Sepanjang Jalan Kenanga, Polusi Timbal Kini Tiada

0
847
Kenanga

Disarikan dari Skripsi Sarjana Kehutanan IPB, Nabila Rachma Amalia dengan judul “Kemampuan Beberapa Jenis Pohon di Hutan Kota Kawasan Industri dalam Menyerap Timbal”, di bawah bimbingan Dr. Siti Badriyah Rushayati (Dosen Pada Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) dan Prof. Dr. Hendra Gunawan (Peneliti Ahli Utama dan Profesor Riset di Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati, pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

DData Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan laju pertumbuhan penduduk Indonesia 1,49% (2000-2010) dan 1,36% antara tahun 2010-2016.  Pertumbuhan penduduk ini diiringi dengan pertumbuhan sarana transportasi darat, yang sebesar 8,19% dan Pulau Jawa memiliki pertumbuhan kendaraan tertinggi yaitu 9.28% per tahun.

Bila dirinci lebih detail lagi ke kota-kota metropolitan dan kota industri, maka pertumbuhan sarana transportasinya pasti lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.  Hal ini disebabkan oleh berkembangnya kawasan-kawasan industri dan perkantoran yang diikuti dengan tumbuhnya permukiman di sekitarnya.

Hal ini tentu saja menimbulkan dampak penting negatif terhadap lingkungan, terutama pencemaran atau polusi udara dari gas buang dan kebisingan yang bersumber dari mesin industri dan transportasi.  Berdasarkan The Study on the Integrated Air Quality Management for Jakarta Area dan Integrated Vehicle Emission Reduction Strategy for Greater Jakarta,  transportasi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencemaran udara perkotaan.

Bahaya timbal bagi kesehatan

Polutan yang dihasilkan dari emisi gas buang berwujud asap, merupakan hasil dari proses pembakaran yang tidak sempurna.  Polutan dari mesin berbahan bakar minyak antara lain mengandung hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SO2), oksida fotokimia (Ox), suspended particulate matter (SPM) dan timbal atau timah hitam yang nama ilmiahnya Plumbum (Pb).  Timbal (Pb) merupakan logam berat bersifat racun yang menyerang syaraf.  Jika timbal terpapar kepada anak kecil maka dapat menimbulkan penurunan kemampuan otak, sedangkan pada orang dewasa dapat menyebabkan gangguan tekanan darah tinggi dan keracunan jaringan.  Timbal bersifat non biodegradable dan akan terus terakumulasi dalam tubuh, yang sering disebut bioakumulasi.  Di dalam tubuh biasanya Pb terakumulasi di dalam darah, jaringan lunak, tulang, dan organ tubuh lain.

Pentingnya upaya mitigasi dan adaptasi

Polusi udara menurunkan kualitas udara yang  akan berdampak pada kualitas hidup manusia.  Oleh karena itu polusi udara harus dikendalikan, yang antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara. Selain upaya pencegahan (mitigasi) polusi udara dengan pengendalian sejak dari sumbernya, perlu juga dilakukan pengendalian polusi udara yang sudah terjadi melalui adaptasi, seperti membangun hutan kota dan taman kota, serta membuat jalur hijau sepanjang tepi jalan.

Kehadiran vegetasi atau sekumpulan tumbuhan di suatu wilayah dapat memperbaiki kualitas udara, karena banyak spesies tumbuhan memiliki kemampuan menyerap zat polutan tertentu.  Oleh karena itu penting untuk memilih spesies tumbuhan yang tepat dalam membangun hutan kota atau jalur hijau, agar fungsinya sebagai pereduksi polutan di kawasan industri dan permukiman sekitarnya lebih efektif.  Apalagi seringkali kita membutuhkan spesies pohon yang memiliki multi fungsi sekaligus, misalnya yang mampu menyerap timbal, menyimpan air, bertajuk rimbun dan bentuknya indah, tidak menggugurkan daun, berbunga indah dan mengeluarkan aroma wangi tertentu.

Kemampuan beberapa spesies pohon dalam menyerap timbal dari emisi kendaraan bermotor

Penelitian dilakukan pada 7 spesies pohon yaitu Beringin (Ficus benjamina), Bintaro (Cerbera manghas), Karet kerbau (Ficus elastica), Kenanga (Cananga odorata), Krey payung (Filicium decipiens), Mahoni (Swietenia macrophylla) dan Mangga (Mangifera indica).  Yang menjadi perhatian dalam penelitian ini antara lain bentuk dan luas daun, tekstur permukaan atas dan bawah daun, ketebalan daun, dan tipe daun (tunggal atau majemuk).

Parameter yang diukur adalah nilai leaf area index (LAI) atau indeks luas daun yang dapat ditafsirkan sebagai “ukuran kerimbunan” serta nilai kemampuan daun dari masing-masing spesies pohon dalam menyerap timbal.  Diduga kuat ada korelasi antara kerimbunan tajuk dengan efektivitas penyerapan polusi timbal.

