Guppy, Skala Rumahan Omzet Jutaan

0
61
Ikan guppy (Image by Zucky123 from Pixabay )

Guppy adalah salah satu spesies ikan hias air tawar yang populer di dunia. Ikan hias guppy memang kian digandrungi pasar internasional. Warnanya yang cerah dan bentuknya yang unik menjadi daya tarik sendiri.

Ikan guppy merupakan ikan hias asli dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Ikan guppy atau Poecilia reticulata merupakan ikan yang mudah membiak. Habitat asli ikan guppy di danau-danau dan sungai berair tenang. Ikan ini bisa juga bertahan di air payau yang memiliki kadar garam tinggi.

Ikan guppy masuk ke Indonesia pada awal 1920. Masuk ke Indonesia pada tahun 1920-an sebagai ikan akuarium. Kemudian lepas ke alam bebas dan berkembang biak dengan cepat. Ikan guppy bisa ditemukan di hampir seluruh perairan air tawar di Indonesia.

Awalnya ikan ini untuk memakan jentik atau larva nyamuk malaria, kini menjadi ikan hias yang banyak dipelihara pehobi. Ikan guppy digemari sebagai ikan hias karena keindahan warna dan bentuk siripnya. Terutama ikan yang berkelamin jantan karena hanya yang jantan yang memiliki sirip indah. Sedangkan ikan betina warnanya cenderung kusam

Seiring berkembangnya jumlah peminat ikan guppy, jenis ikan ini berkembang sangat banyak. Jenis ikan Guppy yang saat ini tercatat di seluruh dunia ada ratusan jenis dan akan terus bertambah dengan proses penyilangan dari breeder seluruh dunia yang tidak pernah berhenti,

Lalu bagaimana dengan perkembangan guppy saat pandemi ini? Penyebaran wabah corona yang begitu cepat tentunya ikut memengaruhi putaran roda ekonomi dan sejumlah sektor usaha di tanah air hampir nyaris terhenti.

Saat sejumlah usaha gulung tikar, justru budidaya ikan guppy semakin menjanjikan Ternyata ikan Guppy tetap berkembang, tetap digemari, bahkan melejit di saat pandemi corona. Peluang bisnis ikan hias menjadi ladang usaha yang menjanjikan di tengah pandemi. Tren penjualan ikan hias terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun harga,

Seperti yang disampaikan oleh San Suranto W, pendiri Arya Guppy di Gesikan RT 04 Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogya. Suranto mengaku usaha guppy saat pandemi ini justru hasilnya berlipat dari bulan bulan biasanya. Kalau biasanya sebulan omset Rp2juta-Rp3 juta, disaat pandemi ini bisa sampai Rp5 juta-Rp9 juta. Kalaupun turun omzet, itu karena stok habis, guppy yang ada masih kecil, belum layak jual.

San Suranto dan anaknya, Arya. Pemilik Arya Guppy, Bantul Yogyakarta

“Saat pandemi virus corona 19 guppy justru melejit. Salah satu yang jadi faktor, banyak orang mulai menggeluti hobi yang tak tersalurkan karena kesibukan aktivitas sehari-hari. Banyak orang dirumahkan, bekerja dari rumah, menjadi bosan, butuh hiburan atau kurang pemasukan dan salah satunya pilihan adalah memelihara Guppy,” ujarnya

Usaha Guppy ini menarik digeluti. Selain harga murah, prosesnya juga tidak terlalu sulit dan tak butuh tempat yang luas. “Masa pandemi kemarin saya kira Guppy akan turun, karena bisnis lain (jualan online,  pernikahan) juga ambleg bleg. Ikan Guppy malah meningkat pesat. Permintaan pesat dibanding bulan bulan biasa. Sampai kewalahan mengirim ke luar kota. Kita itu cuma skala rumahan, tapi sampai menolak permintaan,” ujarnya

Bersama putranya Arya,  Suranto mendirikan usaha Arya Guppy tahun 2018. Nama Arya diambil dari nama anaknya karena ada niatan di samping untuk hobi, usaha, juga untuk memberikan keterampilan yang positif, mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat buat putranya yang masih SD kelas 5 pada waktu itu.

Memulai dengan dua pasang, jantan dan betina dalam satu ember, Suranto tidak mengira akan menjadi banyak. Sekarang dia sudah bisa membudidayakan belasan jenis.

