Mahasiswa Kehutanan ASEAN: Kegiatan Ekonomi Utamakan di Hutan Terdegradasi

0
52
Kawasan hutan (ilustrasi)

Kongres Asosiasi Mahasiswa Kehutanan ASEAN (ASEAN Forestry Student Association/AFSA) melahirkan ‘Bogor Iniative’ sebagai rekomendasi pengelolaan kepada para pihak.

Salah satu isi dari Bogor Initiative adalah untuk mengutamakan pembangunan perkebunan atau kegiatan ekonomi lainnya di hutan terdegradasi atau lahan tidak produktif daripada mengkonversi hutan alam.

Demikian pernyataan pers yang diterima Agro Indonesia, Rabu (18/11/2020).

AFSA adalah organisasi kepemudaan yang didirikan pada tanggal 24 September 1993 saat ASEAN Forestry Students Congress (AFSC) pertama di Bogor, menyusul ditandatanganinya Nota Kesepahaman antara Institut Pertanian Bogor (IPB University) dan Universiti Pertanian Malaysia (sekarang Universiti Putra Malaysia/ UPM) di Kuala Lumpur pada tanggal 27 Oktober 1991 dan antara IPB University dan Kasetsart University di Bangkok pada tanggal 30 Oktober 1991.

Setelah kongres pertama 27 tahun lalu, AFSA kembali menggelar kongres pada 1-2 November 2020 secara daring. Ada sekitar 40 mahasiswa dari tujuh negara di Asia Tenggara yang mengikuti acara tersebut, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura dan Myanmar.  Selain itu, Timor Leste juga mengikuti acara tersebut sebagai pengamat.

Kongres AFSA menjadi bagian dari Summer Course Forestry and Environmental 2020  yang diselenggarakan Badan Eksekutif AFSA bersama Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada 31 Oktober-15 November 2020. Kegiatan itu diikuti lebih dari 100 peserta dari 14 negara.

Dalam ASEAN Forestry Outlook yang dilakukan pada hari pertama, dibahas tentang keadaan saat ini dan masa depan kehutanan di ASEAN oleh Dian Sukmajaya dari Sekretariat ASEAN.  Urgensi, dampak, dan peluang pemuda untuk pembangunan Kehutanan di ASEAN juga menjadi salah satu pokok bahasan.

Kongres juga mengagendakan pemilihan Badan Eksekutif AFSA yang berlangsung cukup alot. Sidang akhirnya menyepakati untuk memilih Shania Ruth Diaz dari Indonesia (IPB University) sebagai Sekretaris Jenderal, serta Karl Fernandez sebagai Bendahara dan Joylyn Yu sebagai Direktur Infocenter, keduanya dari Filipina (UPLB).

Setelah pemilihan pengurus AFSA, delegasi AFSA memberikan sejumlah rekomendasi kepada para pihak yang disebut sebagai ‘Bogor Initiative’ sebagai berikut:

  • Mengutamakan pembangunan perkebunan atau kegiatan ekonomi lainnya di hutan terdegradasi atau lahan tidak produktif, daripada mengkonversi hutan alam.
  • Meningkatkan produktivitas hutan melalui satu izin berusaha pemanfaatan terpadu dari berbagai hasil hutan dan jasa ekosistem (multiusaha kehutanan) dalam rangka optimasi pemanfaatan lahan hutan.
  • Mengutamakan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan multi produk untuk meningkatkan kemakmuran dan kelestarian hutan secara keseluruhan, daripada melakukan pelepasan kawasan hutan dalam sekala besar.
  • Meningkatkan akses jalan untuk pasar dan harga hasil hutan yang lebih baik, daripada melarang atau membatasi akses jalan menuju dan di dalam Kawasan hutan yang dapat memicu terjadinya konversi hutan menjadi penggunaan lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
  • Memberikan harga premium yang lebih tinggi dan membuka lebih banyak pasar untuk produk kehutanan dan pertanian yang berkelanjutan, daripada memboikot perdagangan produk kehutanan dan pertanian dari negara tropis.
  • Menggunakan kayu dan bahan terbarukan lainnya, daripada menggunakan bahan dari sumber daya yang tidak terbarukan untuk substitusi produk.
  • Menerapkan emisi per kapita sebagai indikator yang lebih adil dan berkelanjutan yang mencerminkan persamaan hak setiap individu di bumi untuk mengeluarkan emisi, daripada menggunakan indikator total emisi di suatu negara, yang sangat mungkin bias karena besarnya populasi suatu negara atau indikator emisi per PDB, yang bias terhadap pendapatan negara, untuk mengendalikan perubahan iklim.

Sidang Umum AFSA menyetujui bahwa Kongres AFSA berikutnya akan diadakan di University of the Philipinnes Los Baños (UPLB).  Sekretaris Jenderal AFSA ad interim 2019-2020, Nugraha Akbar Nurrochmat, dan Sekretaris Jenderal AFSA yang baru terpilih, Shania Ruth Diaz menutup Sidang Umum AFSA dengan pidato singkat.

Sugiharto