Aktor Tingkat Tapak Pacu Rehabilitasi Hutan

0
334
Diskusi Pojok Iklim

Aktor di tingkat tapak seperti penyuluh dan masyarakat berperan besar memacu aksi rehabilitasi hutan dan lahan.

Aksi tersebut berdampak positif pada pemulihan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim sekaligus menggerakan ekonomi di tingkat lokal.

Demikian terungkap saat diskusi virtual Pojok Iklim, Rabu (13/1/2021). Hadir pada diskusi tersebut penyuluh kehutanan Endang Mustinah dan Yohan Surtiani, Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung Lampung Idi Bantara, dan praktisi kehutanan yang membangun hutan rakyat Muswir Ayub. Diskusi dipandu oleh Sekjen Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (Ipkindo) Hendro Asmoro.

Muswir Ayub berhasil membangun hutan di lahan milik di tengah kota Depok seluas 0,5 hektare. Dia mulai membangun hutan pada tahun 2006 dengan menanam 1.000 pohon gaharu.

“Di lokasi itu kini telah ada lebih dari 40 jenis pohon, termasuk merbau, agathis, bahkan mangrove,” katanya.

Hutan yang dibangun Ayub berhasil menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk. Hutan itu juga menjadi sumber benih untuk kegiatan rehabilitasi di lokasi lain.

Hutan kota yang lebat yang dibangun Ayub kini juga menjadi magnet bagi sejumlah pihak sebagai tempat penelitian dan berbagi informasi.

Penyuluh kehutanan Yohan Surtiani mengungkapkan, tantangan dalam pengelolaan hutan semakin tinggi seiring dengan adanya tekanan penduduk. Untuk itu, penyuluh perlu mengubah mindset dari sekadar menyampaikan materi edukasi tentang pentingnya hutan lestari menjadi fasilitator, inovator, edukator motivator, dan dinamisator.

“Penyuluh harus bisa mengembangkan skill kelompok tani binaan dan menjadi agen perubahan,” katanya.

Tujuannya mendorong masyarakat binaan agar tetap mengelola hutan dan lahan secara berkelanjutan. Menurut Yohan, pola agroforestry dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan di bawah tegakan bisa mendukung hutan tetap lestari sekaligus menyokong produksi pangan atau komoditas produktif lain yang bernilai ekonomi tinggi.

Yohan berhasil memfasilitasi sejumlah kelompk tani hutan (KTH) binaannya menjadi mitra perusahaan besar.

Memanfaatkan lahan di bawah tegakan, KTH binaan Yohan memproduksi jahe dan daun sembung yang dimanfaatkan industri jamu.

Petani binaan Yohan bisa mengantongi puluhan juta Rupiah sekali pengiriman pengiriman komoditas tersebut.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sarwono Kusumaatmadja menyatakan, aktor di tingkat tapak seperti penyuluh, masyarakat, pemerintah lokal, semakin diakui perannya dalam pengendalian perubahan iklim.

“Penggiat agroforestry ini semakin penting dan menjadi tren ke depan. Sasarannya dua hal, ketahanan pangan dan pengendalian perubahan iklim,” katanya.

Sugiharto