Perluas Pasar di Jepang, Indonesia Perlu Diversifikasi Produk Kayu Lapis

0
66
Industri plywood

Menguasai pasar produk kayu lapis di Jepang, Indonesia masih berpeluang untuk menambah luas penguasaan dengan memanfaatkan teknologi dan diversifikasi produk. Perluasan pasar di Jepang bisa membantu peningkatan ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

Kuasa Usaha ad interim Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Jepang, Tri Purnajaya mengungkapkan total ekspor komoditas kehutanan Indonesia ke Jepang pada tahun 2019 mencapai 1,55 miliar dolar AS. Indonesia termasuk 5 besar pemasok kayu terbesar ke Jepang, khususnya untuk produk HS 44 (komoditas kayu dan olahan kayu) dengan market share 8,21%.

“Kebutuhan akan kayu lapis yang tinggi di Jepang telah menjadikan Jepang sebagai mitra strategis Indonesia di bidang kehutanan” ujarnya saat diskusi Indonesia-Japan Virtual Forum On Wood Products “Meet The Demand and Supply of Plywood Products”, Kamis (10/9/2020). Diskusi tersebut diselenggarakan oleh KBRI Tokyo bekerja sama dengan Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI).

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini memang tidak dapat dipungkiri telah memukul perdagangan dunia dan menghadirkan tantangan tersendiri. Tercatat, impor Jepang dari Indonesia untuk komoditas kayu dan olahannya per Semester I 2020 mengalami penurunan sebesar 4,34% atau mencapai 20,38 juta dolar.

“Penurunan nilai perdagangan kayu ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia saja, namun juga oleh negara pengekspor kayu lainnya seperti China, Kanada, Filipina dan juga Malaysia,” ungkap Tri.

Akan tetapi, Tri Purnajaya tetap optimis seiring demand di Jepang yang masih tinggi untuk produk kayu dan olahannya, nilai perdagangan kayu Indonesia dan Jepang dapat meningkat lagi ke depannya.

“Masih terdapat sejumlah produk plywood yang meningkat permintaannya di Jepang, selain itu juga produk-produk kehutanan Indonesia lainnya pun berpeluang sangat besar masuk ke pasar Jepang seperti furniture, kertas dan kertas karton serta pulp dari kayu,” imbuhnya.

Tri Purnajaya menegaskan KBRI Tokyo siap bermitra untuk mendukung peningkatan ekspor produk kayu olahan Indonesia khususnya plywood ke Jepang melalui peningkatan teknologi dan diversifikasi produk.

Keunggulan Indonesia

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), yang juga Ketua Forum  Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI), Indroyono Soesilo menyatakan akibat pandemi COVID-19, ekspor produk kehutanan Indonesia ke Jepang mengalami penurunan.

“Ekspor produk kehutanan kita ke Jepang periode Januari-Agustus 2020 sebesar 785 juta dolar, artinya terjadi penurunan sebesar 11 %  dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 882 juta dolar,” katanya.

Lebih lanjut Indroyono menegaskan, sebetulnya ekspor ke Jepang sudah hampir rebound pada April yang lalu dimana penurunan ekspor sudah tinggal 1%. Sayangnya pada bulan Mei kembali menurun, dan Juli ke Agustus menurun tajam.

Makoto Daimon dari Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang menyatakan bahwa ekspor produk kehutanan Indonesia ke Jepang masih terbuka dengan penerapan UU Perkayuan Jepang yang dikenal dengan Clean Wood Act. Produk Indonesia memiliki keunggulan karena sudah menerapkan Sertifikasi Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), yang juga sudah diakui oleh Uni Eropa sebagai lisensi FLEGT.

Impor Mesin

Handjaja dari Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO) menyatakan Indonesia adalah eksportir kayu lapis nomor dua terbesar di Dunia setelah China. Nilai ekspor kayu lapis Indonesia ke seluruh Dunia mencapai 1,7 miliar dolar di tahun 2019, dimana 635 juta dolar diperoleh dari ekspor ke Jepang.  Di Jepang sendiri,  produk kayu lapis Indonesia harus bersaing dengan produk yang datang dari China, Malaysia dan Filipina.

“Plywood kita mendapatkan tempat khusus di pasar Jepang, mengingat plywood kita memenuhi kualitas yang dipersyaratkan (JAS Factory), selain itu juga plywood kita mempunyai nilai lebih karena memiliki SVLK dimana bahan bakunya berasal dari hutan yang dikelola secara lestari,” ujar Handjaya.

Untuk meningkatkan ekspor, para pengusaha kayu lapis Indonesia mengharapkan adanya kebijakan impor mesin tidak baru untuk industri kayu lapis, yang tengah disiapkan Pemerintah, dapat segera terbit.

Menurut Kiyotaka Okada, Direktur Eksekutif Asosiasi Importir Kayu Jepang (JLIA) ada peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor mengingat Malaysia dan Filipina kesulitan bahan baku

Atase Kehutanan KBRI Tokyo Riva Rovani mengungkapkan, terdapat potensi besar untuk meningkatkan nilai ekspor kayu lapis ke Jepang, namun diperlukan strategi lebih lanjut.

Dalam jangka panjang, terdapat sejumlah produk plywood tertentu yang permintaannya semakin meningkat di Jepang, seperti kayu lapis tipis, ukuran tebal 2.4 mm, yang dikenal sebagai kayu lapis Usumono. Selain itu, terdapat potensi ekspor untuk produk non-plywood yaitu serpih kayu, parquet flooring dari kayu dan arang kayu yang sangat dibutuhkan oleh konsumen Jepang saat ini.

“Oleh karena itu, industri kehutanan di Indonesia perlu segera melakukan diversifikasi produk kayunya” kata Riva.

 Sugiharto