Hindari Kerugian Akibat Bencana Alam

* Kementan Gencarkan Sosialisasi AUTP

0
296

Kementerian Pertanian (Kementan) masih gencar mensosialisasikan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Apalagi, sekarang ini cuaca ekstrem berpotensi mengakibatkan banjir atau bencana alam lainnya.

Untuk menghindari kerugian petani, sudah waktunya petani ikut program asuransi. Pemerintah juga memberikan subsidi untuk premi, yang seharusnya dibayar Rp180.000/hektare (ha), petani cukup banyar Rp36.000/ha dengan klaim Rp 6 juta.

“Asuransi pertanian sangat diperlukan untuk menanggulangi kerugian sektor pertanian bila disebabkan faktor alam, seperti cuaca,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di Jakarta, Senin (22/2/2021).

Direktur Jenderal Prasana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, asuransi pertanian adalah sarana bagi petani yang mengalami puso akibat bencana alam untuk bangkit kembali memulai usaha mereka karena dengan  asuransi petani dapat ganti rugi.

Menurut Sarwo Edhy, AUTP sangatlah penting bagi petani, utamanya menghadapi musim hujan seperti saat ini. Jadi, sayang sekali jika petani tidak mau ikut dalam asuransi ini.

“Preminya murah karena dapat subsidi dari pemerintah. Hanya Rp36.000/ha dari aslinya Rp180.000/ha. Sayang sekali kalau petani tidak ikut karena jika mereka gagal panen, kan ada uang yang akan cair sebesar Rp6 juta/ha. Ini kan sangat membantu petani,” tegasnya.

Untuk lebih meningkatkan pelayanan dan sosialisasi AUTP kepada petani, Sarwo Edhy menyarankan agar Jasindo sebagai rekanan  AUTP ini membuka anak cabang di daerah-daerah yang rawan banjir area sawahnya. “Salah satu alasannya, selama ini kan kantor cabangnya baru ada di kota-kota besar. Jadi, memang cukup jauh. Saya rasa kalau ada anak cabang di daerah akan lebih mudah baik sosialisasi maupun pelayanan,” katanya.

Menurut dia, jika petani atau kelompok tani yang di awal musim telah terdaftar dalam program AUTP bisa mengajukan klaim saat padinya puso atau gagal panen akibat bencana kebanjiran atau kekeringan. “Saat ini baru untuk komoditas padi. Klaimnya sebesar Rp6 juta/ha. Jadi, sayang kalau petani di Lebak ini belum terdaftar dalam program AUTP ini,” ucapnya.

Siapkan Paket Bantuan

Sementara di Pekalongan, Jawa Tengah dilaporkan hujan deras yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan lahan sawah seluas 267 ha di Pekalongan terendam banjir. Hal ini membuat petani terpaksa menunda kegiatan usah taninya hingga dipastikan cuaca memungkinkan.

Syahrul Yasin Limpo mengatakan, perubahan iklim yang kian sulit ditebak menjadi tantangan dalam usaha tani. Apalagi pertanian merupakan kegiatan yang tergantung fenomena alam, sehingga diperlukan tindakan yang cermat dalam menghadapinya.

“Saat musim kemarau, petani harus dapat mengantisipasi agar tidak terjadi kekeringan. Begitu juga saat musim penghujan, banjir bisa mengancam. Fenomena alam ini dapat dihadapi jika prasarana dan sarana siap serta sesuai,” katanya.

Agar semangat petani tidak padam, Kementan mendorong petani ikut asuransi pertanian AUTP. Bahkan, guna memberikan kemudahan petani, pemerintah memberikan subsidi premi sebesar 80%.

“Asuransi pertanian merupakan bentuk upaya pemerintah melindungi petani dari kerugian gagal panen akibat bencana alam, wabah penyakit hewan menular, perubahan iklim, dan jenis risiko lain yang telah ditetapakan. Jadi, asuransi pertanian ini pada dasarnya membantu petani apabila terjadi kegagalan,”ucapnya.

Sarwo Edhy mengatakan, kementerian siap membantu menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi daerah-daerah terdampak kekeringan atau kebanjiran dengan menyediakan paket bantuan kepada petani.

“Pertama adalah pompanisasi dan pipanisasi. Bantuan tersebut digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang ada, baik dari sungai maupun mata air. Pompa juga untuk menguras air yang menggenangi sawah akibat banjir,” ujar Sarwo Edhy.

