Cerpelai Kena Corona?

0
406
Cerpelai [Foto: Derek Naulls, Pixabay]

Oleh: Ida Lestari dan Irene Linda (Bekerja di Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian)

Tidak ada seorangpun yang dapat memprediksi kapan pandemi virus Corona yang sudah melanda dunia sejak Maret 2020 akan berakhir. Yang jelas kita semua sudah harus mulai belajar hidup berdampingan dengan sang virus Corona, yaitu dengan cara mengubah perilaku kita sebelumnya yang mungkin cuek seenaknya menjadi perilaku hidup yang lebih memperhatikan kebersihan dengan protokol kesehatan.

Kita kembali diingatkan untuk berperilaku bersih seperti rajin mencuci tangan, menjaga jarak antar manusia dan hewan serta sedapat mungkin tidak absen dalam menggunakan masker dengan harapan sang virus Corona enggan mendekati kita.

Terkait virus Corona, banyak pertanyaan yang timbul dengan virus tersebut yaitu apakah kita yang pertama kali terkena virus Corona dahulu lalu dapat menularkan penyakit atau virus ini ke hewan kesayangan di sekitar kita, atau dapatkah hewan kesayangan sekitar kita berpotensi menularkan virus Corona kepada kita?

Bagi penduduk perkotaan juga di Indonesia, umumnya hewan kesayangan yang di pelihara di rumah adalah anjing dan kucing yang kerap sudah dianggap sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga mereka. Mereka diberi nama sesuai dengan sifat mereka, diberi makanan teratur, diberi tempat istirahat yang nyaman serta diperhatikan kebersihannya.

Mengingat kedekatan mereka, apakah mereka juga bisa menularkan penyakit Corona atau kita yang menularkan penyakit Corona kepada mereka?

Walau kasusnya sangat jarang/kecil sekali namun pernah ada laporan kucing di Belgia dan anjing jenis Pomerian umur 17 tahun di Hongkong serta harimau betina Malaya umur 4 tahun (di Kebun Binatang Bronx AS) dinyatakan positif mengidap Covid-19 yang diduga ditularkan dari manusia/pemilik hewan tersebut yang terinfeksi virus Covid-19.

Hewan-hewan tersebut hanya memperlihatkan beberapa gejala seperti nafsu makan turun dan batuk kering namun pada akhirnya semua hewan tadi dinyatakan negatif dan masih dalam kondisi sehat dan tidak menularkan penyakit ini ke hewan lain atau ke manusia, kecuali anjing Pomerian karena usia sudah sangat tua (17 tahun) dimana rata-rata umur anjing adalah 8 – 12 tahun.

Bagaimana penyakit ini bisa ditularkan dari manusia ke hewan? Sampai saat ini ilmuwan di seluruh dunia terus mencari tahu rahasia ini.

Sejak jaman dahulu sejatinya virus Corona sudah ada pada hewan ternak (sapi, babi dan ayam) serta hewan peliharaan (anjing dan kucing) namun bukan termasuk Novel Corona Virus atau dikenal COVID-19 yang menyerang pada manusia saat ini. Virus Corona pada hewan adalah α (alpha) dan β (beta) Corona virus yang bersifat patogenik pada mamalia, sedangkan ɣ (gamma) dan ȡ (delta) Corona virus biasanya menjangkit pada hewan unggas, dimana agen penyakit ini berkaitan dengan saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Untuk hewan kucing virus Corona ini dikenal dengan nama FECV (Feline Enteric Coronavirus): dan FIP (Feline infectious Peritonitis). Sementara untuk anjing dikenal dengan nama CE-Cov (Canine Enteric Corona virus): yaitu virus yang sama pada musang dan kucing serta CR-Cov (Canine Respiratory Corona Virus).

Di Kuala Lumpur hewan trenggiling pernah “dicurigai” berada dalam mata rantai penularan virus Corona pada manusia. Diperkirakan dimulai dari seekor kelelawar yang terbang dan menjatuhkan kotorannya ke tanah. Seperti diketahui hewan kelelawar dipercaya sebagai hewan yang menjadi tempat (reservoir) berbagai macam virus walau kelelawar itu sendiri tidak terkena penyakitnya. Kemudian kemungkinan kotoran kelelawar ini ini terambil oleh hewan liar (trenggiling) yang sedang mencari serangga, dan trenggiling tersebut ditangkap manusia sehingga terpapar virus itu, dan kemungkinan menularkannya kepada pekerja di pasar hewan liar (pasar khusus menjual daging satwa liar) sehingga terjadilah wabah virus Corona yang kini mengglobal.

