Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dimonitor

0
580
Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (TAM MenLHK) Bidang Analisis Strategis, Akuntabilitas Politik dan Publikasi Eka Widodo Soegiri (kanan) mendengar penjelasan dari salah satu petani yang terlibat dalam kegiatan RHL di Hutan Lindung Manglayang Timur, Sumedang

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memonitor implementasi program rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) untuk memastikannya berdampak pada pemulihan daerah aliran sungai (DAS) dan pemberdayaan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (TAM MenLHK) Bidang Analisis Strategis, Akuntabilitas Politik dan Publikasi Eka Widodo Soegiri menyatakan RHL harus dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat

“Ini sesuai instruksi Ibu Menteri (Siti Nurbaya). Tujuannya agar pemulihan lingkungan bisa sejalan dengan pemulihan ekonomi,” katanya saat meninjau lokasi penanaman RHL di Hutan Lindung Manglayang Timur, Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Rancakalong, Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Manglayang Timur, KPH Sumedang, Jawa Barat, Rabu (24/3/2021).

Eka bersama TAM MenLHK Bidang Pengembangan Jaringan Kerjasama Luar Negeri Sri Murniningtyas  memonitor RHL yang dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Citarum-Ciliwung.

Selain di Sumedang, pemantauan RHL dilakukan di Bandung Utara lalu akan berlanjut ke kaki Gunung Salak, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor.

Total RHL tahun 2021 di KPH Sumedang seluas 220 hektare.  Di RPH Rancakalong penanaman dilakukan seluas 11,7 hektare dengan melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan  Guntur Raya dari desa Guntur Mekar.

Di Lokasi yang terletak pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut itu, ditanami bibit pinus, alpukat, dan nangka. Untuk tanaman sela, sesuai keinginan masyarakat, ditanam kopi dari jenis arabika.

Masyarakat juga menanam kapulaga sebagai tanaman di bawah tegakan pohon.

Tanaman kopi dipilih untuk tanaman sela sebagai bagian dari upaya alih komoditas dari sayur-sayuran. Tanaman kopi dinilai memiliki kemampuan konservasi tanah dan air yang lebih baik.

Eka menekankan pentingnya keberhasilan RHL di BPDASHL Citarum-Ciliwung. Pasalnya, wilayah kelolanya mencakup 2,5 provinsi yaitu DKI Jakarta, Banten, dan ½ wilayah Jawa Barat.

Dialog Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (TAM MenLHK) Bidang Analisis Strategis, Akuntabilitas Politik dan Publikasi Eka Widodo Soegiri tentang pelaksanaan RHL di Hutan Lindung Cikole, Bandung Utara.

“Wilayahnya strategis karena juga menjadi benteng hidrologis bagi Jakarta,” katanya.

Total RHL tahun 2021 di BPDASHL Citarum-Ciliwung seluas 3.250 hektare. Selain itu juga akan dilakukan pemeliharaan untuk tanaman RHL tahun 2019 seluas 9.753 hektare.

Sugiharto