Hasil penelitian menemukan bahwa daun Mangga memiliki luas terbesar, sedangkan luas daun terkecil dimiliki oleh Krey payung. Ketebalan terbesar dimiliki oleh Karet kerbau dan ketebalan terkecil dimiliki oleh Krey payung.  Ternyata berdasarkan hasil uji regresi linier,  kemampuan menyerap timbal tidak berkorelasi dengan luas dan ketebalan daun.

Kemampuan tertinggi dalam menyerap timbal berturut-turut dimiliki oleh Bintaro, Krey payung, Kenanga, Mahoni dan Beringin.  Diduga kemampuan menyerap Timbal tersebut dipengaruhi oleh stomata.  Menurut beberapa peneliti, ukuran, jumlah dan pembukaan stomata bisa mempengaruhi kemampuan menyerap partikulat.  Menurut hasil penelitian lain, pembukaan stomata Bintaro jauh lebih besar dari Mahoni, sehingga wajar jika daun Bintaro memiliki kandungan Pb jauh lebih besar dibandingkan dengan Mahoni. Faktor lain yang juga mempengaruhi daya serap daun terhadap timbal adalah kecepatan angin, konsentrasi emisi dari mesin, jarak dari sumber emisi dan lamanya daun terpapar polutan.

Perbedaan morfologi daun berpengaruh pada kemampuannya menyerap timbal.  Daun dengan permukaan kasar, berbulu, dan lebar, lebih mudah menangkap partikel. Penelitian ini menunjukkan daun Bintaro yang jauh lebih luas dapat menyerap Pb lebih banyak dibandingkan dengan daun spesies yang lain, walaupun permukaan daun Krey payung dan Mahoni lebih kasar.

Sumber: Nabila (2018)

Dari tabel tampak bahwa, meskipun berada di urutan ketiga dalam menyerap timbal, namun Kenanga berada pada urutan pertama dalam nilai indeks luas daun.  Ini artinya pohon Kenanga memiliki kelebihan dalam hal kerimbunan.  Nilai kerimbunan ini penting karena berpengaruh pada fungsi-fungsi lain, seperti kemampuan menangkap partikel debu, meredam suara, peneduh atau naungan yang memberikan efek sejuk yang lebih baik.

Kenanga harapan baru peredam polusi timbal

Kenanga sebagai pohon jalur hijau atau pohon hutan kota masih kurang populer atau belum banyak dikenal.  Hal ini mungkin karena jenis pohon ini jarang dijual bibitnya, dan jarang dibudidayakan.  Pohon Kenanga (Cananga odorata) yang merupakan jenis asli Indonesia masih banyak dijumpai di hutan alam dan tumbuh sebagai pohon yang cukup besar dan tinggi hingga 12 meter.  Sedangkan jenis pohon Kenanga yang ditanam sebagai tanaman hias umumnya adalah jenis Kenanga perdu (Cananga odorta fruticosa) yang sudah didomestikasi dan umumnya pohonnya pendek tidak lebih dari 3 meter.  Ada juga Kenanga asli Filipina yang dikenal dengan nama ylang-ylang (ilang-ilang) yang dipanen bunganya untuk menghasilkan minyak atsiri.

Diketahuinya pohon Kenanga efektif menyerap Timbal merupakan kabar yang menggembirakan, karena menambah jumlah jenis pohon yang dapat dipilih untuk penghijauan di kota-kota besar, khususnya sebagai jalur hijau sepanjang kiri kanan jalan dan taman kota di dalam permukiman sekitar kawasan industri.  Apalagi dibandingkan dengan dua jenis pohon lain yaitu Bintaro dan Krey payung, pohon Kenanga memiliki beberapa kelebihan yaitu: berbunga sepanjang tahun tanpa mengenal musim,  mengeluarkan aroma wangi dari bunganya, memiliki tajuk yang rimbun, batangnya relatif kuat dan tidak mudah patah, bunganya mengandung minyak atsiri dan dapat disuling menghasilkan minyak wangi. Penanamannya juga mudah, baik secara generatif dengan biji atau vegetatif dengan stek, cangkok dan okulasi. Pohonnya termasuk cepat tumbuh dan dapat mentoleransi suhu udara 16oC sampai 34oC dan pH tanah 5,0 – 6,5, dapat hidup dari dataran rendah hingga dataran tinggi 1200 m dpl dengan curah hujan rendah (1.500-2.000 mm pertahun).

Dimulai dari halaman rumah dan tepi jalan perumahan

Penanaman pohon kenanga dapat dilakukan mulai dari halaman rumah kita sendiri sebagai pohon peneduh, penghasil oksigen dan mereduksi polutan timbal.  Kemudian selanjutnya dapat ditanam di sepanjang kiri kanan jalan komplek perumahan, dan ruang terbuka hijau kawasan industri yang biasanya terpolusi oleh asap mesin-mesin pabrik dan kendaraan, kebisingan dan bau yang tidak sedap dari limbah industri.  Dengan jalur hijau pohon kenanga di sepanjang jalan atau sekeliling permukiman diharapkan dapat meredam suara bising, mengurangi timbal di udara dan menetralisir bau tak sedap sehingga udara menjadi segar dan wangi.  Dengan demikian “sepanjang jalan kenanga” kita dapat menghirup udara segar bebas polusi timbal.