Bustanul: Food Estate Contoh Pertanian Maju dan Mandiri

0
283
lahan padi food estate di Kalteng siap panen.

Program jangka panjang food estate (lumbung pangan) yang kini tengah dikembangkan pemerintah di Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) nantinya akan menjadi percontohan pertanian maju dan mandiri. Program ini bisa menjadi terapan untuk semua provinsi di Indonesia.

“Program food estate harus kita dukung dan kawal bersama. Kebetulan saya sudah pernah ke Kalteng dan memang perlu kita dukung,” ujar pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin  pada diskusi INDEF yang berjudul “Daya Tahan Sektor Pertanian: Realita atau Fatamorgana”, Rabu (17/2/2021).

Sebagai informasi, untuk food estate wilayah Kalimantan Tengah saat ini sudah memasuki masa panen dengan luasan kurang lebih 10.000 hektare (ha). Sedangkan food estate wilayah NTT saat ini memasuki masa mekar dengan luasan 5.000 ha, dan food estate wilayah Sumatera Utara kini tengah bersiap memasuki masa panen.

Menurut Bustanul, kemajuan sektor pertanian sangat menguntungkan ekonomi nasional mengingat pertanian dalam kacamata perekonomian terbukti mampu meningkatkan jumlah tenaga kerja.

Meskipun demikian, peningkatan tersebut hanya akan menjadi beban karena produktivitas tenaga kerja yang sangat rendah. “Oleh karena itu, ke depan, sektor pertanian wajib memanfaatkan perubahan teknologi dalam bidang produksi, baik panen maupun paskapanen,” katanya.

Rektor IPB, Arif Satria mengatakan, program food estate adalah salah satu alternatif dan sekaligus jalan keluar dalam meningkatkan daya saing produksi beras nasional di kawasan Asia Tenggara. Apalagi, produksi beras Indonesia jika dibandingkan Malaysia, Thailand maupun Filipina angkanya jauh lebih tinggi.

“Karena itu, menurut saya, food estate adalah salah satu alternatif yang perlu terus kita kaji agar produksi beras kita makin meningkat. Begitu juga dengan diversifikasi pangan lokal yang harus kita kembangkan. Yang pasti, semangat petani harus kita jaga agar peningkatan produktivitas juga bisa kita jaga,” katanya.

Sebelumnya Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto mengapresiasi capaian ekapor dan peningkatan produksi sektor pertanian selama pandemi COVID-19, yakni sejak tahun 2019 hingga memasuki awal tahun 2021. Berdasarkan catatannya, ekspor pertanian tumbuh 14,03% dengan subsektor tanaman pangan sebagai penyumbang tertinggi dalam distribusi dan pertumbuhan ekonomi subsektor pertanian tahun 2020.

“Saya kira performa sektor pertanian sangat luar biasa. Karena itu sektor pertanian harus diberi perhatian lebih karena menjadi sektor penyelamat dan mampu mengangkat kesejahteraan pelakunya,” katanya.

Berdasarkan subsektornya, tanaman pangan tumbuh 3,54%, tanaman hortikultura 4,37% dan tanaman perkebunan tumbuh sebesar 1,33%. Namun, di sisi lain, ada subsektor peternakan yang minus sebesar 0,33%.

“Selama pandemi ini, ekonomi Indonesia terpuruk. Tapi tidak dengan sektor pertanian. Performa pertanian sangat mengembirakan. Karena itu, kita perlu menjaga harga beli panen dan membuat kebijakan pengendali inflasi untuk menggenjot kesejahteraan petani,” tutupnya.

Kompak, Dukung Food Estate

Sementara Kapolres Sumba Tengah, AKBP FX Irwan Arianto, beserta Dandim 1613 Irawan Agung Wibowo, berjanji akan mengamankan dan mendukung penuh jalannya program food estate di 5 zona Lau Petedang, Desa Makatakeri, Kecamatan Katikutana, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keduanya kompak lantaran program food estate sejalan dengan perintah Kapolri dan Panglima TNI dalam membantu penyediaam lumbung pangan nasional di seluruh daerah.

Food estate itu adalah program TNI-Polri juga dalam mendukung ketahanan pangan. Apalagi, perintah Bapak Kapolri sudah ditegaskan dalam transformasi yang presisi. Jadi, kami mengawal seluruh kegiatan pemerintah, mulai dari tingkat yang paling rendah, yakni Desa sampai Kabupaten,” ujar Irwan, pekan lalu.

Sedikitnya ada 11 desa yang menjadi titik sentral kegiatan food estate di Kabupaten Sumba Tengah. Ke-11 desa itu di antaranya Desa Wairasa, Umbu Mamijuk, Umbu Pabal Selatan, Umbu Langgang, Anakalang, Wailawa, Tana Modu, Oka Waci dan Makatakeri.

