Asal Tercatat di e-RDKK, Petani Bisa Tebus Pupuk Subsidi

* Meski Tak Ada Kartu Tani

0
70

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan, petani masih bisa menebus pupuk subsidi meski belum mendapatkan Kartu Tani. Syaratnya, petani harus tercantum dalam rencana definitif kebutuhan kelompok elektronik (e-RDKK).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan, pemerintah terus memperbaiki pola distribusi pupuk subsidi agar semakin baik.  Sebelum Kartu Tani efektif digunakan, petani tetap bisa menebus pupuk subsidi. Asalkan data petani masuk dalam e-RDKK.

Untuk Kartu Tani, kata Syahrul, pihaknya akan meminta Himbara (Himpunan Bank Negara) memaksimalkan sarana dan prasarana pendukung Kartu Tani dahulu, termasuk memasifkan distribusi Kartu Tani. Jika semua sudah siap, baru Kartu Tani digunakan secara efektif.

Sementara Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengutarakan hal serupa. Hanya saja, Sarwo Edhy berharap distribusi Kartu Tani juga disertai sosialisasi.

“Sosialisasi harus juga dilakukan bersamaan dengan distribusi Kartu Tani, sehingga petani mengerti cara menggunakan serta manfaat dari kartu yang mereka pegang,” katanya.

Menurut dia, e-RDKK akan tetap menjadi acuan untuk mendistribusikan pupuk subsidi. Apalagi, data di e-RDKK valid hingga 94%. Dengan e-RDKK yang berdasarkan by name by address, data sangat valid hingga 94% dan mendapat apresiasi dari KPK.

“e-RDKK menjadi acuan untuk distribusi dengan Kartu Tani. Harapan kita tingkat validasi bisa terus bertambah,” terangnya.

Sarwo Edhy mengingatkan petani untuk bergabung dengan kelompok tani jika ingin mendapatkan pupuk subsidi.  Berdasarkan Permentan No. 10 tahun 2020, pupuk subsidi ditujukan untuk petani yang tergabung dalam kelompok. Kelompok tani wajib penyusunan RDKK dan menggarap lahan paling luas 2 hektare (ha). Sedangkan petani tambak paling luas 2 ha/MT.

Menurut dia, distribusi pupuk subsidi harus memenuhi unsur 6T, yaitu Tepat Jenis, Tepat Mutu, Tepat Jumlah, Tepat Tempat, Tepat Waktu, Tepat Harga, dan Tepat Sasaran.

Tambahan 720 Ton

Sementara kabar kekurangan pupuk bersubsidi untuk petani di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara (Sumut) direspon cepat oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menambah alokasi pupuk sebanyak 720 ton.

Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, disetujuinya permintaan untuk menambah alokasi pupuk subsidi adalah kabar baik buat insan pertanian. Tujuannya untuk meningkatkan produksi pertanian.

“Jika nanti penambahan pupuk subsidi sudah direalisasi, kita ingin agar dampaknya pada produktivitas pertanian juga terjadi. Produksi pertanian harus meningkat dan penambahan pupuk subsidi akan turut menunjang ketahanan pangan,” kata Mentan SYL, Sabtu (7/11/2020).

Mentan Syarul menegaskan, pemerintah juga berkomitmen untuk serius memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi petani. Presiden Joko Widodo telah menyetujui tambahan pupuk bersubsidi dengan volume 1 juta ton atau senilai Rp3,14 triliun.

Hal itu, lanjut Syahrul, mengingat sektor pertanian memiliki peran vital dalam menyelamatkan perekonomian nasional dan ketahanan pangan rakyat di saat pandemi Covid-19.

BPS mencatat sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto pada kuartal II/2020 dengan capaian 16,24% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dikuranginya alokasi pupuk subsidi di tahun ini, memang membuat Kementan menjadi lebih selektif dalam pendistribusian pupuk subsidi. “Tapi kita bisa pastikan stok pupuk yang ada di gudang pabrik pupuk aman, artinya mencukupi. Kita juga berusaha agar aloksi pupuk subsidi bisa ditambah agar pertanian maksimal,” katanya.

Sementara Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menegaskan, pihaknya tidak tinggal diam mendengar keluhan petani di sejumlah daerah mengenai keberadaan pupuk, termasuk di Sumut ini.

“Kita sudah menyiapkan berbagai langkah dan strategi untuk mengamankan kebutuhan pupuk para petani. Salah satu upaya yang kita tempuh adalah melakukan realokasi pupuk subsidi tersebut,” ujar Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menjelaskan, salah satu langkah yang akan diambil adalah akan menarik alokasi pupuk di Desember ke bulan Oktober dan November.

