Millenial yang Sukses Bertani Hidroponik

Rennita, Owner RH Farm Bogor-Jawa Barat

0
205
Rennita, Owner RH Farm Bogor-Jawa Barat

Jumlah masyarakat dengan usia produktif (milenial) yang berminat pada bidang pertanian terbilang kecil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah petani milenial di Indonesia yang berusia 19-39 tahun terus menurun. Untuk itu Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pembentukan petani milenial yang berjiwa wirausaha, agar sektor pertanian cepat berkembang dan komoditasnya berdaya saing. Sejalan dengan itu, generasi milenial bidang pertanian dapat lebih cerdas berwirausaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital yang lebih modern dan kekinian.

Apa yang menjadi impian Kementan telah dilakukan Rennita, milenial yang sukses bertani Hidroponik. Meski berawal dari hobi, milenial yang tangguh ini mampu mengantarkannya pada bisnis dengan omset yang fantastis. Bermula pada niat untuk memanfaatkan lahan milik keluarga di kawasan Bogor, Jawa Barat, Ia menyulapnya menjadi beragam jenis tanaman pangan dengan metode budidaya hidroponik.

Nah, bagaimana awal dari bisnis RH Farm? Berikut perbincangan Agro Indonesia dengan wanita muda tangguh yang mengelola RH Farm Jalan Raya Cifor, Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Apa yang mendasari anda terjun di bidang pertanian hidroponik? Setahu saya latar pendidikan anda bukan fakultas pertanian.

Oh ya, pendidikan saya memang S1 Manajemen Bisnis. Berawal dari beberapa usaha yg pernah saya jalani (toko plastik, baju, accessories rambut, dll) gagal dan kebetulan saya juga hobi bercocok tanam cabe, tomat, jeruk limo di atas balkon rumah ukuran 4×8. Tahun 2016 saya liat-liat You tube dan searching di google tentang pertanian hidroponik konon “bertani tanpa haruss panas-panasan dan kotor-kotoran” menurut saya itu sangat menarik. Biasalah perempuankan takut hitam kena matahari.

Bagaimana anda mengawali usaha ini?

Singkat cerita, saya pesan rangkaian hidroponik lewat kenalan dari teman sebanyak 420 lubang tanam. Dari situ saya mulai tanam, pertama kali hasil panen saya bagikan ke tetangga untuk pengenalan dan edukasi tentang sayur hidroponik. Alhamdulillah responsnya baik. Lalu saya jual ke ibu-ibu komplek dan ibu-ibu pengajian. Dari sana akhir 2018 saya ekspansi ke kebun dan sekarang sebanyak 12.000 lubang tanam. Setelah ekspansi saya bingung mau dijual kemana hasil kebun yang oversupply. Akhirnya saya mengikuti pelatihan hidroponik (yang diselenggarakan alghanfarm) dengan maksud selain menambah ilmu juga mencari komunitas hidroponik. Harapannya bisa saling membantu menjual hasil panen. Di sana saya ketemu mentor dan penggiat hidroponik Bapak Dadan Ramdhani. Dari sana lah beliau mengarahkan saya untuk bergabung di Koperasi Tani Hidroponik Sejahtera (KOTAHIRA) yg diketuai Bapak Teguh. Setiap minggu saya dapat kuota pengiriman sayur pakcoy 50-100 kg/minggu

Apa sebenarnya yang menarik dari berkebun hidroponik?

Yang menarik berkebun Hidroponik bahwa bertani tak melulu harus dilakukan berpanas-panas dan kotor-kotoran di sawah. Dengan teknologi, setiap orang bisa menjadi petani tanpa harus terjun ke sawah. Salah satunya melalui pertanian hidroponik. Dengan metode pertanian modern tersebut, bertani bisa dilakukan di rumah karena tidak membutuhkan lahan yang luas dan ketersediaan tanah sebagai media tanam. Caranya itu simple banget. Tiap hari hanya cek air di tandon lalu cek PH dan Nutrisi (ppm) pakai alat khusus Hidroponik.

