Ekowisata untuk Pemulihan Ekonomi Paska Pandemi

0
99
Pengunjung menikmati pantai di TWA Gunung Tunak

Oleh: Widya Rahmi Hendita (Mahasiswa S2 Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada)

Sejak awal tahun 2020, seluruh belahan dunia dilanda wabah virus corona atau COVID-19. Penularan virus tersebut sangat cepat sehingga untuk mengurangi penyebarannya seluruh dunia memberlakukan kebijakan pembatasan pergerakan manusia. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mencakup pembatasan sejumlah kegiatan penduduk.

Upaya-upaya untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 berdampak terhadap perubahan pola hidup serta berubahnya segala aspek kehidupan dan institusi manusia, serta sektor ekonomi dan pariwisata. Dari banyaknya sektor yang terkena dampak pandemi, industri pariwisata merupakan salah satu yang terkena dampak terbesar. Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada Triwulan II-2020  tercatat 482,65 ribu kunjungan atau turun 87,81% dari tahun sebelumnya (BPS, 2020). Selama masa pandemi baik wisatawan lokal maupun mancanegara mengalami penyusutan jumlah kunjungan yang sangat signifikan.

Merosotnya jumlah kunjungan wisata juga memaksa tutupnya banyak hotel pada masa pandemi. Akomodasi dan makanan minuman juga terkontraksi 22,02%  pada triwulan II tahun 2020 dari tahun sebelumnya (BPS, 2020). Pengunjung hotel dan restoran di hampir seluruh wilayah Indonesia sepi akibat pembatasan sosial serta perubahan pola konsumsi masyarakat dimana memasak dan makan di rumah menjadi lebih populer. Selain hotel, perusahaan perusahaan pendukung pariwisata juga mengalami kerugian seperti industri angkutan bus.

Kepala Staf Presiden Moeldoko mengungkapkan sumbangsih sektor pariwisata pada perekonomian Indonesia tahun 2019 mencapai Rp1.200 triliun. Ada 13 juta pekerja langsung yang terancam dari 13 jenis usaha pariwisata. Potensi kehilangan pekerjaan 6 juta hingga akhir tahun 2020 di mana ada yang diberhentikerjakan, dirumahkan, atau usaha mandirinya bangkrut. Sementara itu ada 32,5 juta tenaga kerja tidak langsung yang terdampak yakni UMKM Parekraf, money changer, toko souvenir, penari, pemusik, pekerja seni di daerah wisata, pemasok ke hotel/restoran, pekerja mall/retail, dan lainnya. Potensi kehilangan mencapai 15 juta pekerjaan sampai akhir tahun 2020 (Tribunnews.com, 2020).

Berdasarkan data dari Organisasi Pariwisata Dunia (UNTWO), penurunan jumlah kunjungan wisata di dunia juga menurun 44% selama pandemi. Bahkan Pulau Dewata, Bali, yang menjadi destinasi favorit wisatawan domestik maupun asing juga mengalami penurunan kunjungan karena penutupan akses guna menahan laju penyebaran COVID -19.

Mendorong Bangkitnya Ekowisata

Sektor usaha pariwisata merupakan jenis bisnis yang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19 sehingga perlu upaya-upaya untuk mendorongnya bangkit kembali. Pandemi Covid-19 dapat mengubah jenis atau tipe dan pengelolaan destinasi wisata. Kegiatan wisata berbasis alam atau outdoor diprediksi akan cepat bangkit dan berkembang karena merupakan wisata minat khusus sehingga perlu didukung berkembangnya ekowisata di Indonesia (Kemenparekraf, 2020).

Ekowisata diperkirakan menjadi produk pariwisata yang paling diminati paska pandemi, khususnya untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam. Dapat pula dikembangkan kombinasi wisata alam dan budaya serta pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif di wilayah masing-masing. Sebab setelah lelah berwisata menikmati keindahan alam, tentunya para wisatawan akan mencari wisata kuliner dan berbelanja oleh-oleh (Rully Indrawan, 2020).

Mendorong perkembangan wisata konservasi secara lebih luas dilatarbelakangi oleh kesadaran tren wisata yang berubah dari wisata umum ke wisata alam atau ekowisata. Wisata alam memberikan manfaat lebih antara lain interaksi langsung dengan alam, pengenalan budaya lokal, dan penyadaran pentingnya pelestarian alam.

Beberapa Taman Nasional (TN) ditetapkan sebagai bagian dari 10 destinasi wisata prioritas yaitu TN Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, TN Wakatobi di Sulawesi Tenggara, TN Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, bersama dengan 7 destinasi prioritas lainnya.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah TN di Jawa Timur yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman yang bentangan barat-timurnya sekitar 20-30 km dan utara-selatannya sekitar 40 km ini ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayahnya sekitar 50.276,3 ha. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir yang luasnya lebih kurang 6.290 ha. Batas kaldera lautan pasir itu berupa dinding terjal, yang ketinggiannya antara 200-700 m. Pengukuhan kawasan Bromo Tengger Semeru sebagai TN atas pertimbangan alam dan lingkungannya yang perlu dilindungi serta berbagai potensi tradisional kuno yang perlu terus dikembangkan. Pembangunan infrastruktur untuk mendukung KSPN Bromo Tengger Semeru meliputi 2 lokasi desa yakni Desa Ranupani dan Desa Argopuro, mencakup pembangunan jalan beserta street furniture dan rest area. Posisi jalan ini berada di lereng, seringkali dilanda longsor sehingga banyak merugikan masyarakat karena menghambat kegiatan sehari-hari.

