Hadapi MT II, Petani Diimbau Manfaatkan Alsintan

0
411
Dirjen PSP Sarwo Edhy mencoba Alsintan untuk mengolah lahan. Petani kini makin banyak menggunakan Alsintan untuk budidaya pertaniannya. Traktor Roda 4 (TR4) bahkan jadi incaran untuk mengolah lahan.

Sukses panen raya tidak membuat terlena petani di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan (Sumsel). Petani bahkan siap-siap menghadapi musim tanam kedua tahun ini.

Agar musim tanam (MT) tepat waktu, petani akan memanfaatkan alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang diberikan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, dalam pandemi COVID-19 ini pertanian tidak bisa berhenti. Pertanian harus terus berjalan untuk memastikan ketersediaan pangan mencukupi untuk masyarakat Indonesia.

“Di saat seperti ini, kita tidak bisa mengandalkan impor. Apalagi negara eksportir juga menghentikan sementara aktivitas ekspornya. Mereka gunakan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan negaranya dahulu. Jadi, mau tidak mau kita harus mandiri pangan. Petani harus terus tanam usai panen agar ketersediaan pangan tidak bermasalah,” tegas Mentan Syahrul, Rabu (3/6/2020).

Menurut Syahrul, penggunaan Alsintan untuk mengolah tanah, masa tanam, hingga panen, harus dilakukan petani. Sebab, Alsintan bisa membantu menggenjot produktivitas hasil panen.

“Kita harus menggenjot produksi pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, petani harus turun ke lapangan. Terus tanam sesudah panen. Manfaatkan Alsintan untuk mempermudah kerja di lapangan dan untuk memaksimalkan hasil panen,” katanya.

Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy memberikan apresiasinya kepada petani di Kabupaten Empat Lawang, yang mampu memaksimalkan penggunaan Alsintan.

“Para petani di Kabupaten Empat Lawang sangat sukses memaksimalkan Alsintan. Pengunaan Alsintan mereka lakukan saat panen raya, dan akan dimaksimalkan saat musim tanam. Ini terbukti karena produktivitas pertanian di sana sangat tinggi,” katanya.

Di Kecamatan Pasemah Air Keruh (Paiker), Kabupaten Empat Lawang, salah satu kelompok tani (Poktan) yang memanfaatkan Alsintan untuk kegiatan panen adalah Poktan Damar Sewu. Poktan Damar Sewu memiliki areal sawah 25 hektare (ha). Saat panen, para petani menggunakan Alsintan berupa combine harvester bantuan pemerintah.  Produksi yang mereka peroleh rata-rata mencapai 8,2 ton/ha gabah kering panen (GKP).  Luas lahan sawah di desa ini sekitar 470 ha.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Dadang Munandar mengatakan, Paiker merupakan salah satu daerah di Kabupaten Empat Lawang yang memiliki lahan sawah luas. Total luas lahan sawah mencapai 3.542 ha.

Menurut Dadang Munandar, lahan tersebut tersebar di beberapa desa, yaitu Air Mayan, Nanjungan, Bandar Agung, Tanjung Beringin, Padang Gelai, Muara Rungga, Keban Jati, Talang Padang, Muara Sindang, Padang Bindu dan Penantian. “Desa Air Mayan merupakan desa yang memiliki lahan sawah paling luas,” jelasnya.

UPJA Banjir Order

Sementara itu, petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) merasa optimis dapat mengejar tanam tepat waktu karena akan memaksimalkan Alsintan. Di Sikka, petani bisa menyewa Alsintan dari Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Tani Mandiri.

UPJA Tani Mandiri beranggotakan 6 kelompok tani dengan total  89 orang. Mereka terdiri dari Poktan Tani Mandiri, Poktan Bintang Terang, Poktan Karya Bersama, Poktan Karya Mandiri, Poktan Sinar Ilimodo, Poktan Kolibewa.

Untuk membantu operasional di lapangan, UPJA Tani Mandiri dilengkapi dengan 8 unit Traktor Roda 2, 1 unit Traktor Roda 4,  3 unit Rice Transplanter, 12 unit Pompa Air, 2 unit Alat Tanam Jagung, 16 unit Hand Sprayer, 3 Combine Harvester, serta power threser, corn sheller masing-masing 1 unit .

“Kami juga memiliki bengkel Aslintan yang dikelola UPJA. Jadi, seluruh Alsintan tetap terawat dengan baik.” tutur Abidin, Ketua UPJA Tani Mandiri. Dia menambahkan, setelah musim panen usai, UPJA siap membantu petani untuk olah lahan dan tanam.

Abidin mengaku, manajemen UPJA Tani Mandiri diperkirakan akan terkendala menghadapi permintaan sewa Alsintan di musim tanam (MT) II, mulai akhir Mei. Mengapa ada kendala di MT II? Menurut Abidin, karena manajemen UPJA Tani Mandiri kekurangan tenaga kerja.

“Biasanya mulai olah lahan hingga tanam juga dilakukan serentak. Sedangkan rice transplanter yang kami miliki kapasitasnya kecil,” papar Abidin.

Guna mengatasi keterbatasan tenaga kerja, lanjut Abidin, ke depannya manajemen UPJA Tani Mandiri akan menggunakan riding transplanter yang kapasitasnya besar. “Sehingga dengan alat tersebut, proses tanamnya lebih cepat sehingga dapat menjangkau seluruh Kecamatan Magepanda,” paparnya.

Menurut Abidin, sampai saat ini pihaknya belum memiliki riding transplanter tersebut. Diharapkan, alat tersebut dapat dibeli pada tahun ini.

Abidin mengaku, di tengah pandemi korona, manajemen UPJA Tani Mandiri tetap bekerja melayani petani. Bahkan, pada saat Ramadhan, sebagian anggota manajemen UPJA menjalankan ibadah puasa dan kegiatan tetap berjalan seperti biasa.

“Kami saat ini masih melayani teman-teman petani yang sedang panen. Selanjutnya, kami akan melayani petani yang sudah siap olah lahan dan tanam,” pungkas Abidin.

Gunakan Jasa UPJA

Terkait penggunaan Alsintan, Sarwo Edhy menegaskan, petani yang tidak memiliki Alsintan bisa memanfaatkan jasa UPJA yang menyewakan Alsintan, seperti yang dilakukan UPJA Tani Mandiri di Sikka, NTT.

“Dengan Alsintan, pekerjaan petani menjadi lebih mudah. Dampaknya jelas pada produktivitas yang meningkat. Keuntungan ini bisa dirasakan langsung oleh para petani. Makanya kita selalu mengimbau petani untuk memanfaatkan Alsintan. Jika tidak punya, mereka bisa menggandeng UPJA yang ada di sekitar mereka,” papar Sarwo Edhy.

Dia mencontohkan UPJA Tani Mandiri yang berada di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT. UPJA yang diketuai Abidin ini mengelola luas sawah 120 ha dengan pengarian teknis. Sedangkan luas lahan yang dimiliki UPJA terdiri dari 60 ha lahan sawah, 26 ha ladang jagung, dan 18 ha lahan hortikultura. “Kehadiran UPJA Tani Mandiri menciptakan kesempatan kerja bagi pemuda dan para penggerak di desa. Dengan mengoptimalkan penggunaan Alsintan prapanen, panen dan pasca panen untuk mendapatkan keuntungan baik di dalam maupun di luar kelompok,” katanya. PSP