Balsa, Kayu Komersial yang Memiliki Banyak Keunggulan

0
2948
Papan selancar, produk yang banyak memanfaatkan kayu balsa. (Image by Patsasha from Pixabay)

Oleh: Setiasih Irawanti (Puskashut Yayasan Sarana Wana Jaya, Peneliti Utama Bidang Ekonomi Kehutanan dan Kebijakan Kehutanan (28.08.05), Pensiunan Pegawai Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

Pohon balsa yang memiliki nama ilmiah Ochroma pyramidale, tumbuh secara alami di hutan hujan yang lembab di Amerika Tengah dan Selatan. Rentang alaminya meluas ke selatan dari Guatemala, melalui Amerika Tengah, ke pantai utara dan barat Amerika Selatan hingga Bolivia. Ekuador memiliki geografi dan iklim yang ideal untuk menanam pohon balsa. Selama ratusan tahun, balsa dianggap sebagai pohon gulma, tumbuh sangat cepat secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok-kelompok yang sangat kecil dan tersebar luas di dalam hutan. Di kawasan hutan yang telah rusak akibat bencana alam misalnya, pohon balsa akan segera bertunas dan mulai menjulang ke ketinggian yang mengesankan dalam waktu sangat singkat. Pertumbuhannya cepat, daun yang ekstra besar di tahun-tahun awal dapat memberi keteduhan bagi bibit muda tumbuhan hutan lain yang bertumbuh lebih lambat.

Umat manusia akhirnya menemukan balsa sebagai sumber daya yang sangat berguna sejak Perang Dunia I ketika sekutu membutuhkan banyak material pengganti gabus. Kata balsa berasal dari bahasa Spanyol yang berarti rakit yang mengacu pada kualitas apung yang sangat baik. Di Ekuador balsa dikenal sebagai Boya yang berarti pelampung. Tergolong tanaman pionir, balsa tumbuh dengan sendirinya di pembukaan hutan, baik hutan buatan manusia, di tempat pohon tumbang, atau di ladang pertanian yang ditinggalkan. Tumbuh sangat cepat, hingga tinggi 27 m dalam waktu 10-15 tahun. Kecepatan pertumbuhan yang tinggi menyebabkan kayunya ringan dan memiliki kepadatan lebih rendah dari gabus. Pohon balsa umumnya hidup tidak lebih dari 30 sampai 40 tahun. Sebagai hasil dari siklus pertumbuhan pohon balsa yang cepat, kualitas dan kecerahan kayu yang diperoleh dari pohon balsa dapat sangat bervariasi tergantung pada umur pohon pada saat pemanenan.

Sekarang tanaman balsa dapat ditemukan di banyak negara lain seperti Papua Nugini, Indonesia, Thailand, dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia pohon balsa dapat tumbuh dengan baik di Jawa, Sulawesi, dan Papua. Indonesia kini bahkan menjadi salah satu produsen kayu balsa terbesar di dunia bersama Ekuador dan Papua Nugini.

Keunggulan Sifat Kayu Balsa

Semakin berkurangnya pasokan kayu di Indonesia telah memotivasi berbagai pihak untuk membuat terobosan penanaman kayu cepat tumbuh. Salah satunya adalah budidaya pohon balsa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tanaman balsa merupakan jenis tanaman cepat tumbuh, mencapai 7,5 cm per tahun, jauh lebih cepat daripada sengon maupun jabon yang masing-masing tumbuh 4,2 cm dan 4,1 cm per tahun. Selain itu balsa toleran terhadap kekeringan hingga 4 bulan. Pada umur sekitar 4 tahun memiliki diameter sekitar 30 cm sehingga sudah dapat dipanen dan dijual kayunya. Namun kepopuleran pohon balsa masih kalah dibanding pohon sengon, meskipun masa panen sengon yang lebih panjang yaitu antara 6-7 tahun ketika mencapai diameter 30 cm.

Rahasia ringannya kayu balsa hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Sel-selnya besar dan berdinding sangat tipis, sehingga perbandingan material padat terhadap ruang terbuka sangat kecil. Pada sebagian besar batang pohon terakumulasi oleh lignin yang berfungsi sebagai pengikat komponen penyusun lainnya untuk menyatukan sel. Namun pada kayu balsa lignin adalah minimal. Hanya sekitar 40% dari volume sepotong balsa yang merupakan bahan padat. Agar pohon balsa mempunyai kekuatan untuk berdiri di hutan, alam memompakan setiap sel balsa penuh dengan air hingga menjadi kaku seperti ban mobil yang penuh dengan udara. Kayu balsa segar biasanya mengandung air lima kali lebih banyak dari berat bahan kayunya, dibandingkan dengan kebanyakan kayu keras yang mengandung sedikit air dibanding dengan bahan kayunya. Oleh karena itu, kayu balsa segar harus dikeringkan dengan cara hati-hati untuk menghilangkan sebagian besar air sampai kadar airnya hanya 6% sehingga siap untuk dijual.

