PPSKI Ragukan Angka Kelahiran Program Siwab

0
789
Ilustrasi hewan kurban

Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) meragukan program Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) mampu menambah populasi sapi sebanyak 2,38 juta ekor.

“Siapa yang melakukan perhitungan jumlah itu? Kementan atau lembaga independen?” kata Ketua Umum PPSKI, Teguh Boediyana, kepada Agro Indonesia, di Jakarta, Sabtu (17/11/2018).

Dia menghimbau Kementerian Pertanian (Kementan) jangan marah jika masyarakat kurang percaya dengan data yang disajikan. Pasalnya, monitoring dan evaluasi yang dilakukan Kementan dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, tidak melibatkan shokeholder atau lembaga independen lainnya.

Sebelumnya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita, mengklaim program Upsus Siwab yang diluncurkan sejak akhir 2016 sampai 4 November 2018 berhasil menambah populasi sapi sebesar 2,38 juta ekor.

Ditanya, apakah angka keberhasilan Siwab itu bisa dipertanggungjawabkan, Ketut mengatakan perhitungan hasil kelahiran Siwab sangat terdata rapi. “Mulai dari inseminatornya, lokasi dimana sapi, semennya dan lain sebagainya tercatat dengan jelas. Kami berani dicek,” tegas Ketut.

Menurut Ketut dari program ini masih terdapat potensi pertambahan pedet sebanyak 3,66 juta dari target sapi betina yang bunting sebesar 5,1 juta atau 71%.
Adapun jumlah sapi yang di IB sudah mencapai 7,58 juta ekor.Realisasi akseptor IB tercatat 108 % dari dari target (sapi betina produktif red) sebesar 7 juta ekor sapi. Ketut menegaskan Kementan menjamin validitas laporan jumlah sapi yang bunting dan pedet.

Menurut Ketut melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan mencatat setiap semen beku (sperma) memiliki kode tersendiri . Setelah itu, setiap kegiatan IB juga dicatat waktunya dan laporan tersebut juga memuat jenis semen beku yang diterima akseptor.

”Setiap sperma memiliki kode yang tidak sama,”ujar. Ketut menerangkan pertumbuhan peningkatan populasi sapi dan kerbau melalui Siwab tumbuh 3,83 %. Apabila di tahun 2016 populasi sapi–kerbau tercatat 17,8 juta ekor dan ditahun 2017 bertambah menjadi 18,5 juta ekor.
Bandingkan sebelum program ini dijalankan, pertumbuhan populasi sapi dan kerbau hanya tumbuh 1,03% per tahun. Apabila di tahun 2013, jumlah populasi sapi dan kerbau sebesar 14,2 juta ekor , kemudian ditahun berikutnya menjadi 16,5 juta ekor.

Nilai Lebih
Ketut menambahkan Upsus Siwab memberi nilai tambah di peternak sebesar Rp17,67 triliun. Nilai tersebut dihitung dari harga pedet sebesar Rp8 juta dikalikan jumlah pedet yang lahir .Sementara nilai investasi pemerintah melalui APBN hanya sebesar Rp1,41 triliun.

Selain peningkatan populasi sapi dan kerbau, sambung Ketut, Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan sapi betina produktif. Melalui kerjasama dengan Baharkam Polri. Pemotongan sapi betina produktif secara nasional pada periode Januari –Agustus 2018 mencapai 8.482 ekor. Jumlah tersebut menurun 51,38% jika dibandingkan periode sama pada tahun 2017 yakni sebesar 17.446 ekor sapi betina.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Sugiono menyebutkan Kementan menambah sapi indukan impor dari Australia. Hal ini dilakukan dalam rangka mempercepat peningkatan populasi sapi di dalam negeri.
“Melalui upaya ini kita harapkan akan terjadi penambahan sumber produksi sebagai pengerak peningkatan populasi dua tahun yang akan datang, sekaligus bertambahnya usaha berskala bisnis untuk ternak itu sendiri,” ujarnya.

Dengan penambahan indukan impor ini, secara nasional populasi sapi akan bertambah. Hal ini menjadi wujud investasi dan pondasi yang ditanamkan pemerintah sebagai komitmen dalam mewujudkan swasembada daging sapi 2022.

Data Kementan pada 2015-2016 juga telah melakukan importasi sapi indukan sebanyak 6.323 ekor yang didistribusikan ke 229 kelompok di 48 kabupaten/kota pada empat provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, Riau dan Kalimantan Timur.
Menurut dia, berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan bersama tim pada November 2018, telah terjadi peningkatan populasi sebesar 17,65 persen atau meningkat menjadi 7.439 ekor. Sehingga ada penambahan populasi sebanyak 1.116 ekor.

“Ini menunjukkan bahwa fasilitasi penambahan indukan impor dengan manajemen intensif cukup berhasil dan perlu dioptimalkan kembali,” ujarnya.
Dia mengaku sempat menerima keluhan peternak terkait sapi Brahman Cross (BX) sulit untuk dikembangbiakkan. Namun menurutnya, setelah melihat kondisi di Koperasi Produksi Ternak Maju Sejahtera (KPT-MS), Lampung Selatan, pada Kamis (15/11), menunjukkan bahwa sapi indukan impor dapat dikembangbiakkan.
Bahkan di Lampung Selatan terjadi 87 ekor kelahiran dari 100 ekor sapi indukan BX yang diimpor. Dengan pengelolaan yang baik dan benar, sapi indukan impor juga dapat berkembangbiak dengan baik. Jamalzen