Ecosocio-Entrepreneur, Tingkatkan Kesiapan Hadapi Pandemi

0
494
Aktivitas pelatihan dan pemagangan ecosocio-entrepreuner di KTH Margo Mulyo. Sebagai Wanawiyata Widyakarya, KTH Margo Mulyo menjadi kawah candradimuka bagi para penggiat ecosocio-entrepreneur.

Dampak pandemi COVID-19 menyentuh semua aspek kehidupan. Tak terkecuali perekonomian. Banyak yang harus mengalami penurunan pendapatan, bahkan sampai kehilangan sumber mata pencaharian sama sekali. Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terpukul.

Pandemi COVID-19 juga tak kalah telak memukul sektor kehutanan. Tapi beruntung bagi masyarakat di sekitar hutan. Dengan menerapkan pola usaha agroforestry yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, daya tahan mereka terhadap COVID-19 lebih tinggi.

Seperti yang dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Margo Mulyo di Desa Burno, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Menurut Nurhayadi, penyuluh kehutanan yang mendampingi KTH Margo Mulyo, masyarakat Desa Burno mengembangkan berbagai kegiatan usaha agroforestry yang dikelola dalam unit-unit usaha dalam wadah KTH Margo Mulyo.

“Kegiatan usaha tersebut telah berhasil meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta memberikan dampak positif terhadap kelestarian hutan,” kata Nurhayadi, Kamis (7/5/2020).

Berjarak  ±21 kilometer dari ibukota Kabupaten Lumajang, Desa Burno merupakan salah satu dari 12 desa di Wilayah Kecamatan Senduro. Desa ini terletak di kaki Gunung Bromo dengan luas wilayah 2.580,10 hektare (ha).

Dari luasan tersebut, sekitar 92,83 % merupakan Kawasan Hutan dan terletak berbatasan dengan hutan  negara  Perum Perhutani dengan luas 940 ha dan  Kawasan Taman Nasional seluas 1.055,34  ha yang berada di kawasan lereng Gunung Semeru.

Dahulu, masyarakat Desa Burno masih memanfaatkan lahan secara konvensional. Lahan dimanfaatkan untuk pertanian tanah kering tanpa mengindahkan kaidah konservasi tanah dan air. Komoditas tanaman semusim, seperti padi gogo, jagung, dan ketela pohon, dibudidayakan di lahan dengan prosentase kemiringan tinggi. Akibatnya, laju erosi sangat tinggi, terutama di musim penghujan. Ujungnya, produktivitas lahan makin merosot. Kesejahteraan masyarakat pun terpengaruh.

Pelan-pelan, masyarakat Desa Burno mulai mengubah pola pemanfaatan lahan menjadi hutan rakyat pola agroforestry dengan harapan dapat mengubah tingkat kesejahteraan mereka.Sampai saat ini, mereka berhasil membangun hutan rakyat seluas 315 ha yang ditanami tanaman sengon dan kaliandra.

Dengan pola agroforestry, masyarakat mengatur ruang tumbuh dalam satuan luas maupun waktu antara tanaman kehutanan dengan tanaman jenis lain, seperti pisang, kapulaga, kopi atau durian. Masyarakat juga menerapkan konsep silvopastura, yaitu usaha peternakan yang seiring dengan pengelolaan hutan. Mereka menanam tanaman hijauan pakan ternak dan memelihara sapi dan kambing etawa untuk dimanfaatkan susunya. Masyarakat juga membudidayakan lebah untuk dimanfaatkan madunya.

Di off farm, ada kegiatan pengolahan kripik dan sale pisang, pemanfaatan biogas dari kotoran sapi sebagai bahan bakar, dan pembuatan sabun kecantikan dari susu kambing dan madu.

Berkat multiusaha kehutanan itu, masyarakat Desa Burno punya ketahanan pangan yang sangat kuat. “Jika ada peristiwa yang mengharuskan Desa Burno terisolasi selama setahun, masyarakatnya masih tetap bisa makan,” kata Nurhayadi menggambarkan.

