Mentan Syahrul Optimis Food Estate Kalteng Sukses

0
178

Kegiatan pembangunan food estate atau lumbung pangan yang berada di kawasan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memasuki panen. Dengan kata lain, proyek ini akan memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pangan nasional.

“Kami optimistis food estate bisa sukses. Beberapa lokasi sudah mulai panen,” kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, di Gedung DPR/MPR, Jakarta, pekan lalu.

Pengembangan food estate di Kalteng direncanakan seluas 30.000 hektare (ha). Khusus untuk Kabupaten Pulang Pisau, areal yang sudah ada seluas 10.000 ha. Hingga saat ini sudah dilaksanakan olah tanah seluas 9.837 ha, dan yang sudah ditanam seluas 8.838 ha.

Syahrul menyebutkan, food estate di Kalteng memang berbeda dengan kawasan lain, seperti Aceh maupun Jawa. Mayoritas kawasan food estate berupa lahan rawa, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaannya.

Syahrul membantah jika program ini disebut gagal. “Mana bisa disebut gagal kalau panen saja baru mau dimulai,” tegasnya. Pernyataan ini dikuatkan Suprapto,  Kepala Desa Gedabung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Dia mengatakan, seluruh area food estate yang masuk wilayah desanya, saat ini dalam kondisi siap panen.

“Jadi, tidak ada penurunan (produksi), apalagi kegagalan. Belum panen kok dikatakan gagal, kan lucu. Kalau lihat di lapangan, tidak ada potensi gagal panen,” ujar Suprapto ketika ditemui di Blok D Kanan Jalur 2 Food Estate Pulang Pisau, Rabu (3/2/2021).

Menurut Suprapto, para petani di desanya justru akan segera menggelar panen raya pada minggu kedua dan ketiga Februari 2021, dengan perkiraan produktivitas mencapai 6 ton/hektare (ha).

“Perkiraan kami produksinya 6 ton/ha. Kami mewakili masyarakat Desa Gadabung mengucapkan terima kasih atas adanya program food estate ini. Sebab, saya yakin program ini menjadikan desa kami lebih baik dan sejahtera,” katanya.

Suprapto berharap Desa Gadabung mampu memberi kontribusi besar terhadap jalannya pembangunan pertanian nasional, utamanya dalam memenuhi kebutuhan pangan di Kalimantan melalui program food estate. “Saya berharap Kalteng bisa menghasilkan beras unggul dan berkualitas untuk menopang pangan nasional,” katanya.

Saat ini, setidaknya areal food estate seluas 1.212 ha di Desa Gadabung dalam kondisi siap panen. Areal itu menggunakan benih padi varietas impara.

Produksi meningkat

Program lumbung pangan ini juga membuat Watinah (39) sangat senang. Sebab, hasil produksi pertaniannya berpotensi meningkat hingga 6 ton/ha. Angka tersebut jauh lebih besar ketimbang garapan sawah sebelum intervensi pemerintah melalui program jangka panjang food estate di Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng.

“Program food estate mengubah cara bertani model lama, untuk kemudian menerapkan pertanian model baru. Alhamdulillah hasilnya bisa 6 ton/ha,” tutur Watinah di area food estate Blok B Desa Gadabung, Pulang Pisau,  Kamis (4/2/2021).

Menurut Watinah, program food estate memiliki potensi dan peluang yang sangat besar, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan. Peluang tersebut bisa dilihat dari tingginya jumlah produksi, sampai penggunaan teknologi dan mekanisasi. “Peluangnya sangat besar sekali, karena benih yang ditanam adalah benih unggul,” katanya.

Watinah mengatakan, saat ini dia bersama suaminya mengelola areal sawah seluas 7 ha dan 1 ha tanaman kebun. Semuanya dikerjakan Watinah dengan mesin pertanian, seperti penggunaan mesin panen (combine harvester) dan mesin pencacah padi lainya.

“Kalau bibit, kami menggunakan hibrida. Tapi kalau menggarap sawah, kami menggunakan mesin-mesin canggih,” katanya bangga.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Kalimantan Tengah, Syamsuddin mengatakan, pengelolaan food estate di Kalteng memang dilakukan dengan intervensi teknologi.

Sistem informasi pemantauan panen dan cuaca yang digunakan Kementan telah terhubung langsung dengan pusat data Agriculture War Room (AWR) dan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani).

Alhamdulillah kalau kita perhatikan dari database, sebelum program ini dimulai produksinya hanya 3,5-4 ton. Tapi setelah kita intervensi, hasilnya rata-rata dapat mencapai 5 sampai 6 ton. Secara umum ini hasil sangat bagus,” katanya.