Selain bantuan mitigasi, petani diimbau untuk ikut program AUTP. Dengan asuransi ini, jika ada lahan padinya mengalami kekeringan hingga 70% akan dapat ganti rugi sebesar Rp6 juta/ha/musim tanam. “Sehingga petani tidak perlu lagi was-was mengalami gagal panen atau gagal tanam karena kekeringan atau kebanjiran. Karena dari klaim bisa jadi modal menanam kembali,” tambahnya.

Kepala Seksi Produksi Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Muhammad Sobirin mengatakan, posisi lahan pertanian di daerah ini lebih rendah dari jalan sehingga ketika banjir tidak sampai menimbulkan genangan berhari-hari karena air cepat meresap.

“Kendati demikian, bencana ini belum sampai merugikan para petani karena air cepat meresap sehingga tidak sampai menimbulkan tanaman padi rusak,” kata Sobirin.

Sebanyak 267 ha yang terdampak banjir tersebut terdiri dari 57 ha di Kecamatan Pekalongan Barat, 50 ha (Kecamatan Utara), 73 ha (Pekalongan Timur), dan 88 ha di Kecamatan Pekalongan Selatan.

Dia mengatakan, semestinya para petani memasuki musim tanam padi. Tetapi dengan kondisi curah hujan yang relatif cukup besar maka mereka menunda bercocok tanam. “Februari 2021 ini seharusnya waktu penanaman. Akan tetapi di setiap lokasi berbeda, ada yang pembibitan, penyemaian, penanaman, dan lainnya,” ujarnya.

Sobirin mengatakan, pihaknya sedang menugaskan tim lapangan untuk memantau banjir dan melakukan pendataan.  “Hal ini sekaligus sebagai antisipasi cuaca ekstrem yang mungkin dapat membuat lahan sawah terendam banjir lagi,” ungkapnya. PSP

Peternak Sapi Lampung Minati AUTS/K

Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau (AUTS/K) ternyata diminati peternak sapi di Provinsi Lampung, terutama di Kabupaten Pringsewu. Sampai saat ini, sedikitnya sudah 1.020 ekor sapi dan kerbau sudah ikut asuransi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, program asuransi itu tujuannya melindung peternak dari kerugian akibat kematian ternak. Program AUTS/K bertujuan untuk mengamankan indukan yang selama ini banyak dipotong. Apalagi, pemerintah sudah membuat peraturan pelarangan pemotongan betina produktif.

“Jadi, yang kita targetkan adalah komoditas yang mudah terkena risiko, yaitu sapi betina agar tetap dipertahankan untuk berkembang biak,” katanya, Selasa (23/2/2021).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Sarwo Edhy juga meminta Pemda mendorong peternak sapi agar mengasuransikan ternaknya. Bila perlu, peternak mendapat bantuan asuransi ternak melalui dana APBD.

“Ada keuntungan bagi peternak yang mengikuti program ini. Bila terjadi sesuatu pada hewan ternak yang diusahakan, seperti mati atau hilang karena tindak kriminal seperti pencurian, peternak akan menerima klaim uang pertanggungan (UP) sebesar Rp10 juta/ekor,” ujarnya.

Ajakan Pemda ini disambut baik peternak, sehingga setiap tahun target selalu tercapai, bahkan melampaui. Diharapkan, target tahun ini bisa tercapai dengan baik juga. “Pemerintah pun terus berupaya memperbaiki sistem, sehingga peternak atau petani lebih gampang ikut program asuransi,” katanya.

Kadis Pertanian dan Peternakan Pringsewu, Siti Litawati menjelaskan, pihaknya terus mendorong peternak untuk mengasuransikan ternaknya. Sebab, dengan begitu akan menolong peternak jika terkena musibah seperti sakit, mati atau hilang. “Saat ini terdapat 1.020 ekor sapi dan kerbau dari target 622 ekor. Jadi, ada kenaikan cukup besar sekitar 150%,” ujarnya.

Kendati telah melebihi target, kata dia, potensi ternak yang dapat diasuransikan bisa mencapai 13.000 ekor. Menurutnya, premi peserta asuransi sebesar Rp200.000/ekor, tetapi pemerintah mensubsidi Rp160.000, sehingga peternak hanya membayar Rp40.000/ekor.

“Nilai itu untuk asuransi betina. Bagi yang ingin mengasuransikan sapi/kerbau jantan tetap bayar utuh sebesar Rp200.000,” ujarnya.

Sementara itu, klaim asuransi akan disesuaikan dengan situasi lapangan. Seperti ternak sakit hingga mati mendapat klaim Rp10 juta, tetapi kalau sakit lalu sempat dipotong dapat klaim Rp5 juta. Sedangkan ternak hilang mendapat bantuan Rp7 juta. PSP