Selain ketahanan pangan, Desa Burno juga memiliki ketahanan energi. Sebab, kebutuhan energi bisa diperoleh dari biogas kotoran sapi plus dari kayu kaliandra, yang dikenal memiliki nilai kalor yang tinggi. “Masyarakat di sana nggak pernah tahu harga gas LPG naik,” ujar Nurhayadi.

Wanawiyata Widyakarya

Usaha kehutanan berwawasan lingkungan itu berhasil mendongkrak pendapatan masyarakat. Kajian yang dilakukan tahun 2016 lalu mengungkapkan perbedaan mencolok pendapatan masyarakat dari usaha tani di lahan kering dengan integrated mix farming yang diterapkan. Dengan usaha tani lahan kering, pendapatan rata-rata masyarakat hanya sekitar Rp7,8 juta/ha/tahun. Sementara dengan integrated mix farming, pendapatan masyarakat melonjak bisa mencapai sekitar Rp44,5 juta/ha/tahun.

“Berkat kepemimpinannya dalam implementasi usaha kehutanan yang berwawasan lingkungan, KTH Margo Mulyo banyak dijadikan percontohan, tempat belajar, pelatihan dan magang bagi masyarakat lainnya,” kata Nurhayadi.

Posisinya makin berkibar setelah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) cq Pusat Penyuluhan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan KTH Margo Mulyo sebagai Wanawiyata Widyakarya pada tahun 2016. Sebagai Lembaga Pelatihan dan Pemagangan, Wanawiyata Widyakarya menawarkan berbagai kegiatan sebagai obyek pelatihan dan pemagangan  ecosocio-entrepreuner yang dikemas dalam tema “Kewirausahaan Ekonomi Kreatif Berbasis Agroforestry” (lihat grafis).

“Banyak masyarakat yang ingin belajar atau sekadar berkunjung datang ke KTH Margo Mulyo,” kata Nurhayadi.

Penyuluh pendamping Nurhayadi (kedua dari kiri) bersama kelompok wanita mitra KTH Margo Mulyo menunjukan proses pembuatan batik bermotif alam yang merupakan salah satu kegiatan ecosocio entrepreneur yang di KTH Margo Mulyo

Pandemi COVID-19

Daya tahan berbagai usaha kehutanan berwawasan lingkungan yang dilakukan masyarakat Desa Burno menemui ujiannya saat ini ketika pandemi COVID-19 menyerang. Menurut Nurhayadi, berkat berbagai usaha agroforestry tersebut, masyarakat Desa Burno punya daya tahan yang lebih baik saat pandemi COVID-19. “Memang ada usaha yang terdampak negatif. Tapi ada juga yang terdampak positif. Jadi, untuk sementara bisa menyesuaikan,” katanya.

Dia menjelaskan, usaha yang terdampak misalnya budidaya pisang mas. Pengiriman pisang mas yang tadinya bisa 7,5 ton/pekan, turun menjadi 4-5 ton/pekan. Demikian juga untuk susu kambing. Jika sebelumnya pengiriman bisa mencapai 4.000 liter/10 hari, kini turun menjadi 1.000-1.500 liter/10 hari. “Bukan produksinya yang terganggu, tapi pengiriman karena di perjalanan ada pembatasan transportasi,” kata Nurhayadi.

Dia melanjutkan, meski ada penurunan pendapatan dari komoditas tersebut, ternyata komoditas yang lain malah terjadi peningkatan pendapatan. Untuk komoditas kapulaga, misalnya. Ada peningkatan permintaan untuk kebutuhan pembuatan jamu herbal untuk meningkatkan imunitas pencegahan penyakit. “Harganya melonjak tajam, dari Rp175.000/kg sekarang menjadi Rp215.000/kg,” katanya.

Produk madu juga mengalami peningkatan permintaan. Madu asli dan murni produksi KTH Margo Mulyo kini harganya bisa mencapai Rp250.000/kg. Itupun banyak calon pembeli yang terpaksa harus gigit jari karena kehabisan.