Asal tahu, jenis ikan Guppy mencapai 70-80 jenis. Seperti antara lain Metalik, Metal Yellow Lace, Metal Lace Thailand, dan Cobra.  Arya Guppy sendiri punya sekitar 17-an jenis. Dari  17 jenis itu banyak indukan/pasangan. Kalau bagus, 1 pasang bisa menghasilkan 30-50 anakan.  Sekarang usahanya justru bisa diandalkan, pemesannya semakin mengalir bahkan sampai luar Jawa. Anna Zulfiyah

Ikan guppy dibudidayakan dalam boks atau ember bekas

Budidaya Guppy tak Perlu Infrastruktur Mahal

Budidaya ikan guppy tidak memerlukan infrastruktur mahal. Cukup dengan perlengkapan sederhana, bisa mengembangbiakan ikan ini. Arya Guppy menggunakan bahan bekas ember, boks es, bukan dengan aquarium/kaca. Jadi lebih menekan biaya.

“Modal untuk orang relatif, untuk pemula harus cari jenis yang murah dan mudah untuk belajar dulu setelah itu ditingkatkan. Ada beberapa jenis yang kanibal, kalau beranak harus dipisah. Guppy gampang-gampang susah, tapi kalau telaten ya mudah karena untuk penyortirannya perlu ketelaten, ” ujar San Suranto W, pendiri Arya Guppy.

Penyortiran menurut Suranto perlu dilakukan karena pasti ada yang bertambah besar, ada yang mati, ada yang bagus, ada yang jelek. Penyortiran menjadi kunci untuk menjaga kualitas. “Ikan ikan yang jelek kita sortir  jangan takut, karena untuk menjaga kualitas,” katanya.

Ada dua tipe ikan guppy yaitu solid dan mozaik. Tipe solid memilik warna rata tanpa motif. Sementara tipe mozaik memiliki motif. Untuk tipe solid dengan induk yang bagus, bisa menghasilkan anakan yang juga bagus sama dengan induknya hingga 70%-80%. Sisanya, 20%-30% jelek dan harus disortir. Kalaupun di pasarkan harganya rendah. Segmen pasar gupy yang disortir ini diistilahkan sebagai guppy cendolan karena jumlahnya banyak seperti cendol. Diambilnya pakai serokan seperti menyendok cendol.

“Untuk budidaya, biasanya kita lepas yang siap hibrid paling tidak umur 3 bulan, tapi karena sekarang permintaan banyak, belum 3 bulan sudah diminta. Ukuran tergantung jenisnya, kalau 3 bulan rata rata diatas 3 cm Karena kita jual indukan, kita jual per pasang,” paparnya.

Serapan pasar memang banyak yang ingin  untuk budidaya. Kalau yang bibit cendolan biasanya yang jantan karena hanya ikan jantan yang warnanya bagus untuk ikan hias.

Biasanya cendolan masuk ke pasar pasty Yogya. Untuk indukan, umur 3 bulan sudah besar, masuk pasar produktif. Untuk optimalnya diproduksi hingga umur 7-9 bulan. Harga guppy  tergantung jenisnya. Mulai dari Rp10 ribu sampai Rp500 ribu per pasang pun ada.

Lebih lanjut Suranto menjelaskan, budidaya ikan guppy tidak memerlukan infrastruktur mahal. Cukup dengan perlengkapan sederhana, bisa mengembangbiakan membiakkan ikan ini. Perawatannya juga tidak sulit.  Yang  penting kualitas airnya, kalau bisa air tanah yang sudah diendapkkan. Air PAM pun bisa, tapi mesti diendapkan lebih lama. Jadi mesti memperhatikan kualitas air, suhu di antara 25 hingga 28 derajat celcius dan memiliki pH di antara 7,5 hingga 8.

“Biasanya saya menyiapkan air sebelum dihuni ikan guppy sebagai upaya menetralisir zat-zat berbahaya yang tergantung dalam air. Kalau air PAM lebih dari sehari. Air sumur sehari sudah bisa, paginya dipakai tidak apa apa Ikan Guppy termasuk ikan permukaan, dia adaptif dengan lingkungan. Di comberan saja bisa hidup. Sejenis dengan cetul,” ucapnya.

Suranto menyatakan dalam budidaya harus memperhatikan populasinya. Kalau populasinya padat harus ditambah pakai aerator. “Kalau tidak padat, tidak pakai aerator tidak masalah,” katanya

Anna Zulfiyah