Peluang Agribisnis Berbasis Limbah Organik Makin Menarik

0
290
Lahan bawang merah yang dibudidayakan secara semi organik di Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri Bantul DIY. Hasil panen rata-rata dia real seluas 95 hektare itu mencapai 12 ton/hektare (ha) atau total 1.140 ton.

Indonesia negara agraris yang luar biasa. Banyak peluang bisnis di sektor ini, seperti Agribisnis Berbasis Limbah Organik (ABLO) yang dimulai dari budidaya jamur yang merupakan pertanian masa depan.

Potensi Indonesia untuk sektor bisnis ABLO cukup besar karena berada pada  tropical basah  yang memiliki suhu tinggi, kelembaban yang tinggi dan  basah.  Di sisi lain, limbah pertanian di negeri ini cukup melimpah.

Kepada Agro Indonesia Prof  Dedi Sujerman, peneliti dan praktisi agribisnis menyatakan, di  Ciamis 20 truk limbah aren setiap hari, limbah sagu  di Papua telah  mencemari sungai dan laut terbesar di dunia. Mengingat, Papua memiliki  5 juta hektar pohon sagu yang belum dimanfaatkan limbahnya.

Menurutnya, saat ini dikenal sebagai  bio ekonomi yakni  pertanian yang  menyertakan semua kehidupan hayati mulai mikro bakteri, cacing, micelium hal ini terjadi karena revolusi hijau yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian justru menyebabkan tanah menjadi kering.

 Produksi dalam bidang pertanian terpadu pada hakekatnya adalah memanfaatkan seluruh potensi energi sehingga dapat dipanen secara seimbang. Agar proses pemanfaatan tersebut dapat terjadi secara efektif dan efisien, maka sebaiknya produksi  pertanian terpadu berada dalam suatu kawasan.

Dedi Sujerman menuturkan, ABLO merupakan teknologi tepat guna yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi pangan (protein & karbohidrat). Teknologi ABLO bisa melipatgandakan produksi pangan secara signifikan. Salah satu caranya melalui pemanfaatan limbah organik aren yang saat ini begitu melimpah di wilayah Kabupaten Ciamis.

“Bila limbah organik aren yang ada di Kabupaten Ciamis ditangani dengan baik, maka akan menghasilkan manfaat bagi kehidupan. Selain menjaga lingkungan, penanganan serta pemanfaatan limbah organik aren juga bisa menjadi sumber pangan,” katanya.

Dedi menjelaskan, saat ini produksi pangan mengalami berbagai macam kendala yang salah satunya disebabkan oleh adanya perubahan iklim. Parahnya lagi, perubahan iklim tersebut tidak menunjang terhadap proses pertumbuhan tanaman pangan. Imbasnya, kondisi ini justru berpotensi menurunkan produksi pangan,

Selain itu, Dedi mengungkapkan, luas lahan pertanian produktif di wilayah Jawa Barat saat ini semakin berkurang. Hal itu disebabkan karena konversi lahan besar-besaran untuk keperluan pembangunan jalan, pemukiman, mall dan industri. Dan sayangnya, kondisi itu tidak dibarengi dengan perluasan tanah pertanian produktif di luar Jawa.

Dedi menambahkan, revolusi hijau yang siterapkan pemerintah dengan penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus dilakukan juga mengakibatkan kondisi unsur hara di dalam tanah menjadi jenuh. Alhasil,  upaya peningkatan produksi pangan yang dicanangkan oleh pemerintah menjadi terganggu.

“Akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan, predator hama tanaman juga ikut mati, sedangkan hama tanaman justru tumbuh lagi,” ujarnya.

Solusinya, kata Dedi, perlu upaya pengadaan protein dan karbohidrat yang lebih intens untuk meningkatan kebutuhan produksi pangan. Teknologi ABLO menjadi salah satu metoda yang cukup efektif sebagai jalan keluar dari persoalan tersebut.

Dedi berharap, pemerintah dan stakeholder yang ada di Kabupaten Ciamis dapat memanfaatkan rekayasa teknologi ABLO untuk mempercepat serta menggandakan produksi pangan. Dan setelah nanti diterapkan, pemanfaatan teknologi ABLO ini juga diyakini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Shanty