“Kita juga akan melakukan realokasi untuk daerah kebutuhannya telah tercukupi dan memiliki stok lebih, kita akan tarik ke daerah yang masih kurang pupuknya. Langkah ini bisa lebih efektif dalam menghadapi permasalahan,” tutur Sarwo Edhy.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Karo, Metehsa Purba mengatakan, penambahan pupuk tersebut sudah dialokasikan ke seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Karo ini melalui distributor.

Penambahan pupuk tersebut adalah untuk Pupuk urea di Kecamatan Barusjahe sebanyak 50 ton, SP-36 sebanyak  75 ton, ZA  bertama 30 ton dan NPK Phonska 40 ton.

Untuk Kecamatan Berastagi, Urea 10 ton, Sp-36  sebanyak 15 ton, ZA sebanyak 5 ton dan NPK Phonska 20 ton. Untuk kecamatan Dolatrayat, Urea 30 ton, SP 36 5 ton, ZA 0 ton dan Phonska 5 ton. Untuk Kecamatan Juhar, Urea 370 ton, SP 36 30 ton, ZA 10 ton dan NPK Phonska 25 ton dan sebagian lagi untuk kecamatan lainnya.

Jadi, jumlah keseluruhan untuk alokasi pupuk subsidi untuk tahun 2020 yang disalurkan kepada petani urea  sebanyak 14,680 ton, SP 36 sebanyak 3,391 ton, ZA 3.904 ton, NPK Phonska 8.410 ton dan organik 2.994 ton.

Dukung Kementan

Direktur Utama Dwi Satriyo Annurogo menyatakan, Petrokimia Gresik (PG) senantiasa mendukung pemerintah (Kementan) dan siap berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya menyukseskan musim tanam, terutama di Wilayah Indonesia Timur

Berdasarkan data dari Perum BULOG, kemandirian pangan Indonesia Timur perlu terus ditingkatkan jika diukur dari komoditas atau produksi beras. Apalagi, sekarang konsumsi masyarakat di sana banyak beralih dari sagu ke beras.

Untuk itu, Kementan mencoba untuk menumbuhkan sentra produksi tanaman pangan di beberapa kawasan Indonesia Timur, termasuk padi dengan varietas Gogo. Selama ini pasokan beras didatangkan dari Jawa Timur.

“Indonesia Timur harus mendapatkan kawalan ekstra pada saat memasuki musim tanam kedua tahun 2020, apalagi musim tanam kali ini berlangsung di tengah wabah Covid-19,” ujar Dwi Satriyo.

Patut disyukuri bersama, sektor pertanian mampu tumbuh di tengah wabah COVID-19. Untuk itu, capaian ini harus terus digenjot bersama sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam upaya memulihkan kembali ekonomi nasional.

Adapun strategi Petrokimia Gresik dalam upaya meningkatkan ekonomi nasional melalui peningkatkan produktivitas pertanian, ujar Dwi Satriyo, pertama adalah melakukan demonstration plot (demplot) dan panen raya di sejumlah tempat.

“Demplot ini tentu dilakukan dengan mengaplikasikan pemupukan berimbang rekomendasi Petrokimia Gresik, sehingga hasil panen pun melimpah,” kata Dwi Satriyo.

Kedua, Petrokimia Gresik juga telah memberikan bantuan pupuk di Kabupaten Bungo (NPK Phonska Plus), Kota Madiun (Petroganik), dan melakukan “One Day Promotion” khusus untuk 3 (tiga) produk non-subsidi retail andalan, yaitu NPK Phonska Plus, NPK Petro Nitrat, dan NPK Petro Ningrat di 16 kios yang tersebar di 8 (delapan) provinsi.

Ketiga, Petrokimia Gresik melakukan penyemprotan massal menggunakan pupuk organik cair Phonska Oca di enam daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, antara lain Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, Bojonegoro, Sragen dan Banjarnegara.

Keempat membangun kampung percontohan. Petrokimia Gresik telah membangkitkan asa pertanian melalui tiga kampung percontohan, antara lain “Kampung Petro Nitrat” di Konawe (Sulawesi Tenggara), “Kampung Naga Petrokimia” di Banyuwangi (Jawa Timur) dan “Kampung Petroganik” di Mojokerto (Jawa Timur).

Dwi Satriyo mengatakan, melalui berbagai program tersebut pihaknya berupaya meningkatkan optimisme petani di tengah wabah COVID-19, agar sektor hulu pertanian tetap berjalan sehingga ketahanan pangan dapat tetap terjaga. PSP