Sebenarnya “tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan/hewan liar secara langsung dapat menularkan virus kepada pemiliknya/manusia dan jalur penularan manusia ke hewan peliharaan bukanlah rute penyebaran yang signifikan. Dengan kata lain tidak ada satu kasus pun dari infeksi Covid-19 pada manusia disebabkan oleh anjing/kucing/harimau.

Namun demikian, untuk memberi perlindungan kesehatan baik bagi diri kita sendiri sebagai manusia maupun bagi hewan sekitar kita, kewaspadaan tetaplah harus dijaga dengan membiasakan diri selalu mencuci tangan sebelum maupun sesudah kontak dengan hewan. Pasalnya,  bulu hewan bisa membawa virus untuk sementara waktu jika hewan peliharaan itu berkontak dengan seseorang yang sakit.

Dari berbagai “penularan virus Corona” manusia ke hewan, saat ini sedang ramai dibicarakan kemungkinan virus Corona juga dapat menginfeksi hewan cerpelai. Setidaknya ada enam Negara yang sudah melaporkan kasus penularan di peternakan cerpelai di Denmark, Spanyol, Swedia, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasikan adanya mutasi ‘Cluster 5’ di hewan cerpelai yang terjadi di 6 Negara tersebut. Dikhawatirkan mutasi “Cluster 5” ini dapat mempengaruhi efektivitas dan kemanjuran vaksin yang saat ini sedang dikembangkan dimana “Cluster 5” ini bisa menjadi pandemik yang mengancam kesehatan masyarakat dunia.

Seperti diketahui cerpelai di Negara-negara tersebur biasanya dimanfaatkan bulunya, khususnya Denmark yang merupakan produsen bulu cerpelai terbesar di dunia.

Cerpelai juga merupakan hewan nocturnal (aktif di malam hari) yang menyukai daerah yang memiliki aliran air seperti sungai kecil. Jenis cerpelai di dunia ini banyak jenisnya karena mereka mudah beradaptasi dan ditemukan di dekat rawa-rawa, tepi sungai, hutan tepi pantai dan bahkan padang rumput di belahan Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia Timur dan Tengah serta Afrika dan Australia.

Cerpelai yang terlihat mirip musang adalah sub-species yang berbeda dimana cerpelai terlihat memiliki tubuh lebih panjang dan terlihat imut dan hidup dekat sumber air sementara musang hidupnya dapat dimana saja dan lebih betah di lahan-lahan pertanian. Cerpelai termasuk mamalia yang walaupun terlihat sebagai hewan yang lucu dengan warna bulu putih, coklat atau kelabu, namun sejatinya mereka adalah predator bagi katak, tikus, telur burung bahkan kelinci yang banyak ditemukan di daratan Amerika dan Eropa.

Di Selandia Baru, hewan ini bahkan dianggap membahayakan bagi kehidupan alam liar endemik asli di sana karena mereka dapat memangsa burung kiwi, sehingga pemerintah setempat berencana membasmi hewan ini dan predator lainnya tahun 2050.

Adanya mutasi “Cluster 5” di peternakan cerpelai, membuat Pemerintah Denmark berencana memusnahkan 17 juta cerpelai. Sementara di Spanyol, telah memusnahkan 100.000 cerpelai pada bulan Juli 2020 setelah ditemukan kasus virus yang bermutasi ini. Selain itu puluhan ribu cerpelai juga telah disembelih di Belanda menyusul wabah pada peternakan cerpelai di sana.

Penelitian masih dan terus dilakukan, mengenai bagaimana dan kenapa cerpelai bisa terinfeksi dan menyebarkan virus. Dengan kasus ini, cerpelai dianggap sebagai risiko kesehatan khususnya bagi manusia mengingat kemungkinan penularan dari hewan ke manusia atau sebaliknya tak bisa diabaikan dan bahkan harus “menjadi perhatian”.

