan berdasarkan interaksi subsistem yang ada (Che et al. 2005; Aref & Gill 2009), produk unggulan sebagai ciri khas penguat agrowisata (Kuswiati 2008) dan lingkungan di sekelilingnya (Sznajder et al. 2009; Hakim & Nakagoshi, 2009; Desbiolles 2010). Menurut penulis, dalam merancang konsep pengembangan agrowisata berbasis perkebunan tebu pada suatu daerah tidak akan terlepas dari tinjauan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman ketika perkebunan tebu dijadikan sebagai komoditas atau obyek agrowisata.

 

Potensi Agrowisata di Indonesia

Sebagai negara agraris, masih sangat banyak potensi yang dapat dikembangkan dari keuntungan geografis yang didapatkan oleh Indonesia. Perkebunan apel di Batu Malang menjadi salah satu contoh agrowisata yang cukup dikenal di nusantara dan menjadi salah satu role model agrowisata di Indonesia.

Dalam pengelolaan agrowisata di Indonesia tentu saja harus memiliki pola yang jelas dalam pembangunan maupun pengelolaan sehingga dari pemerintah daerah, pelaku usaha maupun wisatawan dapat bersinergi sehingga tempat yang berpotensi menjadi agrowisata dapat berjalan secara kontinyuitas, tidak hanya sekedar “booming” sementara lalu tempat tersebut ditinggal oleh para wisatawan.

Beberapa pola yang mungkin dapat diperhatikan dalam perkembangan agrowisata di Indonesia yang pertama adalah keterlibatan dunia pertanian dalam pariwisata. Sentuhan paling ringan terjadi, kalau obyek pertanian itu hanya sekadar jadi pelengkap. Wisatawan tidak mempedulikan proses budidaya komoditas tersebut yang penting menikmati keindahan alam, lalu pulangnya membawa oleh-oleh berupa komoditas yang ada di tempat tersebut. Pola kedua, wisatawan tidak hanya cukup membeli komoditas tersebut, melainkan juga ingin melihat tanaman ataupun bahan baku yang digunakan dalam pembuatan komoditas tersebut. Pola ketiga, wisatawan selain membeli produk pertanian, melihat proses budidaya maupun pascapanen, sekaligus juga ingin tahu lebih jauh, sehingga mereka memerlukan penjelasan proses pembuatan komoditas tersebut. Pola keempat, wisatawan bukan hanya sekadar membeli komoditas tersebut, melihat atau mendapat penjelasan sekadarnya, mereka juga berminat untuk tahu secara mendalam dan ikut menikmati proses budidaya maupun pascapanen, sehingga perlu ikut terlibat melakukannya dan tinggal di lokasi pertanian dalam jangka waktu tertentu.

Dari keempat pola konsep pengembangan agrowisata tersebut di atas, semua pengembangan yang ingin dilakukan dalam agrowisata tergantung terhadap potensi yang didapat di daerah tersebut dan tentunya perlu dukungan penuh dan fokus pengembangan agrowisata yang dilakukan oleh pemerintah setempat sehingga daerah tersebut bisa mendapatkan pendapatan yang lebih baik ketimbang hanya sekedar menjual hasil alam.

 

Politik Pengembangan Agrowisata

Pendekatan politik menjadi penting sebagai upaya menjadikan agrowisata sebagai sarana dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Langkah riil yang bisa dilakukan adalah memperkuat kelembagaan agrowisata beradasarkan potensi lokal berbasiskan masyarakat setiap daerah. Melalui pengembangan agrowisata dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membantu penyerapan tenaga kerja. Salah satu contoh yang digenjot pemerintah melalui Kementerian PDTT adalah Desa Wisata yang fokus mengembangkan Desa yang berlandaskan pada potensi Agro. Pengembangan agrowisata tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan kemandirian ekonomi dan pelestarian budaya desa.

Output yang diharapkan dari keberadaan agrowisata adalah penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang lebih banyak di wilayah perdesaan. Tingginya penyerapan tenaga kerja pada sektor agrowisata menjadi salah satu indikator bahwa agrowisata sebagai salah satu sektor yang berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurut Sutjipta (2001), agrowisata merupakan sebuah sistem kegiatan yang terpadu dan terkoordinasi untuk pengembangan pariwisata sekaligus pertanian dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan  dan peningkatan kesejahteraan masyarakat petani.

Harapan petani terhadap kontribusi agrowisata dalam peningkatan kesejahteraan, sebagai berikut (Mosher dalam Sutjipta, 2001): a) petani merasa terbantu jika keberadaan agrowisata sebagai wadah dalam pemasaran hasil pertanian, b) terjadi perkembangan teknologi pertanian yang dinamis, c) tersedianya sarana produksi, d) dapat meningkatkan semangat kerja petani dalam meningkatkan produksi pertanian, dan e) terbangunnya infrastruktur yang memadai untuk sektor pertanian, sehingga mempermudah petani dalam kegiatan distribusi produk pertanian.

Gunawan (2016) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agrowisata berbasis masyarakat di desa adalah faktor internal dan faktor eksternal. Potensi desa yang potensial dikembangkan menjadi daya tarik agrowisata, yaitu potensi wisata alam, potensi wisata pertanian, potensi wisata budaya dan potensi wisata aktivitas. Strategi pengembangan agrowisata berdasarkan potensi desa, Gunawan (2016) menyebutkan beberapa strategi diantaranya adalah: a) pengembangan produk agrowisata yang berkualitas dan promosi ditingkatkan, b) pengembangan pasar dalam negeri dan program penatausahaan agrowisata, c) meningkatkan SDM dan wawasan masyarakat, d) peningkatan infrastruktur penunjang, dan e) promosi sektor pertanian yang menjadi unggulan.