Meski punya daya tahan yang lebih baik menghadapi COVID-19, Nurhayadi menuturkan, masyarakat tetap berharap agar pandemi COVID-19 bisa segera berlalu.

Kepala BP2SDM KLHK Helmi Basalamah

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK, Helmi Basalamah menuturkan, pihaknya akan terus menggelar pelatihan bagi masyarakat agar bisa menjalankan wirausaha kehutanan berwawasan lingkungan.

Usaha-usaha tersebut terbukti bisa memberi kesejahteraan bagi masyarakat dan memberi daya tahan bagi masyarakat ketika ditempa situasi berat seperti pandemi COVID-19 saat ini. Pelatihan dilakukan di pusat diklat dan balai diklat KLHK secara jarak jauh (e-learning) maupun pendampingan di lapangan oleh penyuluh kehutanan.

“Masyarakat ditingkatkan kapasitasnya agar bisa mengoptimalkan potensi hutan secara berkelanjutan,” katanya, Kamis (7/5/2020). AI

Beberapa Obyek Wanawiyata Widyakarya KTH Margo Mulyo

  • Bertani Selaras Alam

Pengunjung  dapat belajar tentang  teknik pemilihan tanaman,  pengaturan ruang tumbuh secara tumpangsari dalam satuan waktu dan luas tertentu antara tanaman kehutanan dengan jenis tanaman lain, seperti pisang, kopi, kapulaga, hijauan pakan ternak, yang hasilnya secara ekonomi menguntungkan dan secara ekologis dapat di pertanggungjawabkan. Di samping itu, pengunjung dapat praktik teknik grafting (pengembangbiakan vegetatif) dan pembuatan pupuk organik dengan komposer bakteri tricoderma.

  • Teknik pengolahan pisang menjadi kripik dan sale pisang dengan teknologi home industry

Pengujung berlatih mengolah buah pisang menjadi kripik berkualitas baik yang bisa menembus gerai retailer.

  • Teknologi Membuat Biogas dari Kotoran Sapi

Pengunjung dapat belajar tentang teknologi membangun instalasi biogas, pemanfaatan serta analisa ekonominya.

  • Budidaya Lebah  Madu  Aphis cerana

Materi pelatihan budidaya lebah madu meliputi: mengenal jenis lebah dan koloninya, Praktik membuat sarang lebah/stup, Praktik pengembang biakan koloni

  • Budidaya Kambing Etawa Berkualitas Unggul

Pengunjung akan mendapatkan materi pelatihan tentang: teknik  pengembangbiakan, teknik pembesaran, serta teknik penggemukan kambing etawa.

  • Budidaya Sapi perah

Di tempat ini pengunjung selain belajar teknik budidaya sapi perah juga dapat praktik memerah susu sapi.

  • Pembuatan Sabun Kecantikan dari Susu Kambing dan Madu

Pengunjung dapat praktik membuat sabun kecantikan dengan bahan  susu kambing  dan sabun madu secara sederhana.

  • Budidaya Pisang Mas Kirana Kualitas Ekspor

Pengunjung akan memperoleh materi tentang teknik pengembangbiakan, transplanting, teknik perawatan, proteksi tanaman, teknik sortir, gradding dan packaging.

  • Pembuatan Kerajinan Tangan  dari Daur Ulang Sampah Plastik

Di sini pengunjung dapat belajar membuat berbagai macam kerajinan tangan sederhana dari sampah plastik.

  • Teknik Pembuatan Pigura dan Album Foto dari Daun Kering (Herbarium)

Pengunjung akan dilatih untuk mengkreasi serakan dedaunan kering menjadi barang yang bernilai seni.

  • Teknik Pembuatan Batik Tulis Bermotif Alam Sekitar

Pengunjung dapat belajar tentang pembuatan batik bermotif alam sekitar dengan pewarna alami maupun buatan yang diproses secara ramah lingkungan.