Sejatinya mutasi virus di alam persada ini adalah dapat normal terjadi. Kita (manusia)-lah yang harus mengantisipasi agar mutasi ini tidak terjadi. Layaknya manusia/hewan yang akan mempertahankan hidup kita/mereka ketika kita/hewan diusik kehidupannya. Demikian juga dengan virus yang akan terusik bila “keberadaannya” diganggu dengan cara melakukan mutasi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup virus ini. Oleh sebab itu salah satu opsi terkait pencegahan meluasnya penyebaran penyakit adalah dengan melakukan bio-sekuriti pada peternakan cerpelai.

Hindari masuknya penyakit dengan melakukan disinfeksi peternakan (baik bagi pekerja, peralatan-kandang dan hewan itu sendiri). Bagi hewan yang sudah terkena serta tidak dapat disembuhkan tidak ada jalan lain kecuali dengan memusnahkan mereka. Mungkin terlihat tidak memihak pada peri kehewanan/kesejahteraan hewan, namun kesejahteraan manusia tetap harus di nomor satukan.

Sebenarnya apakah cerpelai ada di Indonesia? Di Indonesia, cerpelai kerap disebut sugar glider atau nama ilmiahnya adalah Mustela sp yaitu hewan yang mirip tupai dan masih kerabat dekat dengan luak atau musang atau berang-berang. Biasanya kita dapatkan dari impor asal luar negeri yang diperlakukan sebagai hewan kesayangan namun jumlahnya sangat sedikit sekali, karena harganya yang sangat mahal, itupun hanya dapat dilakukan bagi mereka yang memiliki dana lebih sebagai koleksi hewan kesayangan.

Dinyatakan habitat asli cerpelai di Indonesia dapat ditemukan di daerah Indonesia Timur seperti Papua, Halmahera dan Maluku, namun apakah sama spesiesnya dengan cerpelai di daratan Amerika dan Eropa? Mengingat sub-spesies cerpelai di dunia ini sangat banyak. Sehingga kemungkinan terjadinya infeksi “Cluster 5” di Indonesia sangat kecil sekali.

Jika memang cerpelai positif dapat menularkan COVID-19 ke manusia, maka harus ada solusi agar cerpelai juga mendapatkan pengobatan dan anti-virusnya. Hingga saat ini, peneliti dan para ahli masih meneliti dan membuat studi akan hal ini.

Di lain pihak ternyata diketahui siklus hidup cerpelai di Eropa berjalan sangat lambat dan mungkin suatu saat malah akan mengalami kepunahan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam penelitiannya terhadap varian spesifik virus ini menyatakan “sangat normal” bagi virus untuk berubah secara genetik berkali-kali. Sehingga pelacakan perubahan genetik virus terus diperhatikan dalam upaya mengendalikan pandemi Covid-19 di dunia ini agar tidak menambah kerumitan pemberantasannya.

Kita bersyukur dengan kecanggihan dunia informasi teknologi yang dapat menginformasikan kejadian adanya penyakit baru di suatu Negara. Juga semakin banyak dan pandainya ahli epidemilogi dan virologi dalam meneliti kasus Corona ini.

Selain itu kita juga bersyukur bahwa kita tidak memiliki cerpelai dalam suatu peternakan untuk di ambil bulunya, kalaupun ada di Papua, Halmahera dan Maluku, apakah sama dengan cerpelai yang di daratan Amerika dan Eropa yang hidup khusus di dekat aliran sungai serta digunakan bulunya untuk industri bulu hewan.

Namun demikian kita tetap harus berjaga-jaga/meningkatkan kewaspadaan dengan adanya informasi Negara lain yang kena dampak penyakit dari cerpelai ini agar mutasi “Cluster 5” ini juga jangan sampai masuk ke wilayah Indonesia, baik lewat manusia, produk bulu cerpelai maupun importasi cerpelai dari Luar Negeri.

Untungnya bila benar, kita pernah memasukkan cerpelai dari Luar Negeri itupun sebatas hitungan jari dan bukan untuk dikembang-biakkan seperti halnya kucing dan anjing ras yang sudah menjamur di Indonesia. Kewaspadaan tetap terus dijaga dengan melakukan protokol kesehatan bagi diri sendiri, lingkungan sekitar kita dan tentunya bagi hewan kesayangan kita.