Cerdik Sehat Ajak Masyarakat Gunakan Kemasan Bebas BPA

0
473
ilustrasi kemasan makanan [cerdik sehat]

Cerdik Sehat organisasi yang peduli dan fokus pada kesehatan, mengajak masyarakat menggunakan kemasan bebas BPA (Bisphenol-A).

BPA merupakan zat kimia yang sering digunakan dalam banyak produk plastik.

BPA sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari seperti wadah atau kemasan plastik, botol bayi, mainan anak-anak dan masih banyak lainnya.

“Sebagai organisasi yang peduli pada kesehatan, kami ingin terus mengajak masyarakat untuk cerdik menjalani kehidupan, salah satunya dengan menjaga kesehatan,” kata Made Lidya Metasari selaku Founder Cerdik Sehat, diskusi Webinar, kemarin

Menurut dia, ada banyak hal yang bisa dibahas terkait kesehatan masyarakat, salah satunya adalah hidup sehat bebas BPA.

Hal ini penting namun kurang disadari oleh masyarakat padahal kandungan BPA mungkin saja sering ditemukan dalam peralatan sehari-hari.

“Lewat webinar ini, kami berharap bisa memberikan edukasi dan mensosialisasikan bahaya BPA pada kemasan makanan atau minuman kepada masyarakat,” katanya.

Kotak Makanan

Perlu juga diketahui, BPA adalah monomer yang digunakan dalam pembuatan polikarbonat dan resin epoksi. Polikarbonat dikenal memiliki sifat yang kaku dan transparan.

Berdasarkan sifat bawaannya tersebut, polikarbonat seringkali digunakan sebagai bahan atau wadah yang akan berkontak langsung dengan makanan atau minuman.

Dr. Ing. Azis Boing Sitanggang, S.TP, MSc, pakar teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan polikarbonat biasanya digunakan untuk barang-barang seperti peralatan makan, botol susu bayi, mainan bayi bahkan hingga empeng.

Selain itu, digunakan juga untuk peralatan medis, tinta cetak, CD maupun DVD. Sedangkan paparan BPA paling sering terjadi melalui migrasi dari bahan kemasan yang mengalami kontak langsung dengan makanan.

Dampak BPA dapat dialami oleh semua orang, mulai dari bayi hingga lansia. BPA menjadi zat yang dapat mengganggu sistem endokrin atau hormonal dalam tubuh.

Hal ini memicu adanya perubahan metabolisme tubuh dan berkaitan dengan resiko terjadinya masalah reproduksi, penyakit jantung, kanker, gangguan perilaku pada anak, hiperaktivitas dan gangguan lainnya.

Dokter Spesialis Anak Neonatologist dr. Daulika Yusna, SpA, menyarankan agar para ibu yang memiliki anak balita mulai selektif dalam memilih kemasan makanan dan minuman terutama untuk anak-anak.

Dia menganjurkan untuk menghindari dan mengurangi penggunaan plastik sebisa mungkin. Produk-produk berbahan dasar plastik jika terkena panas atau dicuci berulang kali bisa memicu luruhnya zat kimia yang akan mencemari makanan atau minuman.

“Kita bisa mulai memikirkan alternatif peralatan lain seperti menggunakan bahan kaca, stainless steel atau silicone,” katanya.

Sementara  Dokter Spesialis Kandungan dr. Darrell Fernando, SpOG menambahkan, meskipun  konsumsi BPA dalam dosis tertentu masih aman, namun lebih baik menghindarinya.

Dalam kehamilan, BPA dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan dan gangguan pertumbuhan janin. Tak hanya itu, paparan BPA sejak dalam kandungan dikhawatirkan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak.

Untuk memastikan penggunaan BPA masih dalam batas wajar dan menghindari dampak yang berarti, beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, China dan Indonesia telah menetapkan regulasi mengenai Tolerable Daily Intake (TDI) dan batas Specific Migration Limit (SML).

Sebagai dukungan atas kebijakan TDI dan SML, kini banyak produsen kemasan telah menggunakan alternatif bahan yang lebih aman.

Sudah banyak ditemukan peralatan sehari-hari yang berlabel BPA Free atau Food Grade. Kehadiran label tersebut menandakan bahwa kemasan aman jika harus berkontak langsung dengan makanan atau minuman.

Meski demikian, kemasan-kemasan dengan label tersebut dikatakan masih bisa mengandung zat BPS atau Bisphenol-S yang sama buruknya dengan BPA.

Jamalzen