Dirjen PSP: Orientasi UPJA Harus Bisnis

0
604

Pengelolaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) oleh Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), Kelompok Tani, harus berorientasi bisnis. Untuk itu, pengurus harus mau dan mampu mengelola pelayanan jasa Alsintan secara profesional.

“Sekali lagi saya berharap, dengan adanya bengkel Alsintan yang dikelola bersama UPJA Tani Karya Mandiri dapat membantu dalam meningkatkan produksi dan usaha tani warga sekitar,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Sarwo Edhy di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (14/9/2019). Sarwo Edhy mengatakan hal itu saat meresmikan Warehouse UPJA Tani Karya Mandiri, di Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Dirjen PSP mengatakan,  Kementan mendukung penuh pengembangan Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM) yang bertujuan untuk optimalisasi pemanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan).

Menurut dia, dengan Alsintan dapat menurunkan biaya produksi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Di samping itu, meningkatkan minat kaum milenial dalam berusaha tani, sehingga ada kemandirian pemanfaatan Alsintan dan manajemen UPJA dengan bisnis modern.

Kementan juga sudah mengadakan kegiatan percontohan di lima lokasi yang ditetapkan berdasarkan SK Dirjen PSP No. 07.1/2019. Salah satu lokasi tersebut berada di Desa Karangtinoto , Kecamatan  Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Menurut Sarwo, Warehouse UPJA Tani Karya Mandiri ini memang luar biasa. Pembangunannya memang sudah diprogramkan setahun selesai dan hasilnya cukup memuaskan.

“Biaya pembangunan ini ada swadaya masyarakat tani. Kita bantu dana sebesar Rp560 juta dan dari swadaya tani sebesar Rp120 juta,” tegasnya.

Sarwo Edhy berharap agar nantinya percontohan ini bisa digunakan untuk desa-desa dan kecamatan lain di Kabupaten Tuban. Ini merupakan proyek percontohan untuk warehouse-warehouse (bengkel) yang dibangun Kementan di setiap titik di Kabupaten di seluruh Indonesia.

“Di sini ada ruang pertemuan dan tempat pelatihan, tempat gabah. Di sebelahnya dibangun dryer untuk pengering, nanti sebelahnya lagi kita bangun Rice Miling Unit,” katanya.

Diharapkan, kelompok tani di sini bisa mempunyai brand beras sendiri. Mengingat UPJA mempunya fasilitas untuk memproses dari hulu sampai hilir (mulai dari penanaman, pengolah, panen) hingga menjadi beras.

“Di sini terpadu, sudah ada kios Saprodinya, ada layanan bengkel Alsintan, ada unit pengelolaan Alsintan, tempat cuci Alsintan, gudang, kantor UPJA dan ruang pertemuan,” tegasnya.

Selain itu, lanjutnya, akan dibangun dryer sehingga proses agribisnis mulai tanam sampai pasca panen akan dilaksanakan kelompok UPJA atau kelompok tani/gabungan kelompok tani.

Menurut Sarwo Edhy, Kementan bekerjasama dengan BPH Migas akan memberikan layanan BBM Pertamini untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar baik solar maupun bensin bagi para petani yang ada disekitarnya.

“Semua dalam rangka pengelolaan alat mesin pertanian. Jadi kita ke depan merubah mainset dari pola budidaya tradisional ke pola modern melalui sistem mekanisasi,” katanya.

Pompanisasi

Di tempat yang sama, Sarwo Edhy meninjau lokasi pompanisasi. Menurut dia, air sungai Bengawan Solo dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian.

Caranya adalah dengan pompanisasi air dari Bengawan Solo untuk dialirkan ke saluran irigasi untuk mengairi sawah. Air Bengawan Solo tak pernah surut meskipun musim kemarau.

Bantuan pompa melalui Ditjen PSP Kementan dikelola Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Karangtinoto di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

Para petani mampu memindahkan sebagian air sungai itu untuk mengairi lebih dari 1.700 hektare (ha) lahan milik petani di daerah tersebut. Pompanisasi ini salah satu antisipasi  kekeringan untuk sawah-sawah lahan tadah hujan.

Dengan ada sistem pipanisasi ini, pompa yang berukuran besar bisa menyedot air dari sumber-sumber air yang ada di sungai, sehingga bisa mengairi lebih kurang 1.700 ha.

Dia menambahkan, program-progam semacam ini harus disosialisasikan ke masyarakat. “Kita bisa laksanakan dengan jumlah lebih besar lagi. Kita bisa membantu petani yang biasa bertanam satu kali, setelah ada pompanisasi bisa bertanam 3 kali dalam setahun,” katanya.

Pompanisasi Bengawan Solo juga perlu dicontoh oleh daerah-daerah lainnya. Khususnya yang memiliki lahan yang sering kekeringan, padahal berada di pinggir sungai yang tak pernah kering.

Aliran Sungai Bengawan Solo melewati sejumlah wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti Kabupaten Madiun, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan berakhir di Gresik.

“Dampaknya sangat positif. IP (indeks pertanian) meningkat. Yang awalnya lahan tersebut hanya satu atau dua kali tanam menjadi dua sampai tiga kali tanam. Produktivitas pun meningkat karena air mencukupi untuk pertumbuhan tanaman,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Murtadji mengatakan, sebelum ada pompanisasi ini, kalau musim hujan di sini banjir, kalau musim kemarau, hanya bisa tanam palawija.  “Tetapi Alhamdulillah, saat ini dengan adanya pompanisasi dan Alsintan bantuan dari Ditjen PSP, petani bisa tanam 2-3 kali dalam setahun,” ujar Murtadji.

Dia menjelaskan, pihaknya telah berinovasi bagaimana sungai Bengawan Solo bisa mengairi sawah sawah di sekitarnya. Bukan lagi musibah tetapi menjadi berkah bagi petani sekitarnya.

“Bisa dilihat di mana-mana wilayah lain dilanda kekeringan, tetapi Desa Karangtinoto dan sekitarnya adakan panen raya,” katanya.

Dia menambahkan, peningkatan produksi sangat luar biasa, pada saat musim kemarau ini tidak ada produktivitas di bawah 10 ton. Hal ini dikarenakan fotosintesis sangat bagus, airnya melimpah dari sungai Bengawan Solo. PSP