COVID-19 Mendongkrak Pendapatan KTH Giri Senang

0
603
Produksi jahe merah KTH Giri Senang

Pandemi COVID-19 memicu naiknya permintaan jahe merah. Empon-empon yang banyak dibudidayakan di bawah tegakan hutan ini dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus korona. Minat untuk membudidayakan jahe merah pun ikut terkerek.

Bagi mereka yang berminat untuk belajar bagaimana membudidayakan jahe merah, mulai dari penyiapan bibit sampai pemasaran, silakan datang ke Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Senang, di Kampung Legok Nyenang, Desa Giri Mekar, Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Selain jahe merah, kita juga bisa belajar membudidayakan komoditas lain di bawah tegakan hutan, seperti kopi — yang tren konsumsinya terus meningkat secara global.

Menyandang status sebagai wanawiyata widyakarya (LP2UKS/Lembaga Pelatihan dan Pemagangan Usaha Kehutanan Swadaya), KTH Giri Senang memang menjadi  tempat yang pas untuk belajar berbagai usaha agroforestry yang menguntungkan sekaligus bisa menjaga kelestarian hutan.

KTH Giri Senang punya pengalaman panjang soal agroforestry. Ketua KTH Giri Senang, Asep Rohman menuturkan, KTH Giri Senang mengawalinya dari kepedulian terhadap hutan lindung di lereng gunung Manglayang. Penghijauan dilakukan di kawasan itu untuk mengurangi risiko banjir di kawasan Bandung Utara.

“Kami menanam pohon ekaliptus,” kata Asep.

Ekaliptus dipilih karena Asep memang punya bekal bagaimana menanamnya berkat pelatihan yang dilakukan di tingkat kecamatan. Sedikitnya 17.000 batang pohon ekaliptus telah ditanam di sana. Ekaliptus juga diyakini bisa menyimpan air, sehingga debit air bisa dipertahankan saat kemarau dan menjadi sabuk pengaman dari erosi saat musim penghujan. Penanaman yang dilakukan melintasi sejumlah desa. Selain Giri Mekar, juga Desa Mekar Manik, Jati Endah, dan Jati Wangi.

Di bawah tegakan ekaliptus seluas 250 hektare (ha), mereka menanam kopi yang memang sudah dibudidayakan secara turun-menurun oleh masyarakat. Selain itu, mereka juga menanam berbagai jenis empon-empon, seperti jahe merah dan kunyit di lahan seluas 1 ha.

Penyuluh pendamping KTH Giri Senang, Yusuf menuturkan, kopi memang menjadi komoditas utama yang dikelola KTH Giri Senang. “Sebetulnya komoditas utama KTH Giri Senang adalah kopi. Jahe merah, kunyit dan tanaman bawah tegakan lainnya hanyalah komoditas sampingan” papar Yusuf.

Pada tahun 2019, hasil panen kopi dalam bentuk gelondong mencapai 1.000 ton. Usaha KTH Giri Senang awalnya hanya budidaya kopi Arabika dan menjualnya dalam bentuk setengah jadi (gabah). Namun, belakangan usaha yang dilakoni berkembang. Kopi mulai diolah menjadi green bean dengan metode wash, natural, honey dan varian wine.

Kopi tersebut dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp85.000-Rp400.000/kg. Kopi yang dijual diberi merek “Kopi Palasari”. Kopi tersebut memenuhi permintaan dalam negeri, bahkan mulai menjajaki pasar Eropa.

Menariknya lagi, berkembangnya usaha kopi KTH Giri Senang dimotori oleh anak-anak muda. Mereka berperan di semua lini kegiatan. Mulai dari panen, pasca panen, pengolahan kopi, pengemasan, pengangkutan, pemasaran secara online sampai mengelola kafe yang didirikan di atas lahan KTH.

Permintaan meningkat

Menurut Yusuf, seiring dengan mewabahnya virus korona, permintaan jahe merah yang diproduksi KTH Giri Senang semakin meningkat. “Jika hari biasa permintaan hanya hitungan kuintal, kini permintaan sudah mencapai hitungan ton. Alhamdulillah anggota KTH mendapat tambahan pendapatan,” ungkap Yusuf

Naiknya permintaan pun mengerek naik harga jual jahe merah. Saat ini, harga jual jahe merah bisa mencapai Rp75.000/kg. Sementara dalam sekali panen, KTH Giri Senang bisa menghasilkan jahe merah tak kurang dari 1 ton. Hasil panen tersebut diambil oleh pembeli langsung ke sekretariat KTH yang berlokasi di Desa Giri Mekar atau dikirim oleh anggota KTH ke pemesan.

“Dulu jahe merah dan kunyit hanya dijadikan bumbu masak oleh pembeli. Namun, dengan adanya wabah korona, jahe merah digunakan sebagai minuman penambah stamina agar terhindar dari virus korona,” kata Yusuf.

Produksi jahe merah KTH Giri Senang

Saat seperti ini, ketika perekonomian secara umum lesu, kopi dan empon-empon bisa menjadi penopang hidup masyarakat Giri Mekar. Saat ini 147 anggota KTH Giri Senang menikmati pendapatan yang lumayan dan terus meningkat. Beberapa anggota bahkan bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp300 juta/tahun dari komoditas kopi saja.

Keteladanan KTH Giri Senang mengantarnya ditetapkan sebagai Wanawiyata Widyakarya oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM cq. Pusat Penyuluhan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak tahun 2016. Sebagai lembaga pelatihan dan pemagangan, wanawiyata widyakarya seperti KTH Giri Senang menjadi kawah candradimuka untuk berbagai usaha yang bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Menurut Yusuf, banyak pihak yang berlatih dan magang di KTH Giri Senang. Mulai dari masyarakat, LSM, pemerintahan, mahasiswa, pelajar, barista, pengelola kafe, dan elemen masyarakat lainnya.

Yusuf memastikan, meskipun selalu disibukan dengan permintaan kopi dan empon-empon yang semakin meningkat dan selalu jadi tempat pelatihan dan pemagangan, Ketua dan anggota KTH Giri Senang tidak pernah lelah dalam berbagi ilmu dan pengalamannya.

Begitulah, berkat kerja keras KTH Giri Senang dan Penyuluhnya, banyak masyarakat Desa Giri Mekar yang tadinya menganggur, hanya menanam sayur, atau bekerja di kota, beralih profesi menjadi petani kopi dan empon-empon. Wangi kopi dan empon-empon pun menjadi parfum mereka sehari-hari. AI