Sedangkan sistem pola tanam yang akan dijalankan pada tahap I adalah pola tanam jagung-padi-jagung. Kemudian pola tanam tahap II jagung-padi-jagung dan pola tanam III jagung-padi-jagung serta tambahan polanya adalah sapi-jeruk-kelapa. Adapun dari hasil hitung-hitungan sementata, total luasan tersebut bisa mendulang untung hingga Rp123 miliar.

Sementara itu, Dandim 1613, Irawan Agung Wibowo telah memerintahkan sebanyak 66 prajurit TNI untuk melakukan pendampingan terhadap jalanya program food estate di Kabupaten Sumba Tengah. Menurut Irawan, mereka akan disebar bersama Babinkantibmas Polri mengawal proses masa tanam hingga masa panen.

“Kita akan bersinergi mengawal semua proses jalanya food estate mulai dari pengolahan, persemaian, penanaman sampai pemanenan. Mereka akan terjun yang dibagi di 5 zona,” katanya.

Berikutnya, kata Irawan, TNI siap membantu penggunaan traktor dan Alsintan lainya untuk mendukung percepatan masa tanam dan panen. “Kita akan melakukan pendampingan sampai selesai masa tanam dan panen yang dilakukan secara bergiliran melalui 3 shift. Jadi, tidak ada waktu yang kosong. Semua bergerak,” katanya.

Danramil 1603/03 KTN Kapten Infanteri Adisan menambahkan, semua arahan tersebut akan dilaksanakan dengan melibatkan semua unsur, termasuk para petani, pemuka agama dan masyarakat sekitar. Adisan juga berharap, kegiatan ini berlanjut hingga meluas di tiap Desa dan Kecamatan.

“Yang jelas, selama ada program food estate, kami selalu ada di lapangan dan akan melakukan pendampingan pada kelompok tani di 5 zona setiap hari. Tentu TNI berharap program ini terus berlanjut, sehingga masyarakat Sumba Tengah merasakn dampak dari program ini,” katanya. PSP

Produktivitas Food Estate Capai 6 Ton/Ha

Produktivitas tanaman padi di kawasan food estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) mencapai 4 ton-6 ton/hektare (ha). Dengan tingkat produktivitas itu, berarti pengembangan food estate di kawasan Center of Excellent Pulang Pisau, Kalteng, menunjukan hasil positif.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Syamsuddin mengatakan, bulan Februari 2021 ini ada sekitar 200 ha-250 ha yang siap panen.

Dia menegaskan, pihaknya sudah melihat kondisi lahan dan pertanaman, sehingga memang benar-benar siap dilakukan panen dalam waktu dekat.

Mengenai hasil panen, Syamsuddin menyampaikkan, produktivitas yang diperoleh sangat beragam. Namun, pada prinsipnya produksi yang dihasilkan sekitar 4-6 ton/ha.

“Semua itu berdasarkan pengakuan riil para petani yang telah melakukan panen maupun dari wujud tanaman di lapangan,” ungkapnya. Contohnya hasil panen padi milik Taufik yang berasal dari Poktan Karya Makmur, Desa Belanti Siam.

Dilaporkan, Taufik memperoleh peningkatan hasil signifikan setelah menanam padi inpari 42. Bahkan, dia bisa menghasilkan padi 6,4 ton/ha dan siap dijadikan benih kembali.

Hal yang sama terjadi dengan lahan padi milik Wasis Daryanto dari Kelompok Tani Rukun Santoso di Desa Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau. Dia menyebutkan, berkat program food estate, dirinya berhasil meningkatkan produktivitas panen. Saat ini, lahannya telah panen di blok Rey 6 dan menghasilkan padi 5,6 ton/ha.

Namun, keberhasilan tersebut bukan tanpa kendala. Syamsudin bercerita, munculnya angin kencang di kawasan Pulang Pisau menyebabkan banyak tanaman roboh.

“Kenapa bisa roboh, ini juga turut dipengaruhi faktor kebiasaan petani. Mereka tidak melakukan tanam pindah. Kami merekomendasikan tanam pindah, namun kebiasaan petani adalah tanam tabur atau dilarik,” jelas Syamsudin.

Syamsudin menambahkan, model tanam tabur atau larikan, jika dilihat dari segi kekokohan akar, tidak sekuat model tanam pindah.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy menyampaikan bahwa pengembangan lahan rawa sebagai lahan pangan masa kini dan masa depan dinilai sangat prospektif dan strategis. “Ini berguna untuk mendukung ketahanan pangan, mengingat pertambahan jumlah penduduk yang sangat cepat disatu sisi lahan pertanian banyak yang beralih fungsi,” ujarnya. PSP