Pohon kerabat bunga sepatu itu memiliki kerapatan massa 0,15-0,30 gram per cm3. Itu berarti balsa jauh lebih ringan daripada sengon dengan kerapatan massa 0,20-0,52 gram per cm3 maupun jabon 0,29-0,46 gram per cm3.

Meski sangat ringan, faktanya kayu balsa sering dianggap kayu terkuat untuk bobotnya di dunia. Dinding sel kayu balsa yang dikeringkan menggunakan kiln pengering dapat mempertahankan struktur selulosa dan ligninnya menjadi kuat. Kayu balsa kering beratnya sangat bervariasi. Berdasarkan tingkat kepadatannya, kayu balsa dalam perdagangan dibagi menjadi tiga kelas yaitu:

  1. Ringan < 120 kg/m3 yang biasanya digunakan untuk hobby dan aeromodelling
  2. Sedang 120-180 kg/m3 yang biasanya digunakan untuk industri komposit
  3. Berat >180 kg/m3 yang biasanya digunakan untuk substitusi kayu keras dengan harga lebih murah dan penggunaan lebih luas.

Berat jenis (BJ) kayu balsa sangat ringan tetapi kekuatannya mengagumkan. Kekuatannya lebih tinggi daripada jenis-jenis kayu lain dengan BJ yang kurang lebih sama. Pada umumnya semakin tinggi BJ kayu maka semakin tinggi pula sifat kekuatan/kekerasan kayu dan sebaliknya. Kayu balsa berdaun lebar, merupakan hardwood walaupun kayunya lunak. Kayu daun lebar (hardwood) secara anatomi tersusun dari jaringan-jaringan sel bertipe pembuluh, bertipe serat atau fiber dan bertipe parenkhim. Sel-sel pembuluh adalah sel-sel pembentuk pori, memiliki dinding relatif tipis, dan berfungsi menyalurkan air tanah dan hara dari akar menuju daun. Sedangkan sel-sel serat memiliki dinding tipis hingga tebal, dan berperan memberi kekuatan mekanis sehingga batang pohon bisa tegak/kokoh berdiri. Semakin banyak pori pada kayu maka BJ kayu semakin rendah, dan semakin rendah pula kekuatan/kekerasan kayu. Sebaliknya semakin banyak sel-sel serat maka BJ kayu semakin tingi dan semakin tinggi pula kekuatan/kekerasan kayu. Hal yang menarik pada kayu balsa adalah secara anatomi memiliki proporsi pori atau sel pembuluh yang rendah dan sebaliknya proporsi sel serat berdinding tipis yang tinggi, sehingga BJ nya rendah namun kekuatannya relatif tinggi (Han Roliadi, 2020).

Berbagai Manfaat Kayu Balsa

Karena kerapatannya yang rendah tetapi berkekuatan tinggi, balsa merupakan bahan yang sangat populer untuk struktur yang ringan dan kaku seperti dalam model pengujian jembatan, model bangunan, dan model konstruksi pesawat. Semua grade balsa dapat digunakan untuk airworthy control line dan radio-controlled aircraft  dari olahraga aeromodelling yang paling ringan dan sangat berharga untuk model pesawat penerbangan bebas.

Kayu balsa sering digunakan sebagai core dalam komposit, misalnya bilah dari kebanyakan turbin angin yang sebagian berbahan baku kayu balsa. Pada meja tenis, lapisan balsa biasanya diapit di antara dua potong kayu lapis tipis yang terbuat dari spesies kayu lain. Kayu balsa juga digunakan dalam laminasi bersama dengan plastik yang diperkuat kaca (fiberglass) untuk membuat papan selancar balsa berkualitas tinggi serta untuk geladak dan bagian atas berbagai jenis perahu, terutama kapal pesiar yang panjangnya kurang dari 30 meter. Balsa juga digunakan dalam pembuatan alat peraga kayu “breakaway” seperti meja dan kursi yang dirancang untuk dipatahkan sebagai bagian dari produksi teater, film, dan televisi.

Ketika memilih potongan kayu balsa maka harus diingat penggunaan akhirnya. Untuk membuat model pesawat maka harus dipilih grade yang paling ringan untuk bagian model yang diberi tekanan ringan seperti nose block, wingtip block, fill-in, dan lain-lain. Sedangkan grade yang lebih berat digunakan untuk bagian bantalan beban seperti spar, stringer fuselage, dan lain-lain.

Balsa adalah kayu yang sangat ramah untuk dikerjakan bahkan tidak memerlukan gergaji listrik dan pengamplasan seperti jika mengerjakan kayu keras. Pembuat model profesional di SIG Manufacturing Amerika Serikat masih mengandalkan pada 4 atau 5 perkakas tangan sederhana untuk sebagian besar pekerjaannya. Balsa menyerap guncangan dan getaran dengan baik dan dapat dengan mudah dipotong, dibentuk, dan direkatkan dengan perkakas tangan sederhana. Rasio kekuatan terhadap beratnya yang luar biasa memungkinkan para penghobi untuk membuat model pesawat yang tahan lama terbang dengan cara yang benar-benar realistis.