Tirtawinata, et al (1999), menyebutkan beberapa manfaat agrowisata antara lain: a) meningkatkan konservasi lingkungan, b) meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam, c) memberi nilai rekreasi, d) meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan e) mendapatkan keuntungan ekonomi. Pambudi et al (2018), menyebutkan bahwa harapan dari aktifitas agrowisata ini adalah peningkatan pendapatan petani, melestarikan sumberdaya lahan, dan terjaganya teknologi pertanian lokal.

Menarikkah Agrowisata Perkebunan Tebu?

Tebu (sugar cane) adalah tanaman perkebunan yang ditanam untuk bahan baku gula dan mononatrium glutamat/monosodium glutamat (MSG). Tebu termasuk tanaman jenis rumput-rumputan dan hanya tumbuh di daerah beriklim tropis. Adapun untuk umur tanaman tebu mulai ditanam sampai dipanen mencapai kurang lebih 12 bulan. Salah satu wilayah yang banyak ditemukan tanaman tebu adalah Pulau Jawa. Perkebunan tebu menjadi bagian yang sangat penting dalam mendukung pergulaan nasional, karena tebu adalah bahan baku utama industri gula dalam menghasilkan Gula Kristal Putih (GKP) dan produk samping lainnya. Namun, harga gula yang cenderung fluktuatif menyebabkan produksi tebu mengalami kenaikan dan penurunan yang berpengaruh terhadap pembangunan dan keberlanjutan pabrik olahan tebu (pabrik gula). Harga yang layak akan mendorong petani dalam menjaga kualitas tebu yang akan diproduksi.

Perkebunan tebu merupakan bagian dari pabrik gula, karena pada hakekatnya perusahaan pemilik pabrik gula adalah sekaligus pemilik perkebunan tebu, berbeda dengan sub kawasan lainnya pada kawasan perkebunan tebu tersebut tidak terdapat tinggalan monumen industri. Tetapi terkadang dijumpai toponimi atau nama yang menunjukkan tempat yakni “Patebon” pada perkebunan tebu yang artinya ialah tempat atau lokasi penanaman tebu. Toponimi tersebut dijumpai di Pabrik Gula Cepiring Kendal (Inagurasi. 2010). Menurut penulis, seharusnya perkebunan tebu tidak hanya dijadikan sebagai perkebunan untuk menunjang bahan baku industri gula tetapi juga bisa dioptimalkan sebagai wilayah agrowisata perkebunan di perdesaan.

Pengembangan agrowisata berbasis perkebuanan tebu sangat menarik dan potensial dikembangkan dalam meningkatkan ekonomi desa atau daerah yang memiliki lahan tebu dalam hamparan luas. Banyak hal yang bisa dinikmati ketika perkebunan tebu dijadikan sebagai obyek wisata, antara lain bunga tebu yang sangat menarik dijadikan objek berfoto, edukasi cara berbudidaya, panan dan penanganan pasca panen tanaman tebu, serta menikmati keindahan alam dalam hamparan tebu yang luas.

Sebagai wilayah perkebunan, perkebunan tebu memiliki daya tarik tersendiri jika dioptimalkan sebagai agrowisata. Hal senada disampaikan oleh Evizal (2014), menyebutkan bahwa perkebunan mempunyai daya tarik sebagai tempat wisata, beberapa faktor disebabkan karena (1) Memiliki panorama yang indah dan khas didukung suasana yang nyaman, sejuk, dan jauh dari rutinitas dan kebisingan kota, (2) Dekat dengan sumberdaya alam yang indah seperti hutan, gunung, sungai, danau, atau air terjun, (3) Tersedia jalan serta rute wisata serta didukung sarana dan prasarana terutama di perusahaan perkebunan, (4) Aktivitas produksi yang riil siap untuk dikunjungi wisatawan, meliputi kegiatan budidaya, pascapanen, dan pengolahan di pabrik, (5) Aktivitas keseharian komunitas perkebunan menarik bagi masyarakat di luar perkebunan, (6) Proses produksi dan teknologi yang diterapkan perkebunan menarik untuk penyelenggaraan wisata edukasi baik untuk tingkat pendidikan dasar, menengah, perguruan tinggi, dan umum, dan (7) Produk yang dihasilkan perkebunan dapat disuguhkan di lapangan atau dijual sebagai oleh-oleh.

Dalam membuat kawasan agrowisata perkebunan tebu menjadi menarik untuk dikunjungi, terdapat beberapa hal pokok yang menjadi perhatian sebagai berikut: a) pengembangan agrowisata perkebunan tebu sebaiknya mengacu kepada Masterplan Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS), b) Peningkatan aksesibilitas menuju kawasan agrowisata tebu, c) peningkatan pembinaan bidang agrowisata bagi pelaku dan pengampu kegiatan agrowisata perkebunan tebu, d) Peningkatan Kompetensi SDM Pengelola, e) Promosi dan pemasaran agrowisata perkebunan tebu ditingkatkan, dan f) Peningkatan kerjasama antar pelaku agrowisata perkebunan tebu secara terpadu.

Oleh karena itu, menurut penulis bahwa pengembangan agrowisata perkebunan tebu sangat prospektif untuk dikembangkan menajdi bagian dalam industri usaha agrowisata perkebunan tebu. Melalui pengembangan agrowisata perkebunan tebu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan petani tebu akan menjadi lebih sejahtera.