Hadapi MT Asep, Persediaan Pupuk Subsidi Aman

0
528

* Realisasi Penyaluran 33,7%

Persediaan pupuk subsidi menghadapi musim tanam April-September (Asep) 2020 tersedia cukup aman, sehingga tidak perlu khawatir adanya kelangkaan pupuk. Apalagi, realisasi penyaluran pupuk subsidi hingga 12 April 2020 baru mencapai 2,67 juta ton atau sekitar 33,7% dari alokasi setahun sebanyak 7,9 juta ton.

“Intinya, pupuk subsidi cukup tersedia di lapangan, realisasi penyaluran baru 33,70%. Kalau ada kelangkaan pupuk, sebutkan di mana?” tegas Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di Jakarta, Rabu (15/4/2020).

Syahrul mengatakan, hingga kini tidak ada pengurangan pupuk bersubsidi. Dia menjelaskan, pemerintah telah mengatur alokasi pupuk sesuai elektronik-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

“Kalau ada kelangkaan, pemerintah siap intervensi. Tapi, kasih dulu yang sudah ada, bagikan sekarang. Meskipun saat ini harus melalui prosedur safety terkait pandemi COVID-19, penyaluran pupuk bersubsidi tetap terus dilakukan. Apalagi, saat ini menjelang masuk musim tanam,” tegasnya.

Dia  mengungkapkan, dalam penyalurannya tetap berpatokan dengan e-RDKK yang sudah ditentukan alokasinya. Saat ini, stok pupuk yang tersedia mencapai 1,44 juta ton. Stok tersebut perkiraan cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk hingga bulan Juni.

“Kesediaan pupuk dipastikan ada, apalagi ini masih bulan April. Stok pupuk diperkirakan aman hingga bulan Juni. Adanya isu kelangkaan pupuk bersubsidi itu tidak benar,” tegas Mentan sekali lagi.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan Sarwo Edhy juga menyebutkan, memasuki masa tanam April-September, PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menyiapkan pupuk yang cukup.

Stok pupuk subsidi yang ada di distributor dan kios pengecer saat ini tercatat sebanyak 1.447.616 ton yang terdiri dari urea sebanyak 745.337 ton, NPK (374.232 ton), SP-36 (115.992 ton), ZA (137.390 ton) dan  pupuk organik (74.725 ton).

Sarwo Edhy mengatakan, penggunaan pupuk bersubsidi harus tepat sasaran. Ruang lingkup penerapannya memang luas. “Sekarang yang penting itu distribusinya harus optimal dan sampai ke tangan petani yang berhak. Semua stakeholder terkait harus ikut mengawasi sekaligus mengawalnya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, agar semakin efisien, distribusi penyaluran pupuk bersubsidi harus didukung data akurat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Selain itu, dia mengimbau petani agar bergabung dengan kelompok tani. Dengan demikian, akses mereka untuk memperoleh pupuk subsidi bisa lebih mudah. Sebab, pupuk bersubsidi hanya dapat diakses oleh petani yang tergabung dalam kelompok.

Salurkan Segera

Sarwo Edhy juga mengimbau pemerintah daerah segera mendistribusikan pupuk bersubsidi untuk petani. Hal ini untuk menepis isu kelangkaan pupuk yang dilakukan oknum-oknum yang ingin menyalahi aturan pendistribusian pupuk.

“Alokasi pupuk untuk daerah diberikan sesuai dengan e-RDKK yang diajukan. Ketersediaan ada, tinggal didistribusikan. Namun, harus sesuai aturan jangan sampai isu ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya

Alokasi pupuk satu daerah dapat dikurangi atau ditambah seperti yang terjadi di Kabupaten Probolinggo. Penambahan alokasi pupuk bersubsidi dari pusat, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo.

Penambahan ini angin segar buat petani, yang erat kaitannya dengan pemenuhan pupuk yang dibutuhkan. Disebutkan, penetapan penambahan alokasi pupuk bersubsidi ditetapkan sejak akhir Maret 2020.

Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Mayang, Yulie Andriani mengaku memberikan alternatif teknologi untuk mengefektifkan dan mengefisien penggunaan pupuk bersubsidi pada budidaya tanaman padi.

“Pemberian pupuk dilakukan dengan cara pupuk diletakkan di suatu titik pemupukan yang ada di antara 4 rumpun tanaman padi, kemudian diinjak atau dibenamkan dengan 1 kaki,” katanya.

Menurut Yulie, pemberian pupuk dengan cara diinjak atau dibenamkan ini merupakan pemberian pupuk paling efektif karena dapat mengurangi terbuangnya pupuk oleh penguapan maupun terbawa aliran air.

Ada beberapa kelebihan, di antaranya dapat mengurangi jumlah pupuk yang digunakan, petani hanya memakai pupuk sebanyak 60% dari jumlah pupuk yang biasa digunakan.

Selain itu, juga hemat biaya tenaga kerja dan waktu pemupukan karena dengan cara ini hanya dilakukan 1 kali pemupukan selama budidaya tanaman padi sampai panen, dan pastinya hemat biaya untuk membeli pupuk.

Namun, kekurangannya adalah kemampuan petani dalam mengaplikasikan. Pasalnya, pasti membutuhkan waktu lebih banyak dibanding saat mereka mengaplikasikan pupuk dengan cara disebar.

Sebelum mengaplikasikan pemupukan dengan cara ini, petani harus melakukan beberapa hal, yaitu adanya jarak tanam pada tanaman padi dan lebih baik menggunakan jajar legowo agar mempermudah menentukan titik pemberian pupuk, lahan dikeringkan sehari sebelum aplikasi untuk mempermudah pemupukan.

Dengan teknis aplikasi pemupukan ini, dosis pupuk yang digunakan hanya 60% dari jumlah pupuk yang biasa digunakan petani. “Misal petani biasa menggunakan 100 kg urea dan 150 kg NPK, maka jika menggunakan cara ini hanya membutuhkan pupuk 60 kg urea dan 90 kg NPK untuk 1 kali pemupukan selama budidaya sampai tanaman padi panen. Dalam aplikasi pemupukan, setiap 1 genggam tangan orang dewasa untuk 12 titik pemupukan dan 1 titik pemupukan untuk 4 rumpun tanaman padi,” tuturnya. Pupuk yang sudah diaplikasikan di 1 titik langsung diinjak atau dibenamkan dengan menggunakan 1 kaki dan begitu seterusnya. Setelah aplikasi ini, maka tidak perlu dialiri air dan gunakan pengairan berselang untuk memaksimalkan hasil produksinya. PSP