Taman Nasional Wakatobi terletak di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, diresmikan pada tahun 1996 sebagai TN Laut terluas kedua di Indonesia. Pemerintah setempat menyatakan TN ini menjadi habitat bagi 90% jenis karang yang ada di dunia serta lebih dari 942 spesies ikan. Wakatobi adalah akronim dari nama empat gugusan pulau utama yang ada di sana yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Terletak di utara Laut Flores, luas keseluruhannya 1,39 juta ha, luas daratannya sekitar 16.000 ha. Kawasan yang ditetapkan sebagai TN ini berada di pusat kawasan segitiga karang dunia yang meliputi 6 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Wakatobi dinyatakan sebagai destinasi wisata bahari terbaik tak hanya di Indonesia tetapi juga dunia karena memiliki potensi keanekaragaman hayati bahari yang sangat besar, salah satunya sebagai lokasi menyelam kelas dunia. Lebih dari 50 titik penyelaman tersebar di seluruh perairan Wakatobi dengan ragam arus, gelombang, dan kedalaman laut yang berbeda-beda. Peningkatan infrastruktur untuk mendukung KSPN Wakatobi meliputi beberapa lokasi di Pulau Wangi- Wangi mencakup peningkatan jalan lingkungan di 4 desa, pembangunan RTP di Pantai Sousu, pembuatan RTP di Desa Patuno, dan pembangunan 7 gerbang desa, yakni Desa Waha, Desa Koroeonawa, Desa Waelumu, Kelurahan Waetung, Desa Patuno, Desa Longa, dan Desa Matahora.

Taman Nasional Kepulauan Seribu adalah kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 45 km sebelah utara Jakarta. Perubahan Fungsi Cagar Alam Laut Kepulauan Seribu menjadi TN Laut Kepulauan Seribu mencakup luasan 107.489 ha yang terdiri atas wilayah perairan laut seluas 107.489 ha dan 2 buah pulau, yaitu Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran Timur seluas 39,50 ha. Secara administratif kawasan TN Kepulauan Seribu berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu, terletak di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, mencakup tiga kelurahan yaitu Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Kelapa, dan Kelurahan Pulau Harapan. Pulau-pulau lain (wilayah daratan) yang berjumlah 108 pulau sesungguhnya tidak termasuk ke dalam kawasan TN Kepulauan Seribu. TN ini tidak hanya berfungsi sebagai wilayah perlindungan alam, tetapi sekaligus destinasi wisata yang didominasi oleh wilayah perairan sehingga menjadi tujuan wisata bahari yang menjanjikan. Meski banyak pulau yang tidak berpenghuni namun hal ini tidak menghalangi wisatawan untuk menyambangi dan menikmati keindahan alam dari pulau-pulau yang ada. Selain menikmati pemandangan alam yang asri dan mempesona, pengunjung juga dapat melihat perpaduan budaya yang unik saat menikmati Wisata Kepulauan Seribu. Para pengunjung hanya memerlukan waktu beberapa jam untuk mencapai kawasan yang berada di Kabupaten Kepulauan Seribu melalui pelabuhan di Jakarta, menggunakan transportasi speed boat. Pengembangan daerah penyangga KSPN di Kepulauan Seribu terletak di dua pulau Tidung dan pulau Untung Jawa. Pulau Tidung adalah pulau paling favorit, paling populer, dan paling banyak disinggahi wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu karena memiliki potensi bahari besar berupa laut yang sangat jenih dengan pasir pantai yang halus dan mempesona. Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pulau Tidung didesain sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat Pulau Tidung maupun wisatawan yang datang. Terletak di bagian timur Pulau Tidung, RTH Pulau Tidung merupakan perpanjangan dari Jembatan Cinta. Seperti destinasi wisata lainnya di Kepulauan Seribu, Pulau Untung Jawa juga menawarkan wisata bahari seperti olahraga dan beragam permainan air, snorkeling, dan wisata hutan bakau. Pulau Untung Jawa sudah dihuni sejak zaman pemerintahan Belanda dengan nama Pulau Amiterdam.

Pembangunan bidang lingkungan hidup dan kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK) pada tahun 2021 diarahkan pada beberapa hal seperti pengembangan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam sebagai dukungan destinasi wisata prioritas. Menurut Sandiago (2020) dengan kesiapan infrastruktur dan kesiapan pelaku usaha lokal menerapkan protokol kesehatan secara ketat yakni CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability), sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan segera bangkit. Peningkatan kualitas tenaga kerja khususnya skill digitalisasi marketing serta pelatihan ritel menjadi kebutuhan penting untuk mengembangkan industri pariwisata. Implementasi konsep ekowisata plus penguatan kapasitas pelaku bisnis wisata dan stakeholder terkait untuk mempercepat eskalasi pariwisata berkelanjutan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penutup

Kawasan ekowisata memiliki lingkungan yang alami, berkelanjutan secara ekologis, menguntungkan bagi masyarakat setempat, lingkungan yang edukatif, serta menciptakan kepuasan wisatawan (Dowling, dalam Hill & Gate, 2009). Ekowisata merupakan kegiatan di luar ruangan (outdoor activities) sehingga dapat memudahkan dalam menjaga jarak serta mengurangi risiko penularan virus. Ekowisata berbasis masyarakat merupakan upaya pengembangan desa melalui sektor pariwisata, masyarakat setempat berperan aktif dalam pembangunan ekowisata sehingga kawasan ekowisata tidak hanya menawarkan wisata alami, namun turut berkontribusi terhadap konservasi lingkungan dan budaya. Menawarkan keindahan alam yang masih asli, ekowisata juga dapat sekaligus menjadi wisata edukasi bagi para wisatawan dengan memahami budaya dan sejarah dari kawasan tersebut sehingga diharapkan tumbuh kesadaran untuk berpartisipasi menjaga lingkungan. Selain itu, ekowisata juga akan mendongkrak ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.