Pemda Apresiasi Dukungan Pemerintah Pusat terhadap Food Estate

0
55

Pemerintah pusat memberi dukungan penuh terhadap food estate (lumbung pangan) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Pemerintah Daerah (Pemda) tentunya memberikan apresiasi positif, karena kegiatan ini berdampak luas terhadap pembangunan ekonomi daerah.

Kepala Dinas Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalteng, Sunarti mengatakan hal itu ketika berkunjung ke lokasi food estate, di Desa Belanti Siam, Kabupaten Pulang Pisau.

Fakta di lapangan, kata dia, adanya food estate membuat infrastuktur yang menunjang ekonomi dibangun. Jalan desa diperbaiki, irigasi dan aktivitas produksi pun didukung dengan optimal.

Khusus di lahan sawah, Sunarti mengatakan telah terjadi kenaikan provitas. Setidaknya terjadi pertambahan hasil panen 1-2 ton per hektare (ha). “Petani kami kini merasakan dampak yang positif. Bila ada kekurangan di satu dua titik adalah hal yang wajar. Food estate masih terus berkembang,” tegasnya, pekan lalu.

Mengenai isu gagal panen, Sunarti menilai hal itu sebagai kritik perbaikan untuk lebih intensif lagi melihat lapangan.  Namun dirinya keberatan bila kejadian tersebut digeneralisir seolah menjadi kegagalan panen secara makro, dan menganggap tidak mewakili luasan pertanaman.

“Yang terjadi adalah panen cepat akibat tanaman roboh dan terendam. Jadi, terpaksa segera dipanen dan pantas bila hasilnya belum optimal. Berbeda bila  dilihat pada lahan lain yang pertanamannya sudah tepat,” tegasnya.

Sunarti menambahkan, lahan yang dianggap gagal panen pun hanya luasan kecil pada titik tertentu, sehingga tidak fair bila dibandingkan luasan pertanaman yang telah siap panen yang mencapai puluhan ribu hektare.

“Kita akan tetap menjadi perhatian, terutama cara bertanamnya harus diubah. Yang tanaman roboh itu ditanam dengan sistem tabur, sehingga akarnya tidak cukup kuat menahan angin. Kita terus edukasi petaninya,” paparnya.

Food Estate Berhasil Naikkan Produksi

Sementara Ketua Kelompok Tani Desa Belanti Siam, Mujianto mengatakan, saat ini lahan food estate sudah memasuki masa panen. Usai panen, para petani akan segera masuk masa tanam kembali.

“Bulan-bulan ini di kelompok kami dari 60 anggota siap panen. Program dari Pak Presiden (Jokowi) ini berhasil dan kami merasa puas,” kata Mujianto di Belanti Siam, pekan lalu.

Dia mengakui, dari pendampingan yang dilakukan, program food estate di daerahnya itu mendapatkan kenaikan provitas. “Di kelompok saya, hasilnya meningkat 1-2 ton/ha. Sebelumnya, produksi rata rata 3-4 ton/ha. Sekarang produksi ada yang mencapai 6 ton/ha,” tegasnya.

Mujianto menyarankan pemerintah juga perlu mendengar masukan petani, terutama terkait pengaturan waktu tanam, mengingat kondisi alam di wilayah Belanti Siam sedikit berbeda. “Saya yakin akan lebih baik lagi hasilnya kelak karena kami paham kondisi alamnya dan pemerintah tinggal mendukung kami,” tambahnya.

Kepala Desa Belanti Siam, Amin Arifin memberi klarifikasi soal isu gagal panen di wilayahnya. “Isu itu tidak benar. Lihat saja hamparan padi menguning yang sebentar lagi panen. Kemarin ada yang panen hasilnya 5 ton-6 ton/ha,” katanya.

Seperti diketahui, pada Oktober 2020, Presiden Joko Widodo dengan menggunakan mekanisasi melakukan tanam perdana di Desa Belanti Siam, Kelurahan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau.

Pengembangan kawasan food estate yang sedang fokus digarap pemerintah ini menjadi program pertanian berbasis economic of scale yang diterapkan dengan skala luas.

