DPR Dukung Kementan Kembangkan Bawang Putih

0
303

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menekan impor bawang putih. Upaya itu dilakukan dengan mengembangkan tanaman bawang putih.

Untuk mendorong atau mendukung pengembangan bawang putih tersebut, terutama di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pemerintah juga memberikan bantuan, seperti bibit, pupuk dan pengaliran. Temanggung berstatus salah satu pilar besar sentra bawang putih di Indonesia.

“Produksi bawang putih Temanggung sangat kompetitif. Dengan itu, kami optimistis bisa menekan volume impor bawang putih,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan), Sarwo Edhy, Jumat (28/2/2020).

Apalagi, lanjutnya, pengembangan bawang putih dilakukan bersinergi dengan stakeholder, sehingga potensi bawang putih, khususnya di Temanggung, akan maksimal.

Sarwo Edhy mengatakan, pengembangan bawang putih juga mendapat dukungan dewan. Ini terbukti dalam kunjungan kerja ke Temanggung, Jumat (28/2/2020).

Lahan bawang putih yang ditinjau berada di wilayah Kledung, Temanggung. Anggota Komisi IV DPR yang hadir mencapai 31 orang. Bergabung juga Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, PT Pertani, Bank Himbara, dan para petani Gapoktan. Selain bawang putih, ikut dibahas juga kopi Temanggung yang sangat populer.

“Kunjungan kerja ini sangat penting. Komisi IV ingin melihat pertanaman bawang putih. Temanggung ini salah satu wilayah yang memiliki lahan bawang putih luas,” kata Sarwo Edhy.

Selain itu, produksi bawang putih Kabupaten Temanggung cukup besar. Di kabupaten ini, produksi bawang putih digunakan sebagai bibit. Dengan demikian, impor bawang putih dapat ditekan sekecil mungkin.

Pergerakan impor bawang putih sendiri cukup fluktuatif. Pada 2018, volume impor bawang putih mencapai 583.000 ton. Jumlah tersebut naik 4,16% dari tahun sebelumnya, yang berkisar 559,7 ribu ton.

Nilai impor bawang putih pada 2018 berada di kisaran 497,3 juta dolar AS atau turun sekitar 16,5% jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 596 juta dolar AS.

“Saat produksi bawang putih optimal, angka impor pasti turun. Saat ini kebutuhan bawang putih di Indonesia memcapai 480.000 ton hingga 500.000 ton setiap tahun. Kuota itu akan dipenuhi produksi lokal dalam beberapa waktu ke depan. Indonesia banyak memiliki wilayah yang cocok untuk bawang putih,” tegas Sarwo.

Mengacu tipologi tempat tumbuh, bawang putih sangat cocok ditanam pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Untuk Temanggung, wilayah ini memiliki ketinggian 400 hingga 2.000 mdpl.

Bawang Putih Lanang

Data Kementan mencatat, sampai tahun 2017 sedikitnya  ada 11 wilayah di Temanggung yang jadi sentra produksi bawang putih, di antaranya Kledung dengan luas lahan 465 hektare (ha) dan memiliki 43 kelompok tani.

Luas tanaman bawang putih di Temanggung sendiri mencapai 2.800-3.000 ha. Sementara potensi lahan yang bisa ditanami bawang putih mencapai 12.000 ha dengan produktivitas  mencapai 10 ton-12 ton/ha.

Keistimewaan produksi bawang putih Temanggung adalah sebanyak 10% dari produksi per hektare adalah bawang lanang. Bawang putih lanang banyak diminati karena memiliki beragam khasiat.

“Bantuan akan diberikan sesuai kebutuhan petani di Temanggung. Tujuannya untuk mendukung optimalisasi produksi.Segera apa yang menjadi kebutuhan mereka akan dipenuhi,” lanjut Sarwo.

Untuk mendukung pengembangan bawang putih, bantuan bibit pun digulirkan. Spesifikasinya adalah bibit bawang putih untuk varietas unggul.

Selain itu, pupuk bersubsidi pun diberikan. Kementan memberikan jaminan ketersediaan pupuk, apalagi realisasi di Temanggung baru 15% disepanjang 2020.

Untuk pengairan, Kementan pun memberikan garansi. Bantuan berupa pompa air dan pipa. Program pipanisasi akan digulirkan untuk optimalisasi mata air, termasuk pembuatan embung. Pada beberapa spot akan dibangun boks pembagi air agar distribusinya merata.

Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq memberikan apresiasi atas komitmen pemerintah pusat. “Secara umum, untuk bawang putih masih menjadi pertanian subtitusi di Temanggung. Tapi, potensinya besar. Semua aspek mendukung, hingga produksinya luar biasa. Kami siap mendukung upaya pengurangan slot impor bawang putih. Kalau perlu impor distop saja,” katanya.

Jawa Timur

Sementara itu, Provinsi Jawa Timur juga ikut menggenjot perluasan lahan tanam bawang putih. “Di Jatim ada potensi perluasan lahan seluas 8.651 ha. Lokasinya tersebar di Probolinggo, Pasuruan, Banyuwangi, Malang, Lumajang, Kota Batu, Mojokerto serta Magetan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Hadi Sulistyo, di Surabaya, Kamis (13/2/2020).

Hadi menerangkan, untuk tahun 2020, perluasan lahan rencananya dilakukan di Banyuwangi seluas 170 ha, Malang (250 ha), Probolinggo (75 ha), Batu (50 ha), Bondowoso (1.000 ha) dan Probolinggo seluas 1 ha.

Varietas bawang yang akan ditanam dan dikembangkan di wilayah perluasan lahan itu masing-masing varietas Lumbu Hijau, varietas Lumbu Kuning dan varietas Temanggung.

Sasaran produksi tanaman bawang putih di Jawa Timur tahun ini ditargetkan bisa mencapai 8.211 ton atau meningkat dibandingkan realisasi produksi 2019 yang hanya 6.935 ton. “Tingkat konsumsi bawang putih di Jatim cukup tinggi, yakni mencapai 62.880 ton. Ini artinya masih terjadi defisit 55.927 ton,” tutur Hadi.

Produksi bawang putih lokal diakui masih belum maksimal, karena konsumen lebih menyukai bawang putih impor yang memiliki ukuran lebih besar. “Selain itu, dari sisi harga, bawang putih impor hanya sekitar Rp15.000/kg, sementara bawang putih lokal mencapai Rp50.000/kg,” katanya.

Mahalnya bawang putih lokal karena harga benihnya juga mahal, yakni mencapai Rp65.000/kg, sementara ketersediaan benih juga terbatas. “Bawang putih ini juga merupakan tanaman subtropis sehingga dibutuhkan kondisi agroklimat khusus dan jadwal tanam yang tepat agar produktivitas optimal,” kata Hadi. PSP