Kekeringan Mulai Terjadi

0
78

Kekeringan mulai dirasakan sejumlah daerah dan Kementerian Pertanian terus memantau serta mengamankan kebutuhan pangan pokok, terutama beras. Petani pun didorong untuk ikut asuransi pertanian, terutama Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang disubsidi pemerintah, karena petani dapat ganti rugi jika gagal panen.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan sebanyak 64% wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau dan kekeringan mulai terjadi di sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera. Kementerian Pertanian juga sudah mengimbau agar petani melakukan budidaya sesuai iklim setempat dan menggunakan varietas yang toleran kekeringan.

Sejauh ini, kekeringan sudah terjadi di Aceh dan memanggang 16.867 hektare (ha) sawah, di mana 2.443 ha di antaranya puso alias gagal panen. Di NTB, tercatat seluas 6.370 ha sawah mengering dan puso 459 ha. Di Jawa Tengah, salah satu sentra produksi padi nasional, kekeringan juga memanggang 3.953 ha dan 591 ha puso. Begitu pula dengan Jawa Timur, kekeringan melanda areal sawah seluas 3.542 ha dan puso 301 ha. Sumatera Utara juga dilaporkan kekeringan melanda 3.902 ha sawah dan 119 ha puso.

Di Jawa Barat juga dilaporkan kekeringan sudah terjadi di Cirebon, Bogor dan Indramayu. Biasanya, kekeringan kerap terjadi di wilayah Pantura, seperti Indramayu, Karawang dan Cirebon, tapi kini Tasikmalaya dan Bogor yang ada di wilayah selatan juga mulai kekeringan.

“Provinsi yang paling terdampak adalah Aceh, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Jawa Timur,” kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Kementan, Edi Purnawan di Jakarta, Jumat (28/8/2020). Hanya saja, dia mengaku kekeringan yang terjadi belum mengganggu produksi nasional. Pasalnya, dari Januari-Agustus 2020 luas kekeringan hanya 0,05% dari luas tanam yang mencapai 9.017.599 ha. Potensi kehilangan hasil yang diakibatkan kekeringan sebesar 20.117 ton.

Menurut Edi, Kementan sudah mengirim Surat Kewaspadaan kepada daerah setiap memasuki Musim Hujan (MH) dan Musim Kemarau (MK). Hal ini penting untuk mengingatkan agar mewaspadai kejadian banjir/kekeringan berdasarkan informasi iklim dari BMKG. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah daerah untuk menormalisasi saluran atau penampungan air, memonitor ketersediaan air di waduk dan bendungan.

Yang paling penting, petani diminta ikut Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) karena akan melindungi petani dari kerugian akibat kekeringan, banjir dan serangan hama. Dengan premi yang murah hanya Rp36.000/ha/musim tanam, karena disubsidi pemerintah, petani akan dapat ganti rugi Rp6 juta/ha/musim tanam.

“Asuransi adalah solusi terbaik petani untuk menghadapi serangan hama ataupun bencana kekeringan dan banjir. Kerugian yang ditimbulkan akibat gagal panen bisa diganti dengan klaim. Petani bukan hanya terhindar dari kerugian, tetapi juga bisa kembali bersiap untuk menanam,” ujar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy, Jumat (29/8/2020). AI