Food estate ini diharapkan dapat memperkuat cadangan pangan nasional. Adapun khusus kabupaten Pulang Pisau, saat ini telah dikembangkan pada lahan seluas 10.000 ha. HMS

Pertumbuhan PDB Pertanian Kuartal IV-2020 Jadi Bantalan Selama Resesi

Pengamat Ekonomi Pertanian Prof. Bustanul Arifin memberikan respon positif atas kinerja sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020. Melansir data BPS, PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian pada kuartal IV-2020 tumbuh 2,59% secara year on year (yoy), di mana subsektor tanaman pangan menyumbang 10,47% akibat produksi dan luas panen meningkat.

“Rilis BPS tentang pertumbuhan ekonomi semakin menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi bantalan (cushion) selama resesi ekonomi akibat pandemi COVID-19,” papar Bustanul di Jakarta, Minggu (7/2/2021).

Bustanul menilai, kinerja tanaman pangan tinggi karena angka produksi memang meningkat dan harga cukup bersahabat. Hal ini menyebabkan nilai tambah juga naik signifikan, yang menjadi basis perhitungan PDB Pertanian.

“Namun, perlu jadi catatan. Pada kondisi daya beli masyarakat yang turun karena pandemi, persoalan akses pangan dapat menjadi persoalan serius, jika tidak diantisipasi dan ditanggulangi secara baik,” ujarnya.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Riyanto mengatakan, saat ini waktu yang tepat untuk mengarahkan kebijakan ekonomi dan politik negara pada sektor pertanian.

Menurut dia, sektor pertanian tidak boleh dipandang sebelah mata mengingat kontribusi terhadap ekonomu nasional sudah terbukti dan teruji. Kepentingan sektor pertanian harus di atas kepentingan yang lain karena ini menyangkut hak hidup orang banyak.

“Pertumbuhan PDB pertanian kuartal IV-2020 ini memberikan isyarat, sektor pertanian menjadi penolong di tengah resesi karena mampu menyediakan banyak lapangan kerja di tengah situasi ekonomi yang sulit karena banyak PHK,” tambahnya.

Sementara politisi Partai Nasdem, Irma Suryani Chaniago mengapresiasi kerja keras Kementan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan produksi. Menurut dia, Kementan di bawah pimpinan Syahrul Yasin Limpo juga berhasil memacu ekspor dan mengurangi impor, sehingga berkontribusi besar terhadap kesejahteraan petani dan nilai PDB.

“Kinerja baik Kemetan ini patut kita acungi jempol. Kenapa? Karena di tengah lesunya ekonomi akibat pendemi, Kementan mampu menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan harga-harga di lapangan,” terangnya.

Kepala BPS, Suhariyanto melaporkan PDB Indonesia pada kuartal IV-2020 tumbuh -2,19% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Dengan demikian, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan negatif (kontraksi) dalam tiga kuartal beruntun.

Namun, berdasarkan laju pertumbuhan lapangan usaha, hanya sektor pertanian yang tumbuh positif selama triwulan IV-2020. Sedangkan sektor industri, perdagangan, konstruksi, transportasi, dan akomodasi makan minum semuanya mengalami pertumbuhan negatif.

Data BPS mencatat, PDB sektor pertanian pada kuartal IV-2020 tumbuh sebesar 2,59% disebabkan beberapa fenomena sebagai faktor penyebabnya.

Pertama, paling besar disebabkan pertumbuhan PDB tanaman pangan sebesar 10,47% didorong oleh adanya peningkatan luas panen dan produksi padi, jagung, ubi kayu serta cuaca yang mendukung. Kedua, komoditas hortikultura tumbuh 7,85% karena permintaan buah-buahan dan sayuran selama pandemi COVID-19. Ketiga, komoditas perkebunan tumbuh 1,13% dengan komoditasnya berupa kelapa sawit.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri mengatakan, sektor pertanian terus mampu menjaga tren positif kontribusinya pada ekonomi nasional. “Ini adalah karena petani kita tak henti berkontribusi buat ekonomi nasional. Kami di Kementan membantu mereka menjaga tetap bekerja dengan segala kemampuan yang ada,” ujarnya.

Kuntoro menyampaikan terima kasih kepada para petani, karena di tengah lesunya ekonomi dan ancaman pandemic, sektor pertanian masih tumbuh.

“Petani kita sangat hebat dan tangguh. Kami akan terus jaga momentum ini di 2021 agar kontribusi sektor pertanian terjaga, bahkan bisa meningkat. Berbagai masalah 2020 kita selesaikan agar tidak menghambat produksi,” jelasnya. HMS