Kementan Optimalkan Lahan Rawa di 14 Provinsi

0
418

* Tingkatkan Produksi Pangan

Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan Optimasi Lahan rawa seluas 50.000 hektare (ha) di 14 provinsi. Upaya ini dilakukan agar lahan rawa menjadi lahan pertanian produktif dan meningkatkan produksi pangan.

“Optimasi lahan rawa menjadi salah satu cara untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia, terutama dengan terus meningkatnya konsumsi masyarakat,” ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, lahan rawa yang dioptimalkan tersebut akan menjadi lahan pertanian produktif melalui penataan sistem air dan lahan. “Sepanjang tahun, sebagian lahan rawa tergenang air. Program optimasi lahan rawa harus bisa membantu mengatasinya dengan manajemen tata air,” papar Mentan.

Salah satu optimasi lahan rawa yang sedang dikerjakan berada di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Di sana, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Nusantara menggarap lahan rawa seluas 300 ha.

Kepala Seksi (Kasi) Lahan, Irigasi Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kukar, Achmad Yani mengatakan, daerah itu mulanya memiliki produktivitas 3,9 ton/ha.

Namun, sebagian lahan terdampak air pasang laut atau air asin, sehingga perlu dibuat tanggul dan pintu air atau pintu klep (pintu penahan air pasang). “Optimasi lahan rawa sangat membantu petani dalam melengkapi prasarana pertanian yang dibutuhkan,” kata Achmad.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, jumlah alokasi optimasi lahan rawa di Kalimantan Timur adalah sebesar 1.050 ha. Total alokasi tersebut tersebar di dua kabupaten, yaitu Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.

“Dengan pengelolaan air yang lebih baik, harapannya sawah rawa bisa digarap sepanjang tahun, baik musim kemarau maupun hujan,” kata Sarwo. Dia menambahkan, dengan begitu petani tidak lagi hanya bisa menanam padi sekali, melainkan dua atau tiga kali.

Menurut Sarwo, optimasi lahan rawa cocok diterapkan di Kukar untuk membangun sumber daya manusia pertanian. “Produktivitas padi bisa meningkat. Kalau biasanya 2,7 sampai 3 ton/ha, harapannya menjadi 5 sampai 6,5 ton/ha,” katanya.

Optimasi lahan Rawa, imbuh dia, juga dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) dua kali lipat pada tanaman padi dan jagung. Kegiatan optimasi lahan rawa diharapkan dapat terus berlanjut, sekaligus mengerjakan lahan tidur yang masih satu hamparan dengan lahan sawah fungsional.

Naik Lima Kali Lipat

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikuktura (TPH) Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Muhamammad Fachry mengatakan, program optimalisasi lahan rawa ini mampu menambah pertambahan luas tanam padi di Banjar.

“Pada Desember-Januari luasannya lebih dari 14.000 ha, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya sekitar 2.000-3.000 ha. Ini artinya terjadi kenaikan lima kali lipat,” katanya.

Kenaikan itu dikarenakan tingginya semangat dan kesadaran petani untuk meningkatkan produksi padi melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Khusus di wilayah Kecamatan Beruntungbaru yang dipanen bulan ini (Maret) 2020 pada 12 desa seluas 2.375 ha.

Tanaman padi di Beruntungbaru yang dikembangkan adalah varietas Ciherang. Hasilnya (ubinan) enam ton per hektare gabah kering panen (GKP) atau 5,178 ton/ha gabah kering giling (GKG).

Dia mengatakan, tak kurang 2.000 ha lahan sawah di Beruntungbaru yang ditanami padi seluruhnya berhasil dan siap dipanen. Panen padi menggunakan combine harvester milik Brigade Alsintan Dinas TPH Banjar.

Memastikan Ketahanan Pangan

Direktur Irigasi Pertanian Ditjen PSP, Rahmanto mengatakan, optimalisasi lahan rawa kini jadi jawaban untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia terus terjaga di masa depan, terutama dengan terus meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat. “Kegiatan optimalisasi lahan rawa tidak hanya fokus pada pekerjaan kontruksi atau perbaikan jaringan irigasi dan pengolahan tanah di lahan rawa,” katanya.

Namun, lanjut Rahmanto, lokasi-lokasi yang masuk ke wilayah optimalisasi lahan rawa akan mendapatkan bantuan sarana produksi pertanian, seperti herbisida, dolomit, benih, pupuk hayati, ternak (itik), hortikultura, dan bantuan lainnya dari pemerintah.

Selain itu, program ini merupakan upaya peningkatan peran petani dan Kelompok Tani/Gabungan Kelompok Tani, penumbuhan dan pengembangan Kelompok Tani untuk melaksanakan Usaha Tani, serta pengembangan kawasan dan/atau kluster berbasis korporasi petani.

Rahmanto menjelaskan, pembenahan sarana dan prasarana merupakan salah satu fokus program optimalisasi lahan rawa. Termasuk pembenahan saluran air ke sawah. “Sawah rawa itu kalau kemarau kering dan jika musim hujan dia tergenang air,” katanya.

Lahan rawa jadi satu-satunya yang bisa ditanami padi pada musim kering/kemarau dengan provitas tinggi, sehingga  bisa menopang produksi beras nasional, selain lahan sawah irigasi teknis.

Apalagi, potensi lahan rawa-pasang surut cukup luas. Pusat Data Daerah Rawa dan Pasang Surut mencatat, Indonesia memiliki potensi lahan rawa seluas 33,4 juta ha yang terdiri dari lahan pasang surut 20,1 juta ha dan rawa lebak 13,3 juta ha.

Dari jumlah tersebut, seluas 9,3 juta ha diperkirakan sesuai untuk budidaya pertanian. Lahan pasang surut itu berada dibeberapa provinsi antara Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jambi, Lampung dan Sulawesi Selatan.Lahan ini yang dioptimalkan, sehingga dapat menambah produksi pangan nasional.

Untuk mengoptimalkan lahan rawa tersebut, Kementan tahun 2019 telah mencanangkan program SERASI atau Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani. Dalam program ini mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui konsep koperasi yang dikorporasikan.

Program ini juga meliputi perbaikan lahan sawah rawa. Sistem tata air diatur, dan infrastruktur lain yang dibutuhkan akan dipenuhi seperti alat olah lahan, traktor roda dua, traktor roda empat. “Dengan pengelolaan air yang lebih baik, harapannya sawah rawa bisa digarap sepanjang tahun, baik musim kemarau maupun musim hujan. Dengan begitu, petani bisa tidak hanya menanam padi sekali dalam setahun, tetapi dua atau tiga kali setahun,” tutupnya. PSP