Semua Bisa Jadi Petani

0
1122
Head Of Partnership and Social Impact Tanihub, Deeng Sanyoto

Saat ini banyak sekali orang, terlebih lagi anak muda, yang tidak tertarik kepada pertanian baik itu agribisnis maupun menjadi petani. Bisnis pertanian dianggap tidak menarik. Padahal pertanian merupakan sumber pokok bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Dalam  10-15 tahun mendatang, Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis jumlah petani. Menurut data Badan Pusat Statistik, 65% petani di Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun. Ini akan menjadi salah satu ancaman bagi regenerasi petani.

Deeng Sanyoto, Head Of Partnership and Social Impact Tanihub pun menjelaskan, banyaknya generasi muda yang tidak ingin menjadi petani salah satu faktornya adalah kesejahteraan yang dianggap tidak menjanjikan.  Bahkan katanya, orang tua petani pun menyuruh anak untuk tidak menjadi petani dan menyuruh mereka mencari pekerjaan di kota.

Untuk itu TaniHub gencar mengajak masyarakat, khususnya  generasi millennial untuk melirik pertanian dan agribisnis. Ini menjadi bagian untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Untuk didketahui, TaniHub Group adalah startup agritech yang membawahi TaniHub, TaniFund, dan TaniSupply. Visi perusahaan, yaitu ‘Agriculture for Everyone’, diwujudkan dengan mempercepat dampak positif dalam sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi informasi. Pertanian, Teknologi, dan Dampak Sosial adalah tiga pilar utama perusahaan dalam menciptakan ekosistem untuk menata ulang sektor pertanian di Indonesia.

Visi dari Tanihub sederhana yaitu memberdayakan petani lokal dengan menyediakan akses pasar dan akses keuangan. Melalui TaniHub, para petani lokal dapat menjual hasil panen mereka kepada para individu maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai wilayah. “Kami bukan hanya sebuah platform e-commerce terkemuka untuk produk pertanian namun juga katalis untuk masa depan Agri-tech,” kata Deeng Sanyoto. 

Selain itu, Tanihub juga membangun Campaign dengan hastag #SayaJugaPetani. Apakah yang dimaksud dengan Campaign tersebut dan Bagaimana Tanihub akan menarik genarasi milenial ke sektor pertanian?

Berikut petikan wawancara Agro Indonesia dengan Deeng Sanyoto.

Tanihub punya campaign #SayaJugaPetani. Bisa dijelaskan maksud dari campaign tersebut?

Itu adalah sebuah gerakan yang memberi tahu semua masyarakat bahwa siapaun bisa jadi petani dengan caranya masing-masing. Misalnya, orang-orang beli produk dari Tanihub dari situ kita sudah bilang bahwa orang yang membeli produk kita sudah menjadi petani, menjadi lender kita di Tanifund sudah menjadi petani, orang  yang buka toko menjual hasil pertanian sudah menjadi petani.

Kita ingin memberi tahu bahwa petani tidak hanya terlibat di sawah dan menanam, selama itu terlibat dalam ekosistem pertanian baik menjual maupun membeli kita bisa dapat disebut dengan petani. Nah di situlah kita juga bisa membangun sisi menarik dari Pertanian.

Salah satu pilar Tanihub yaitu social impact (dampak sosial), Social Impact seperti Apa yang ingin Tanihub Bangun?

Misi utama Tanihub adalah membangun ekosistem pertanian Indonesia. Jadi memang, selain dari segi bisnis apa yang kita lakukan harus punya Impact kepada petani. Makanya kita punya Tanihub yang menjadi off taker yang membeli semua produk pertanian agar semua petani bisa mendapatkan harga yang pantas sehingga kesejahteraanya naik. Nah itu social Impact.

Di Tanifund juga punya, karena petani itu susah mendapatkan modal sehingga tidak cepat untuk bertanam, dari sana kita bisa mengasih modal buat mereka sehingga petani bisa cepat menanam dan kesejahteraannya meningkat. Jadi TaniFund dan Tanihub selain dari sisi komersil kami punya sisi sosialnya yaitu membangun ekosistem pertanian Indonesia dari mulai modal sampai dengan Off taker.

Di Tanihub sendiri milenialnya ada berapa banyak?

Kalau di Tanihub sendiri masih belum banyak. Nggak sampai 10% lah karena tidak mudah mencari petani-petani muda yang mau. Sebenarnya misi kami adalah kami ingin menunjukan dulu bahwa bertani itu adalah sesuatu yang menarik, menguntukan dan keren, baru kita bisa narik banyak generasi muda. Jadi selama ini yang datang ke kita hanya orang-orang yang memang punya passion di bidang pertanian.

Bagaimana menarik agar orang-orang termasuk milenial tertarik dengan bisnis pertanian atau terjun langsung ke dunia pertanian?

Jadi kita harus mewujudkan kalau pertanian itu adalah sesuatu yang menarik, seperti yang saya bilang petaninya sendiripun menyuruh anaknya kerja ke kota, dan itu menunjukan bahwa tidak ada harapan untuk menjadi petani.  Jadi tugas kami menjadikan pertanian itu pasti dibeli, ada modalnya dan kita bisa menggunakan teknologi yaitu digital. Sehingga orang-orang bereaksi kalau pertanian jaman sekarang itu keren. Kita bisa beli dari aplikasi dan semua bisa jadi Petani, seperti itu.

Citra petani harus diperbaiki dulu. Sambil menuju kesana kita berjalan dulu dengan petani-petani yang usianya rata-rata 40-an dari situ kita bisa jadikan contoh dan dari situ kita bisa bangun dan dari situ juga orang bisa menganggap bahwa jadi petani itu menguntungkan.

Bapak bilang tadi Ingin memperbaiki citra petani, apalagi petani di Indonesia masih dipandang miskin dan kuno akan tetapi bukannya hal seperti itu harus ada dukungan dari pemerintah?

Ya, kita juga tahu, dan kita juga sudah berhubungan dengan Kementerian Pertanian. Cuma, kalau kita menunggu-nunggu, kita gak tahu sampai kapan. Dan Tanihub itu sendiri tidak ingin tergantung kepada siapapun. Nah kita lakukan apa yang kita bisa. Founder yang membangun perusahaan ini dia tahu bahwa masalah pertanian di Indonesia ini adalah terlalu banyak layer. Petani, tengkulak, vendor, pengepul sehingga  harga produk-nya mahal.

Kita potong dari situ dulu deh dengan membuat aplikasi Tanihub ini jadi kita tidak harus menunggu pemerintah. Kita mulai dengan apa yang kita bisa, jadi kita mulai dari situ kita bikin aplikasi supaya konsumen baik B2B maupun B2C bisa membeli langsung hasil pertanian lewat aplikasi kita, potong jalur distribusi sehingga lebih murah ke konsumen dan lebih mihak ke petani sehingga keduanya sejahtera. Kita tidak perlu menunggu pemerintah apabila mereka ingin membantu itu lebih bagus.

Attiyah