Presiden Jokowi Ajak Petani Beralih ke Pertanian Modern

0
505

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa kagum dengan percepatan pertanian Indonesia yang sudah mentransformasikan dirinya dari pertanian tradisional ke pertanian modern.

Menurut Presiden, dalam lima tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah membagi-bagikan alat dan mesin pertanian (Alsintan), seperti traktor, excavator dan bulldozer untuk daerah-daerah yang memiliki lahan besar-besar, seperti di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut).

“Saya kaget juga dalam satu kabupaten traktornya dan excavator-nya begitu banyak, sehingga lahan besar bisa dikerjakan dengan mekanisasi peralatan-peralatan yang ada. Saya lihat itu bantuan dari Menteri Pertanian,” kata Presiden Jokowi saat berdialog dengan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Untuk itu, Presiden meminta para bupati yang biasanya menggarap lahan secara manual, agar meminta bantuan ke Kementa. Pasalnya, setiap tahun bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) selalu dialokasikan.

“Jadi, kita ubah petani yang sudah berpuluh-puluh tahun melakukan land clearing dengan cara membakar diganti dengan dengan mekanisasi (traktor, excavator). Jadi, tanpa harus membakar,” kata Presiden seperti dikutip laman Setkab.go.id.

Presiden menyebutkan, berilah petani-petani mindset yang baru, pola pikir yang baru dalam bekerja. Jangan biarkan petani yang berpuluh-puluh tahun menggunakan cangkul untuk pembukaan lahan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, dalam 4,5 tahun terakhir pemerintah telah melaksanakan pengadaan Alsintan dalam jumlah besar dan menetapkan visi mekanisasi pertanian modern.

Data Agro Indonesia mencatat, bantuan pemerintah berupa Alsintan yang disalurkan melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan sudah mencapai 385.170 unit.

Alsintan itu terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, chopper, cultivator, excavator, hand sprayer, implemen alat tanam jagung dan alat tanam jagung semi manual.

Pada tahun 2015, Alsintan yang disalurkan sebanyak 54.083 unit. Tahun 2016 sebanyak 148.832 unit, tahun 2017 sebanyak 84.356 unit, dan tahun 2018 sebanyak 115.435 unit (per Oktober 2018). Total yang sudah diberikan sebanyak 385.170 unit.

“Mekanisasi mempercepat cara kerja petani, menggugah anak muda kembali ke pertanian, dan meningkatkan produksi pangan kita secara luar biasa. Pada tahun 2014, level mekanisasi pertanian hanya 0,14. Pada tahun 2018 kemarin meningkat signifikan menjadi 1,68,” kata Mentan Amran.

Kementan telah menguji efisiensi lima Alsintan yang berbasis teknologi 4.0, yaitu atonomous tractor, robot tanam, drone sebar pupil, autonomous combine, dan panen olah tanah terintegrasi.

Mentan menambahkan, Alsintan berbasis teknologi 4.0 ini bila dibandingkan Alsintan konvensional terbukti mampu meningkatkan efisiensi waktu kerja berkisar 51%-82%, dan efisiensi biaya berkisar 30%-75%.

Mentan juga menetapkan Program Pertanian 4.0 pada bulan Juni 2019. Diharapkan  pemanfaatan Pertanian 4.0 dapat meningkatkan efisiensi waktu kerja dan efisiensi biaya secara signifikan, serta memberikan keuntungan bagi petani.

Makin Efisien

Sementara itu, Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian,  (PSP), Kementan, Andi Nur Alamsyah mengatakan, jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani berusia lebih kurang 60 tahun, disusul kemudian usia antara 40-45 tahun.

Dampak nyata adanya kelangkaan tenaga kerja dan usia lanjut tenaga petani untuk mendukung budidaya tanaman padi adalah rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam.

Menurut dia, masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit (transplanter, Red.) padi. Mesin transplanter adalah sebagai solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi.

“Hemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. Dan faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budidaya padi,” katanya.

Dampak nyata penggunakan mesin tanam padi ini, sambungnya, terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan bahwa rata-rata kinerja 1 mesin transplanter dengan 1 orang operator dan 2 asistennya dapat menggantikan antara 15 hingga 27 hari orang kerja (HOK), sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1 hingga 1,2 hektare (ha) per hari.

“Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan telah menghasilkan mesin transplanter yang dinamai mesin Transplanter Jarwo 2:1. Secara umum rata-rata biaya tanam padi secara manual sekitar Rp1,72 juta/ha, sedangkan dengan mesin transplanter jarwo 2:1 sekitar Rp1,1 juta/ha,” ujar Andi Nur Alam.

Menurut dia, keuntungan lain dari cara tanam dengan mesin transplanter munculnya usaha pembibitan padi, karena mesin memerlukan bibit khusus, yaitu umur bibit harus kurang dari 18 hari dan bibit harus ditaruh pada kotak mesin (tipe dapog, Red.) sesuai ukuran mesinnya. Rata-rata kebutuhan bibit sebanyak 250 sampai 300 dapog/ha.

Andi Nur Alam membeberkan, petani sudah profesional atau lihai menggunakan mesin transplanter. Ini terungkap dari hasil pemberdayaan yang dilakukan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Kementan. PSP