Menurut Syamsuddin, di rumah petani di sekitar lahan food estate pun ketertarikan petani menggunakan alat dan mesin pertanian (Alsintan) meningkat. Tak heran, kini banyak Alsintan muncul di halaman rumah petani di Belanti Siam maupun Gedabung.

“Hebatnya, mereka memiliki sendiri. Ada yang dibantu KUR, ada juga yang beli langsung. Ini tanda bahwa pertanian modern dan maju mulai diadaptasi dengan baik di sini,” papar Syamsuddin.

Panen raya

Syamsuddin mengatakan, pengembangan food estate di kawasan Center of Excellent Pulang Pisau, Kalteng menunjukan hasil positif. “Saat ini, kami sedang mempersiapkan panen raya,” katanya.

Dia menegaskan, pihaknya juga sudah melihat kondisi lahan dan pertanaman, sehingga memang benar-benar siap dilakukan dalam waktu dekat. Mengenai hasil panen, Syamsuddin menyampaikkan, produktivitas yang diperoleh sangat beragam. Namun, pada prinsipnya, produksi yang dihasilkan sekitar 4-6 ton/ha.

Terkait program food estate yang mengalami kemajuan pesat, Kepala Dinas Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti mengucapkan terima kasih atas dukungan dan perhatian pemerintah pusat, terutama Kementerian Pertanian (Kementan) yang terus mendampingi dan membantu para petani dalam berproduksi.

“Kita akan dampingi terus para petani agar melakukan budidaya dengan cara yang modern. Misalnya, ke depan tidak lagi melakukan tabur benih dengan cara manual karena akan mempengaruhi pertumbuhan,” katanya.

Mentan Syahrul menegaskan berkomitmen untuk terus melakukan pengembangan food estate sebagai upaya memenuhi cadangan pangan nasional. Food and Agriculture Organization (FAO) pada awal pandemi mengingatkan potensi krisis pangan yang bisa melanda dunia.

“Kita memang akan terus melakukan tambahan-tambahan untuk terus membenahi apa yang ada di sana. Food estate bisa menjadi jawaban sehingga cadangan kita bisa terpenuhi,” katanya.

Food estate yang saat ini dikembangkan oleh Kementan bersama sejumlah kementerian/lembaga lain berbasis korporasi pertanian. Dengan konsep ini, pemerintah bisa lebih mudah memfasilitasi bantuan pembiayaan maupun memasifkan mekanisasi.

“Kalau kita korporasikan, kita bisa melakukan intervensi KUR (kredit usaha rakyat, Red.). Di sini tidak single commodity, tapi kita juga bawa komoditas perkebunan dan hortikultura,” katanya.

Strategis dan prospektif

Di kesempatan terpisah, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy menilai, pengembangan lahan rawa sebagai lahan pangan masa kini dan masa depan sangat prospektif dan strategis.

“Ini berguna untuk mendukung ketahanan pangan, mengingat pertambahan jumlah penduduk yang sangat cepat di satu sisi, dan di sisi lain lahan pertanian banyak yang beralih fungsi,” ujarnya.

Saat ini, sambung Sarwo, kontribusi produksi pertanian lahan rawa pada pangsa produksi pangan nasional masih rendah karena terkendala kondisi lahan yang masih marjinal, tata kelola air yang perlu diperbaiki, budaya lokal, serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola lahan pertanian.

“Maka pengembangan kawasan tanaman pangan skala luas (food estate) di lahan rawa Kalteng merupakan upaya terobosan peningkatan produksi pangan dan stok cadangan pangan nasional terutama untuk mengantisipasi dampak pandemi COVID-19,” papar Sarwo.

Sebagai informasi, pengembangan kawasan food estate di Lahan Rawa Kalteng dilaksanakan pada pengembangan komoditas utama (padi) melalui pola intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. Pengembangan ini sejalan dengan pengembangan komoditas pendukung hortikultura, peternakan, dan perkebunan pada area food estate.

Selain itu, pengembangan didasarkan pula pada pilot percontohan pengembangan pertanian modern. Dalam hal ini, penguatan kelembagaan tani diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem pengelolaan hulu sampai hilir berbasiskan koorporasi petani.

“Dukungan dari lintas kementerian atau lembaga terkait berupa kebijakan pengembangan infrastruktur, penyiapan SDM di lokasi, serta pengelolaan dan pemasaran hasil, sangat diperlukan dalam pengembangan food estate ini,” katanya. PSP/Jamalzen