Cerita Ketua Umum Gerakan Peduli Hutan Indonesia Terpapar Covid-19

0
92
Transtoto Handadhari

Ketua Umum Gerakan Peduli Hutan Indonesia (GPHI) Transtoto Handhadari sempat terpapar Covid-19. Dia menceritakan pengalaman bagaimana awal virus corona  menginfeksi dirinya.

Menurut Transtoto,  ketika terpapar Covid-19 pada 15 Januari 2021, sebelum mendapat hasil tes PCR (polymerase chain reaction) positif, dia merasakan perubahan pada penciumannya.

Transtoto mencium sesuatu bebauan yang sangat menyengat. “Sungguh benar-benar bau itu sangat tidak enak,” ujar Transtoto menceritakan pengalamannya selama terpapar Covid-19, Selasa (16/2/2021).

Dimulai dari bau makanan seperti ketoprak berubah aneh, gado-gado, pisang goreng, teh panas, dan semua makanan yang tercium,  berbau menyengat bahkan  kalah melawan bau minyak kayu putih.

Transtoto melanjutkan, dirinya mencoba berkomunikasi dengan dokter teman anaknya. Sang dokter menduga Transtoto terjangkit virus corona. Anak Transtoto, Ovelia Transtoto dan Wira yang juga positif Covid-19 mengalami kehilangan penciuman sama sekali hingga mendekati masa sembuhnya.

Menurut Transtoto, sejak mengalami gangguan penciuman dirinya tak bisa makan. Semua makanan yang disajikan berbau menyengat dan membuatnya mual. Bahkan rumput bekas embun pun tercium berbau sama menyengatnya. Meski demikian, Transtoto memaksa untuk makan berupa sup dan pisang.

Anehnya penciuman untuk benda-benda lain tetap normal meski tercampur bau sangit yang aneh. Bau tak sedap yang menyengat hanya muncul saat mencium makanan yang dihidangkan.

Transtoto menuturkan, berkat bantuan obat herbal Cina,  di hari ke 3, bau yang menyengat itu  sirna dan menjauh. Dirinya, bisa makan enak dimulai dengan bisa makan salad kiriman keluarga. Bahkan badan Transtoto  menjadi segar bugar, tidak lemas hingga dinyatakan sehat.

Pada Sabtu, 13 Februari 2021, Transtoto melakukan check up ke RSUD Prambanan, Yogyakarta. Tiba-tiba dia kembali tiba mencium bau yang tidak enak lagi.  Dia pun sadar akan akan situasi tersebut dan menyampaikan ke rekannya soal keberadaan Covid-19 dan perlunya kewaspadaan. Keluar dari kompleks RSUD Prambanan, bau menyengat itu hilang sama sekali.

Transtoto pun menjelaskan, virus Corona yang tidak kasat mata sepertinya dapat dirasakan melalui penciuman. Bahkan dia sebelumnya juga 1-2 kali sempat merasakan bau lamat-lamat yang memualkan itu. “Itulah rupanya bau virus Corona yang kadang-kadang berada di antara kita,” kata Transtoto.

Transtoto mengaku, sekarang tahu bila ada bau sejenis, baik lamat-lamat apalagi menyengat. Bau itu mengindikasikan bahwa ada virus berkeliaran di hidung dan di sekitarnya.

“Alhamdulillah Tuhan memberitahu saya ada virus yang harus kita waspadai dan hindari,” katanya.

AI