Besar, Peluang Bisnis Vitamin A dan E Berbasis Sawit

0
97
Kelapa Sawit

Peluang bisnis produksi vitamin A dan E berbasis minyak sawit cukup besar, bukan hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri. Peluang  tersebut harus ditangkap industri dalam negeri sebagai salah satu produk hilir minyak sawit.

“Kita sudah menghasilkan PKO dan CPO terbesar di dunia. Ini menjadi sumber penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Prospek ada. Masalahnya bagaimana kita menjadikan bisnis. Kalau kita gagal menerjemahkan vitamin  A dan E sebagai bisnis, maka kita gagal mengembangkan bisnis tersebut,” ujar Pengamat Pertanian Bungaran Saragih, saat webinar Prospek Bisnis Vitamain A dan E Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Jakarta, Rabu (9/12/2020).

Menurutnya,  dilihat dari demand, baik dari dalam negeri dan luar negeri cukup besar. Di dalam negeri, kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutirisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E. Apalagi bahan bakunya  berasal dari komoditas minyak sawit .

Dia mengakui,  untuk menjadikan minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E yang berguna untuk kesehatan memerlukan proses panjang yang harus dikuasai industri dalam negeri, terutama mengubah/ekstrak dari minyak sawit.

“Prosesnya panjang dan rumit.  Ada masalah engineering, sosial, bahkan politik pemerintah. Peran pemerintah sangat penting. Untuk menangkap peluang itu, jangan malu kita bekerjasama dengan asing,  terutama dari sisi teknologi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical  Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat  mengatakan bahwa  industri minyak sawit belum banyak digarap secara bisnis. Contohnya, POME yang bisa menghasilkan listik dan gas, tandan kosong untuk listrik dan etanol, betakaroten dan tocopherol sebagai bahan baku industri makanan dan farmasi. Potensi  betakaroten mencapai 13,5 ribu ton/tahun.

“Harga betakaroten natural untuk vitamin E di pasar internasional mencapai 350 dollar AS atau Rp 7.500/kg, sedangkan beta carotene sintesitis sebesar 250 dollar AS atau Rp2.000/kg. Sedangkan harga tocopherol natural 100 dollar AS/kg, sedangkan yang sintetis 20-75 dollar AS/kg,” ujar Rapolo

Rapolo menyayangkan  hingga kini belum ada perusahaan Indonesia yang terjun ke industri ini, sehingga menjadi tantangan bagi kita semua. Dari 20 perusahaan global yang bermain di industri betakaroten, semuanya perusahaan asing. Ada lima negara yakni, Belanda, Jerman, Denmark, AS dan Israel. Begitu juga pemain global tocopherol ada 16 industri seperti BASF dan DSM.

“Padahal, produksi minyak sawit Indonesia terus bergerak naik. Misalnya, tahun 2019 produksi CPO mendekati 50 juta ton, bahkan tahun 2020 akan lebih dari 50 juta ton. Bahkan sejak tahun 2017 hingga 2020, nilai ekspor minyak sawit hulu dan hilir memberikan porsi cukup besar terhadap APBN,” ujarnya

Data Kementerian Pertanian pada tahun 2017 mencapai 23  miliar dollar AS atau 14,83 persen terhadap APBN. Tahun 2018 nilai ekspor minyak sawit mencapai 22,08 miliar dollar AS terjadi penurunan karena harga komoditas melemah sehingga porsi terhadap APBN hanya 13,30 persen.

Sementara tahun 2019, karena terjadi pelemahan nilai komoditas global nilai ekspor kembali menurun, sehingga nilai ekspor CPO hanya 19,24 miliar dolar AS atau 11,73 persen dari APBN.  Dari sisi volume, ekspor CPO terus mengalami peningkatan. Tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 3,8-3,9 juta ton. Berdasarkan data Oktober 2020, sudah mencapai 3,2 juta ton dengan nilai 26 miliar dollar AS.

Sementara itu Direkur Plt Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia, rata-rata ekspor crude palm oil (CPO) per tahun mencapai 21,4 miliar dolar AS.

Jumlah itu 14,4 persen pertahun dari total ekspor Indonesia.  Bahkan pada masa pandemi masih bisa menghasilkan devisa. Hingga Agustus devisa yang terkumpul dari ekspor mencapai 13 miliar dollar AS di tengah lemahnya penghasilan devisa lain seperti dari migas dan pariwisata.

“Perkebunan sawit juga menjadi penyumbang membuka lapangan pekerjaan. Dari mulai on farm (kebun) hingga sampai produk akhir total lapangan pekerjaan yang terserap mencapai 4,2 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.  Sawit juga berkonstribusi pada biodiesel, energi ramah lingkungan,”ujarnya.

Sementara Kepala PUI-PT Nutrasetikal Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Elfahmi Yaman mengatakan, minyak sawit sebagai sumber vitamin A dan E mempunyai keunggulan dalam pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial.

Atiyyah Rahma