Dalam Miller (1999) disebutkan bahwa kayu balsa cocok untuk berbagai penggunaan karena karakteristiknya lunak dan warnanya yang terang. Dalam pembuatan bingkai foto, balsa sering digunakan dalam model baroque style karena kemudahan pembentukan desainnya. Artificial lure atau umpan pancing buatan dibuat menggunakan material kayu balsa karena ringan dan mudah untuk dibentuk menyerupai umpan asli seperti ikan kecil, katak, serangga. Untuk art and craft, kayu balsa sangat mudah dibentuk, bahkan hanya memerlukan sebuah pisau cutter untuk dapat mengukir kayu balsa. Bentuk-bentuk yang indah, dapat dengan mudah diciptakan menggunakan kayu balsa.

Jika dibandingkan dengan fiberglass, kayu balsa memiliki berat jenis 0,16 yang lebih rendah daripada berat jenis fiberglass 0,24. Kayu lain yang memiliki berat jenis ringan adalah kayu sengon, yaitu 0,33. Bahkan secara faktual kayu balsa Ekuador telah dimanfaatkan oleh Thor Heyerdahl yang berkebangsaan Norwegia sebagai bahan utama pembuatan rakit/perahu layar yang bernama Kon-Tiki yang telah berhasil mengarungi samudera pasifik mulai dari Peru pada April 1947, melintasi 8.046 km dan tiba di Polinesia setelah 101 hari perjalanan (Aswab Nanda Prattama/Kompas, 2019).

Perdagangan Kayu Balsa

Ekuador sebagai penghasil terbesar kayu balsa menguasai lebih dari 60% pasar balsa di dunia sedangkan Indonesia baru menyumbang sekitar 5% dari pasar balsa internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 60% balsa telah ditanam di petak-petak perkebunan dengan jumlah pohon sekitar 1.000 pohon per hektare, dibandingkan dengan 2 sampai 3 pohon per hektare yang tumbuh di alam.

Permintaan kayu balsa dari berbagai negara seperti China dan negara-negara Eropa cukup tinggi namun jumlah eksportir Indonesia khusus kayu balsa masih terbatas. Minimnya pengetahuan dan pengelolaan balsa oleh masyarakat Indonesia menyebabkan belum banyak masyarakat yang tertarik menekuni bisnis balsa. Di China, kayu balsa diolah menjadi berbagai macam produk, seperti baling-baling kincir listrik tenaga angin, bahan aeromodeling, furnitur.  Kiko Balsa adalah produk kayu balsa merek China yang terkenal diekspor ke seluruh dunia. Sementara itu seorang eksportir balsa di Semarang mempunyai kebutuhan barang 558 m3 atau setara 9 kontainer per hari namun baru bisa memenuhi permintaan buyers dari China sebesar 186 m3 atau 3 kontainer per hari dengan harga ekspor 500 – 600 dolar AS per m3 (Januari 2020).

SIG Manufacturing di Amerika Serikat memotong balsa segar yang paling ringan menjadi balok-balok, dan balsa segar yang paling keras menjadi batangan sedangkan lembaran balsa dipotong di seluruh rentang kepadatan yang luas. Sebagian besar toko hobi menjual balsa dalam bentuk lembaran, tongkat, dan balok. Balsacentral di Australia adalah toserba kayu balsa yang dijual dalam bentuk lembaran, papan selancar, balok mobil hingga komposit, untuk memenuhi kebutuhan para penghobi, proyek rumah, dan industri dimana toserba ini membeli kayu balsa dari perkebunan balsa di Papua Nugini.

Penutup

Di Indonesia pohon balsa dapat tumbuh dengan baik di Jawa, Sulawesi, dan Papua, dimana Indonesia termasuk produsen penting kayu balsa di dunia selain Ekuador, dan Papua Nugini. Namun Ekuador menguasai lebih dari 60% pasar balsa di dunia, sedangkan Indonesia baru menyumbang sekitar 5%. Kepopuleran pohon balsa di Indonesia masih kalah dibanding pohon sengon, meskipun balsa pada umur sekitar 4 tahun sudah memiliki diameter sekitar 30 cm dan sudah dapat dipanen dan dijual kayunya, sedangkan masa panen sengon lebih panjang yaitu antara 6-7 tahun ketika mencapai diameter 30 cm. Kegunaan kayu balsa sangat luas, cocok untuk berbagai penggunaan karena karakteristiknya yang lunak, warnanya terang, dan berat jenisnya kecil atau ringan. Pohon balsa dapat dibudidayakan di petak-petak perkebunan dengan jumlah pohon sekitar 1.000 pohon per hektare sehingga di Indonesia dapat dikembangkan sebagaimana hutan rakyat.