Jauh sebelum orang-orang meramaikan tren hidroponik, yang kebanyakan untuk mengisi waktu selama work from home (WFH), saya sudah tertarik dengan hidroponik. Saya membuktikan bahwa hidroponik bukan sekedar hobi, bukan sekedar menghabiskan waktu luang, tapi bisa menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan

Saat ini berapa luas lahan yang anda kelola?

Luas lahan ada 5200 m. Yg dipakai area hidro hanya 800m. Ke depan akan dikembangkan lagi dan mencoba untuk membuat greenhouse khusus tanaman melon dan tomat. Saat ini saya menanam pakcoy, bayam, kangkung, kale, pagoda, caisim. Yang menjadi primadona pakcoy karena banyak permintaan untuk sayuran tersebut.

Bagaimana dengan pemasarannya?

Pemasaran selain ke Koperasi, saya juga menjual ke end user (beberapa komplek perumahan di Bogor) dan Reseller di Bogor dan Jakarta. Pandemi Covid-19 membawa berkah tersendiri bagi saya. Omsetnya meledak dua kali lipat sejak saya memasarkan produk pertanian melalui reseller. Sebelumnya, sayuran-sayuran  disalurkan melalui koperasi, untuk dijual kepada end user. Namun akibat Covid-19 merebak koperasi tutup, penjualan sempat terhenti. Meski begitu mental bisnis saya terbukti. Saya beralih fokus ke penjualan online melalui reseller. Justru melalui para reseller, permintaan sayuran meningkat drastis terutama karena konsumen lebih memilih pembelian online di tengah pandemi. Dengan bantuan teknologi seperti sekarang ini saya lebih mudah menggaet pasar yang lebih luas.

Apakah ada kendala dalam berbisnis sayuran hidroponik?

Kendala terutama saat semai. Saya menyemai sendiri bibit sayuran, dengan menyemai sendiri bisa menurunkan biaya opersional hingga 30 persen. Menyemai sendiri memang tidak mudah sih menurut saya dari semua proses hidrofarm ini paling sulit itu semai. Saya pernah gagal terus sampai 15 kali lah sampai saya sudah merasa tidak cocok berbisnis di bidang pertanian. Alhamdulillah saat ini sudah tidak ada kendala. Malah omset makin meningkat karena di era covid ini pola hidup masyarakat berubah amat sangat menjaga kesehatan. Nah salah satunya mengkonsumsi sayuran hidroponik yang lebih sehat, karena asupan sayuran itu penting utk menjaga imun tubuh selain asupan buah-buahan dan olahraga.

Berapa modal awal yang anda benamkan untuk bisnis di bidang Hidrofarm ini?

Modal awal dulu sekitar Rp80 jutaan. Saat ini dengan dukungan Ibu yang juga hobi bertani RH Farm memeliki omset Rp30 juta – Rp50 jutaan per bulan. Saya juga sudah mempu mempekerjakan tenaga kerja khusus yang menangani hidro 3 orang dengan background mereka ojol. Mereka saya arahkan dan diberikan edukasi tentang Hidroponik lalu saya daftarkan mereka untuk mengikuti pelatihan Hidroponik supaya lebih paham dan mengenal tentang Hidroponik.

Apakah anda sudah menurunkan ilmu ini kepada Milenial lainnya?

Tentu, komoditas pertanian sudah menjadi kehidupan saya sehari-hari. Saya aktif mengadakan pelatihan Hidroponik untuk kaun milenial setiap bulan di kebun. Mentornya pak Dadan Ramdani. Keberhasilan saya berbisnis hidroponik membuat saya kerap diminta untuk mengisi pelatihan bagi masyarakat setempat. Kedepannya, saya bercita-cita untuk mengajak masyarakat, terutama para muda-mudi untuk mengikuti jejak saya.

Bagaimana perhatian pemerintah terhadap petani hidroponik seperti anda?

Harapan saya semoga pemerintah bisa memberi perhatian kepada para petani Hidroponik, memberikan kebijakan-kebijakan yang memudahkan para petani untuk memasarkan produk sayuran serta kemudahan dalam memperoleh pupuknya. Mengingat, teknologi budidaya juga semakin beragam, dengan pola hidroponik, aquaponik, urban farming, dan smart farming yang memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi muda.

Shanty