KLHK Latih Petani-Pedamping Perhutanan Sosial Kelola Sampah

0
368
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petani dan Pendamping Perhutanan Sosial Pada Pola Padat karya dan Pelatihan Pengelolaan Sampah di Bank Sampah Secara Elektronik/E-Learning tahun 2021.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menggelar pelatihan daring (online) bagi petani dan pendamping perhutanan sosial untuk mengelola sampah. Sebuah bentuk harmonis tiga program pembangunan sektor lingkungan hidup dan kehutanan.

Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Namun bangsa ini tak pernah menyerah. Produktivitas terus digenjot dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Termasuk untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Seperti yang dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pelatihan bagi masyarakat maupun aparatur sipil Negara, terus dilakukan dengan memperbanyak penerapan metode E-learning memanfaatkan jaringan internet.

Terbaru, BP2SDM KLHK berkolaborasi dengan dua direktorat jenderal (ditjen) KLHK lain yaitu Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) dan Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3) untuk menggelar pelatihan Peningkatan Kapasitas Petani dan Pendamping Perhutanan Sosial Pada Pola Padat karya dan Pelatihan Pengelolaan Sampah di Bank Sampah Secara Elektronik/E-Learning tahun 2021.

Pelatihan yang dibuka 23 Februari 2021 akan berlangsung sampai akhir April 2021 dan menargetkan untuk melibatkan 7.200 peserta.

Dalam sambutannya pada pembukaan pelatihan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Helmi Basalamah menegaskan manfaat pelaksanaan pelatihan menggunakan pola padat karya dan E-learning.

“Kolaborasi antara E-learning dan pola padat karya adalah salah satu upaya untuk tetap meningkatkan pengetahuan dan ekonomi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini,” ujar Helmi.

Helmi menuturkan, pelatihan peningkatan kapasitas SDM tahun ini menyambung pelatihan serupa pada tahu 2020 lalu. Peningkatan kapasitas SDM diharapkan bisa mendukung pencapaian tujuan pembangunan khususnya bidang lingkungan hidup dan kehutanan untuk program Perhutanan Sosial dan Pengelolaan Sampah.

Menurut Helmi, pelatihan dilakukan dengan metode pelatihan jarak jauh secara elektronik/E-Learning dengan harapan bisa menjangkau cakupan yang lebih luas kepada masyarakat sampai di pelosok negeri.

“Pelatihan dengan metode E-Learning ini sangat cocok digunakan mengingat nature wilayah kerja dan stakeholders bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sangat tersebar dan umumnya remote menuntut pola kerja yang mampu menembus semuanya dengan efektif dan efisien,” katanya.

Helmi menjelaskan kegiatan yang diselenggarakan kali ini merupakan kolaborasi 3 program di Kementerian LHK yaitu Program Perhutanan Sosial, Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas SDM. Ketiga program itu diampu oleh Ditjen PSKL, Ditjen PSLB3 dan BP2SDM.

“Melalui pelatihan ini semoga dapat mendorong untuk membuka lapangan kerja bagi keluarga-keluarga, terutama yang kehilangan penghasilan atau pekerjaan,” katanya.

Sementara program perhutanan sosial diharapkan dapat menjawab tantangan pembangunan dalam menambah serapan tenaga kerja, mengurangi kemiskinan, serta akses kelola yang mengaitkan produksi barang dan jasa kehutanan sebagai komponen pertumbuhan ekonomi produktif oleh masyarakat, serta meningkatkan optimalisasi pemanfaatan kawasan.

“Saya mengingatkan juga bahwa pencapaian kualitas hasil pelatihan membutuhkan sinergi positif dari 3 pilar utama pelatihan yaitu peserta, pengajar/tutor, dan panitia penyelenggara. Oleh karena itu kerja sama yang baik dari ketiganya perlu terus dibina dan ditingkatkan,” tegas Helmi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Helmi Basalamah

Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian LHK, Bambang Supriyanto menyatakan hal senada. Menurut dia, dengan pelatihan dan peningkatan kapasitas SDM maka masyarakat diharapkan bisa memiliki kemampuan untuk memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya.

“Dengan adanya pelatihan program padat karya, masyarakat akan mendapatkan manfaat secara langsung sehingga membantu perputaran uang di tingkat tapak dan tujuan pelatihan dapat dicapai,” kata Bambang.

Sampah sebagai bahan baku ekonomi

Sementara itu Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Rosa Vivien Ratnawati pelatihan SDM kali ini merupakan bentuk perwujudkan komitmen Kementerian LHK dalam pengelolaan sampah agar masyarakat dapat mengelola sampah terpilah menjadi bahan baku daur ulang.

“Pelatihan Pengelolaan Sampah di Bank Sampah merupakan wujud nyata dari pelaksanaan komitmen tersebut,” kata Vivien.

Pelatihan kali ini juga diselenggarakan dalam rangka mendukung peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh setiap 21 Februari.

“Melalui prinsip reduce, reuse dan recycle atau 3R, sampah rumah menjadi alternatif yang benilai ekonomi yang tidak hanya menjanjikan secara finansial, tetapi juga utamanya bagi lingkungan kita,” tambah Vivien.

Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) diperingati pada 21 Februari tiap tahunnya. Selama 5 tahun terakhir, HPSN menjadi momentum untuk membangun kesadaran publik dalam upaya-upaya pengurangan sampah. Upaya tersebut ternyata membuahkan hasil yang sangat positif.

“HPSN 2021 harus menjadi babak baru pengelolaan sampah di Indonesia, dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi Indonesia,” ujar Vivien.

Vivien menyampaikan sudah saatnya platform HPSN digeser ke upaya-upaya penanganan sampah yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dilakukan melalui pengembangan sektor usaha pengumpulan dan pengangkutan sampah, industri alat dan mesin pengolah sampah, industri daur ulang, industri komposting dan biogas, serta industri sampah menjadi energi alternatif.

“Memanfaatkan momentum positif tersebut, maka HPSN 2021 dijadikan platform untuk memperkuat posisi sektor pengelolaan sampah sebagai pendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia sekaligus sebagai perwujudan dari salah satu prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan, yaitu waste to resource melalui pelaksanaan ekonomi sirkular (circular economy) dan sampah menjadi sumber energi,” katanya.

Hal tersebut didukung data terkini, dimana pengelolaan sampah termasuk salah satu sektor usaha yang tahan banting (resilient) selama pandemi COVID-19. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia kuartal III 2020 pada 5 November 2020, sektor ini justru mengalami pertumbuhan positif. Sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, dan limbah merupakan sektor yang tumbuh sangat tinggi, yaitu 6,04%.

AI